Apakah Pemindaian Dengan CT Scan dan Rontgen Aman untuk Anak-anak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 09/01/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anak-anak memang rentan dengan cedera dan sakit. Ada kalanya orangtua yang merasa khawatir akhirnya memutuskan melakukan tes pencitraan untuk anak, seperti CT scan atau rontgen (dengan sinar X) untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak menggunakan tes pencitraan dapat meningkatkan risiko kanker pada anak. Lalu, apakah anak boleh melakukan tes pencitraan? Simak ulasannya berikut ini.

Benarkah tes pencitraan meningkatkan risiko kanker pada anak?

Dilanisr dari WebMD, sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang telah melakukan CT scan lebih dari tiga kali berisiko mengalami tumor otak atau leukemia. Namun, penelitian tersebut masih kontroversial. Pasalnya, butuh radiasi yang cukup besar untuk mengembangkan tumor otak atau leukimia pada anak-anak.

Bila hanya lebih dari tiga kali atau tiga kali lipatnya, berarti radiasnya masih rendah untuk dapat memicu kanker. Dengan kata lain, para ahli memperkirakan perlu 10.000 kali CT scan sehingga bisa menyebabkan terjadinya kanker. Walaupun radiasinya sangat kecil untuk meningkatkan kanker, terlalu sering melakukan tes pencitraan tentu akan menyebabkan efek samping di kemudian hari.

Kebutuhan tes pencitraan untuk anak

Tes pencitraan untuk anak memang sangat membantu dokter untuk mendiagnosis suatu penyakit. Apalagi anak sering kesulitan menyampaikan apa saja yang dirasakannya ketika mengalami cedera. Walaupun penelitian mengenai tes pencitraan dapat meningkatkan kanker belum terbukti benar dan membuat Anda khawatir, langkah bijak yang dapat Anda lakukan sebagai orangtua adalah jangan memaksakan anak untuk melakukan tes pencitraan bila tidak dibutuhkan.

Tubuh anak memang peka terhadap radiasi dan terlalu banyak radiasi pada anak tentu tidak baik di kemudian hari. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa tidak semua penyakit atau cedera pada anak memerlukan tes pencitraan. Jadi, orangtua harus berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter apakah sang anak memang membutuhkan tes pencitraan atau tidak.

kanker pnet

Apa yang bisa dilakukan orangtua bila anak harus menjalani tes pencitraan?

Ada beberapa penyakit atau cedera pada anak yang memerlukan tes pencitraan, misalnya trauma pada kepala akibat jatuh atau pukulan, sakit kepala kronis, terjadi kejang, juga mendiagnosis adanya usus buntu. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, dokter tetap membutukan tes pencitraan.

Bila dokter mengharuskan anak untuk melakukan tes pencitraan, Anda tidak perlu khawatir. Memilih rumah sakit anak dan melakukan tes pencitraan di rumah sakit tersebut aman untuk anak. Sebab rumah sakit telah menyesuaikan dosis radiasi yang rendah pada mesin pemindaian untuk ukuran anak-anak.

Anda perlu meminta pertimbangan dokter terlebih dahulu, mana tes pencitraan yang sebaiknya dilakukan oleh anak. Sebab CT scan memiliki radiasi yang lebih tinggi daripada rontgen dengan sinar X. Walaupun demikian, dosis radiasi pada keduanya pasti disesuaikan dengan dosis anak.

Anda juga bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepada dokter bila Anda masih kurang yakin dengan keamanan anak jika melakukan tes pencitraan. Kemudian, simpan catatan atau hasil pemindaian yang dilakukan oleh anak. Hal ini memungkinkan anak tidak perlu melakukan tes pencitraan ulang dalam waktu yang singkat.

Kemudian, mencegah terjadinya cedera atau luka pada anak tentu akan mengurangi kemungkinan anak untuk melakukan tes pencitraan. Sebaiknya Anda tetap mengawasi anak ketika bermain dan rutin melakukan pengecekan kesehatan anak sebagai deteksi dini bila anak memiliki suatu penyakit.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Membentak anak dapat memberikan dampak yang buruk. Apa akibat dari anak terlalu sering dibentak dan apa yang harus dilakukan orangtua?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Parenting, Tips Parenting 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit

4 Penyebab Kanker Kembali Lagi Setelah Sembuh

Setelah melakukan pengobatan yang cukup panjang dan kanker dinyatakan sembuh, rasanya sangat melegakan. Namun, bagaimana kalau kanker kembali muncul?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Hidup Sehat, Tips Sehat 21/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
ruam susu bayi

Berbagai Cara Mudah Mengatasi Ruam Susu Pada Bayi ASI Eksklusif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
pelukan bayi perkembangan bayi 14 minggu perkembangan bayi 3 bulan 2 minggu

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit