Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Gula Tak Selalu Buruk untuk Tumbuh Kembang Anak, Asal Ortu Tahu Batasnya

Gula Tak Selalu Buruk untuk Tumbuh Kembang Anak, Asal Ortu Tahu Batasnya

Makanan manis atau yang mengandung gula sering dipandang buruk oleh banyak orang, karena katanya bikin gemuk dan diabetes. Makanya banyak orangtua yang melarang anaknya untuk makan makanan manis, sampai mungkin memilihkan produk yang bebas gula untuk mereka. Padahal, gula itu tak selalu berdampak negatif bagi anak. Tubuh manusia pada dasarnya membutuhkan gula untuk mendapatkan energi. Tugas Anda sebagai orangtua hanya perlu untuk membatasi asupan anak agar jangan sampai kebanyakan. Memang, apa sih manfaat asupan gula untuk anak, dan berapa batas aman gula untuk anak?

Sekilas tentang fungsi gula dalam tubuh

Gula atau karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam tubuh. Tanpa adanya gula yang cukup, tubuh akan menggunakan lemak atau protein sebagai energi. Dan, ini tentu tidak baik, dapat mengganggu keseimbangan metabolisme dalam tubuh. Jadi bagaimanapun, Anda sebagai orangtua tetap perlu memberikan gula untuk anak. Gula tetap perlu dikonsumsi anak-anak, tapi perhatikan juga jumlahnya.

Gula yang masuk ke tubuh akan langsung digunakan oleh tubuh dan ada juga yang disimpan tubuh sebagai cadangan energi. Gula disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Glikogen akan digunakan jika diperlukan oleh tubuh. Misalnya, saat cadangan gula darah rendah dalam tubuh, maka glikogen akan digunakan sebagai sumber energi oleh otak.

Tak hanya itu, gula juga bisa diubah menjadi asam amino atau asam lemak. Hal ini bergantung pada kebutuhan tubuh Anda. Misalnya, jika kebutuhan gula sudah tercukupi, maka gula berlebih yang ada di tubuh bisa diubah menjadi asam lemak agar bisa disimpan dalam jaringan lemak. Kelebihan gula juga dipakai untuk memecah asam amino sesuai kebutuhan tubuh.

Ortu harus lebih bijak dalam memilih sumber gula untuk anak

Memang, gula dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, tapi kebanyakan konsumsi gula juga tidak baik bagi anak. Terlalu banyak konsumsi gula atau makanan manis dapat menyebabkan anak menjadi gemuk. Hal ini karena makanan manis cenderung mengandung banyak kalori dan rendah zat gizi. Selain dapat menyebabkan kegemukan, terlalu sering mengonsumsi makanan manis atau gula juga dapat menyebabkan gigi berlubang pada anak.

Untuk itu, Anda perlu memilih sumber gula yang tepat untuk anak. Hal ini membantu mencukupi kebutuhan energinya serta mencegah kenaikan berat badan dan gigi berlubang pada anak. Lalu, sumber gula seperti apa yang baik untuk anak?

  • Pilih gula merah atau madu dibandingkan gula putih untuk memberi rasa manis pada makanan anak. Hal ini karena gula merah dan madu mengandung zat gizi, selain kalori. Sedangkan gula putih hanya mengandung kalori tanpa zat gizi. Gula merah mengandung klorin, zat besi, kalium, natrium. Sementara madu mengandung beberapa vitamin dan mineral, termasuk zat besi.
  • Berikan buah dibandingkan kue manis atau biskuit manis untuk makanan selingan anak. Buah bisa menjadi sumber gula yang baik untuk anak. Ditambah lagi, buah juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan anak.
  • Hanya berikan makanan manis yang disukai anak pada kesempatan tertentu, jangan setiap hari. Misalnya, hanya memberikan cokelat, permen, donat, atau makanan manis lainnya pada hari libur saja. Hal ini dilakukan agar anak tidak terbiasa mengonsumsi banyak makanan manis.

Batasan penambahan gula pada makanan anak

Dilansir dari Live Science, American Heart Association merekomendasikan agar anak usia 2-18 tahun mengonsumsi gula tambahan tidak lebih dari 6 sendok teh atau 25 gram per hari. Jumlah ini setara dengan 100 kalori.

Untuk anak usia di bawah 2 tahun, American Heart Association merekomendasikan agar mereka tidak diberikan tambahan gula. Tambahan gula pada makanan anak di bawah usia 2 tahun dapat menjadikan anak “ketagihan” gula. Anda mungkin bisa menambahkan buah sebagai pengganti gula untuk memberi rasa manis pada makanan anak.

Tak hanya pada makanan, pembatasan tambahan gula juga sebaiknya juga dilakukan pada minuman. Anak usia 2-18 tahun sebaiknya membatasi konsumsi minuman manis tidak lebih dari satu gelas atau 240 ml per minggu, berdasarkan rekomendasi American Heart Association. Minuman manis yang dimaksud di sini seperti minuman bersoda, minuman berenergi, teh manis, dan minuman jus dalam kemasan.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Annigan, J. (2013). Uses & Functions of Sugar in Body Metabolism. [online] LIVESTRONG.COM. Available at: http://www.livestrong.com/article/508169-uses-functions-of-sugar-in-body-metabolism/ [Accessed 8 Sep. 2017].

Baby Center India. (2014). Sugar and sweets in your child’s diet. [online] BabyCenter. Available at: https://www.babycenter.in/a25007443/sugar-and-sweets-in-your-childs-diet [Accessed 8 Sep. 2017].

Nierenberg, C. (2016). Not So Sweet: New Sugar Limits for Kids Announced. [online] Live Science. Available at: https://www.livescience.com/55843-new-sugar-limits-for-kids-announced.html [Accessed 8 Sep. 2017].


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 12/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri