Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jangan Asal Main! Ini 5 Tips Aman Main Mandi Bola yang Perlu Diketahui Ortu

Jangan Asal Main! Ini 5 Tips Aman Main Mandi Bola yang Perlu Diketahui Ortu

Kolam mandi bola di mall atau taman bermain bisa jadi surganya anak kecil. Buah hati Anda mungkin akan kegirangan ketika meluncur dari perosotan dan “menyelam dalam tumpukan bola-bola plastik berwarna-warni. Namun, tahukah Anda bahwa kolam bola ini ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tak boleh disepelekan?

Kolam bola adalah sarang bakteri

Kolam bola sebenarnya merupakan tempat paling kotor yang juga menjadi sarang bakteri. Banyaknya orang yang keluar-masuk di area tersebut mungkin saja membawa kuman penyakit yang tidak pernah Anda ketahui sebelumnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari StemProtect.co.uk menunjukkan bahwa terdapat banyak kotoran yang tersebar luas di tempat mandi bola. Menurut beberapa pekerja di Inggris yang dilibatkan dalam penelitian tersebut, banyak anak-anak yang tidak sengaja muntah, pipis, hingga bahkan buang air besar ketika sedang bermain mandi bola.

Tak hanya itu, makanan atau minuman yang berceceran di juga membuat area tersebut semakin kotor. Kabar buruknya, upaya pembersihan secara intensif dari pihak pengelola termasuk sangat jarang dilakukan.

Hal ini dibenarkan oleh Dr Kelly Reynolds, Profesor Kesehatan Masyarat dari University of Arizona College. Mengutip laman Parents, Dr Reynolds mengatakan bahwa kolam bola yang ada di playground restoran cepat saji, gym, atau tempat umum lainnya jarang dibersihkan. Akibatnya, sangat memungkinkan area tersebut dipenuhi oleh berbagai bakteri yang berbahaya.

Main mandi bola juga bisa picu alergi lateks

Dikutip dari laman WebMD, beberapa anak ada juga yang dapat mengalami reaksi alergi parah akibat lateks yang digunakan pada matras (bantalan busa) di kolam bola. Ya, para ahli mengatakan bahwa bagi anak-anak yang memang memiliki riwayat alergi lateks, lapisan lateks pada matras itulah yang bisa berisiko jadi masalah.

Menurut pakar alergi dari Pusat Medis New York University, Dr Clifford Bassett, alergi lateks bisa sangat serius. Pada kasus yang awal mungkin kulitnya hanya mengalami ruam kemerahan. Namun, dalam kasus yang parah, anak bisa mengalami reaksi anafilaksis yang mengancam nyawa.

Dr Bassett menambahkan, orangtua diminta waspada terhadap tanda-tanda reaksi alergi pada anak setelah mereka bermain mandi bola. Apabila si kecil memang sudah memiliki alergi lateks bawaan, sebaiknya hindari bermain mandi bola sama sekali.

Tips aman main mandi bola untuk si kecil

Sebagai orangtua, Anda perlu cermat dan teliti ketika ingin mengajak si kecil bermain di playground alias area bermain khusus anak-anak. Terutama jika ia meminta mandi bola. Nah, untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk seperti yang sudah dijelaskan di atas, berikut beberapa tips aman mengajak anak bermain di kolam bola:

1. Lihat kebersihan area bermain

Sebelum menginzinkan anak masuk ke dalam area bermain, pastikan Anda melakukan inspeksi kebersihan terlebih dahulu. Lihatlah kebersihan area permainan itu secara keseluruhan, mulai dari kondisi bola-bolanya, matras, hingga ada tidaknya sampah di sekitar area permainan. Jika area permainan berbau tidak sedap, bola dan matras terlihat sangat kotor, serta banyak sampah berserakan, maka sebaiknya hindari mengajak anak bermain di situ.

Untuk memastikan kebersihan area tersebut, Anda juga bisa bertanya langsung kepada petugas atau pengelola yang berada di lokasi. Tanyakan pada petugas seberapa sering area permainan dibersihkan dan apakah area tersebut disemprot antikuman setiap hari atau tidak. Dua pertanyaan ini penting untuk dikulik demi kenyamanan dan keamanan si kecil bermain di area tersebut.

Jika disebutkan bahwa kolam mandi bola tidak dibersihkan setiap hari, sebaiknya Anda berpikir ulang untuk mengajak si kecil bermain di situ.

2. Temani si kecil saat bermain

Balita tentu senang ketika tahu mereka akan diajak ke playground untuk bermain mandi bola. Namun, jangan pernah biarkan mereka bermain sendiri. Anda harus menjaga dan mengawasinya selama bermain mandi bola. Anda bisa ikut masuk ke dalam area untuk memegangi si kecil agar ia tidak terjatuh ketika berjalan dan tertimbun bola saat turun dari perosotan.

Berapa playground biasanya menyantumkan aturan bahwa anak balita harus didampingi orang dewasa ketika bermain.

3. Jangan bermain ketika ramai pengunjung

Sebaiknya Anda tidak memilih playground yang sedang ramai pengunjung. Pasalnya, banyaknya orang di area tersebut dapat meningkatkan risiko anak jatuh dan tertimbun di dalam bola. Ya, ketika area bermain dipenuhi oleh banyak orang, maka ruang gerak anak jadi terbatas. Akibatnya, anak bisa saja saling berbenturan dengan anak-anak lainnya.

Dalam banyak kasus, risiko kecelakan saat mandi bola terjadi ketika anak berdiri di bawah perosotan saat ada anak lain yang meluncur dengan kecepatan tinggi. Maka dari itu, mintalah si kecil untuk menghindari berdiri tepat di bawah perosotan ketika ada anak lain yang ingin meluncur.

4. Lepas semua aksesoris dan benda lain dari tubuh anak

Pihak pengelola area biasanya akan meminta setiap anak yang ingin bermain mandi bola untuk melepaskan sepatu dan menggunakan kaus kaki khusus. Selain itu, jangan lupa untuk melepaskan semua aksesoris dan perhiasaan yang melekat di tubuh anak, sekaligus benda yang ada di dalam sakunya.

Benda-benda seperti jepit rambut yang terpasang longgar bisa terlepas dan justru melukai si kecil saat ia saling berbenturan dengan anak lainnya. Tak hanya itu, aksesori seperti kalung juga mungkin saja melilit leher si kecil ketika ia tengah meluncur turun dari perosotan ke dalam kolam bola.

Jadi, pastikan sebelum bermain mandi bola semua aksesoris yang dipakai anak dilepaskan, ya.

5. Ajak anak cuci tangan setelah bermain

Setelah puas bermain, jangan langsung ajak si kecil makan atau pulang. Sebaiknya, ajaklah si kecil ke toilet untuk mencuci tangannya. Apabila lokasi toilet terlalu jauh, Anda bisa mengelap tangan dan wajah si kecil dengan tisu basah setelah itu keringkan menggunakan tisu atau handuk kering.

Bila perlu, Anda bisa memandikan si kecil atau menggantikan baju dan kaos kaki yang sudah dipakainya selama mandi bola. Berbagai hal tersebut dilakukan guna mencegah bakteri menempel di tubuh anak.

Tak hanya saat bermain mandi bola, menjaga kebersihan anak juga mutlak dilakukan setiap kali Anda selesai mengajak si kecil bermain di playground.

Buat kolam bola sendiri di rumah

Ketimbang harus keluar rumah untuk bermain di playground yang berbayar, Anda bisa loh membuat kolam bola sendiri di rumah. Selain lebih aman, mandi bola di rumah tentunya lebih murah.

Untuk membuatnya, Anda membutuhkan kolam renang plastik dan bola plastik ukuran kecil. Anda juga bisa menambahkan air ke dalam kolam plastik agar si kecil bisa sekaligus berenang. Setelah selesai bermain, jangan lupa untuk mencuci bola dan kolam plastik sampai bersih.

Membuat kolam bola sendiri di rumah tentu lebih higienis karena Anda sendirilah yang memastikan kebersihannya.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x