Daftar Obat yang Efek Sampingnya Membuat Tubuh Goyah dan Mudah Jatuh

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

    Minum obat adalah solusi termudah dan tercepat ketika Anda sakit. Meski begitu, obat-obatan baik yang pakai resep dokter atau dijual bebas di toko obat pasti memiliki efek sampingnya masing-masing. Beberapa obat bisa menyebabkan tubuh gemetaran atau tremor, gampang goyah dan linglung sulit seimbang, hingga mudah jatuh bahkan pingsan. Apa saja obat tersebut? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

    Berbagai jenis obat yang menimbulkan efek samping mudah jatuh

    Keluhan tubuh yang tiba-tiba gemetaran atau gampang goyah seringnya muncul setelah minum kopi atau minuman berkafein lainnya, terutama pada orang yang pencernaannya sensitif. Kelebihan kafein dalam tubuh merangsang sistem saraf bekerja terlalu aktif sehingga menjadi tidak seimbang.

    Namun jika Anda merasa lemas, goyah, merasa pusing berputar, hingga merasa mudah jatuh tapi tidak minum kopi, mungkin ini merupakan efek samping obat yang Anda minum.

    Berikut ini adalah daftar obat yang bisa memicu gangguan keseimbangan pada tubuh, di antaranya:

    1. Antidepresan

    Antidepresan paling umum

    Beberapa jenis antidepresan memiliki efek samping tubuh tremor atau gemetar. Salah satunya adalah selective serotonin re-uptakes inhibitors (SSRIs). Dilansir dari Verywell, sebanyak 20 persen pasien yang mengonsumsi SSRI mengalami tremor dan gangguan keseimbangan sesaat setelah minum obat.

    SSRI bekerja mengatur hormon serotonin, suatu zat kimia di dalam otak yang berperan untuk memperbaiki mood dan siklus tidur. Inilah yang menyebabkan beberapa orang menjadi mudah lelah dan mudah jatuh 8 sampai 10 jam pertama setelah minum obat SSRI.

    Faktanya, wanita lebih mudah depresi dibandingkan pria. Menurut para ahli, hal ini disebabkan oleh perubahan hormon dan tingkat aktivitas yang lebih tinggi, sehingga wanita jadi lebih mudah stres. Itulah mengapa wanita berisiko dua kali lebih mungkin untuk mengonsumsi obat antidepresan, seperti disebutkan oleh National Center for Health Statistics.

    2. Antihistamin

    obat flu

    Obat flu dan alergi pada umumnya termasuk golongan antihistamin yang membuat Anda cepat mengantuk.

    Pada dasarnya, histamin bermanfaat untuk membantu fungsi otak bekerja secara normal. Ketika Anda minum obat antihistamin, gejala flu memang akan berkurang secara perlahan. Namun pada saat yang bersamaan, fungsi normal otak menjadi terhambat akibat pengaruh antihistamin.

    Itu sebabnya minum obat flu bisa membuat tubuh lemas dan mudah goyah karena Anda lebih mudah mengantuk.

    Kalau Anda takut mengantuk pada siang hari dan berisiko menghambat aktivitas Anda, minumlah obat flu atau antihistamin lainnya di malam hari. Pasalnya, selain meredakan gejala flu dan alergi, hal ini juga bisa membuat Anda lebih mudah dan cepat tertidur. Alhasil, tubuh jadi lebih stabil dan lebih aman dari risiko jatuh.

    3. Obat hipertensi

    obat hipertensi, obat tekanan darah tinggi

    Sebuah studi yang diterbitkan pada JAMA Internal Medicine tahun 2014, lansia yang mengonsumsi obat hipertensi mengalami peningkatan risiko mudah jatuh hingga cedera serius hingga 30 sampai 40 persen. Pasalnya, obat penurun tekanan darah memiliki efek samping pusing bahkan pingsan – terlebih jika seseorang tiba-tiba berdiri setelah duduk.

    Obat hipertensi yang mengandung beta-blocker dapat menghambat produksi adrenalin, hormon yang menyebabkan jantung berdebar dengan cepat. Ketika denyut jantung melambat, aliran darah ke seluruh tubuh ikut menurun sehingga membuat tekanan darah rendah (hipotensi). Ini sebabnya, orang yang minum obat hipertensi menjadi lebih mudah lelah, pusing, dan mengalami gangguan keseimbangan.

    Untuk mengatasinya, dokter biasanya meresepkan inhibitor ACE yang berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah. Dengan demikian, aliran darah menjadi lebih lancar dan mengurangi gejala pusing akibat tekanan darah rendah.

    4. Benzodiazepines

    obat pereda nyeri tingkatkan risiko stroke

    Benzodiazepine adalah jenis obat yang umum diresepkan untuk mengobati kecemasan. Menurut Nancy Simpkins, MD, seorang ahli kesehatan wanita di Livingston, benzodiazepine memberikan efek samping utama berupa kelelahan.

    Obat benzodiazepine bekerja dengan mengikat reseptor di otak yang melepaskan zat kimia bernama GABA. Ketika GABA dilepaskan, otak dan tubuh cenderung lebih rileks dan tenang sehingga mengurangi gejala kecemasan. Namun secara bersamaan, pelepasan GABA tersebut juga membuat Anda menjadi lebih mudah mengantuk atau bahkan cepat tertidur.

    Jika Anda butuh obat anticemas di saat-saat genting, misalnya saat harus mempersiapkan presentasi atau ujian, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan benzodiazepine yang dosisnya lebih rendah.

    Jangan ubah dosis sembarangan

    Untuk menentukan apakah gangguan keseimbangan Anda benar disebabkan oleh efek samping obat atau karena hal lainnya, konsultasikan dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan melihat riwayat kesehatan Anda, termasuk jenis obat yang sedang Anda konsumsi. Seluruh informasi ini sudah cukup untuk menentukan apakah obat tersebut memang menjadi penyebab gangguan keseimbangan yang Anda alami.

    Nah, apabila Anda diresepkan obat-obatan di atas oleh dokter tapi takut mengalami efek samping kegoyahan dan mudah jatuh, konsultasikan ke dokter untuk kemungkinan menurunkan dosis atau mengganti jenis obatnya. Jangan mengubah dosis tanpa sepengetahuan dokter karena hal ini justru bisa berbalik merugikan kesehatan Anda.

    Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

    Was this article helpful for you ?
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Waspada Bahaya Infeksi Telinga Akibat Pakai Earphone Saat Tidur

    Banyak orang yang tak bisa lepas dari musik dalam hidupnya, bahkan sampai keterusan pakai earphone saat tidur. Tapi awas bahayanya bagi pendengaran Anda.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Thendy Foraldy
    Kesehatan THT, Gangguan Telinga 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

    Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

    Banyak orang yang mengonsumsi obat penambah tinggi badan yang dianggap bisa membuat mereka tinggi. Tapi, benarkah klain tersebut?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Kesehatan, Informasi Kesehatan 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Kenapa Biasanya Luka Terasa Gatal Kalau Mau Sembuh?

    Mitosnya, kondisi luka gatal pertanda mau sembuh. Benarkah demikian? Mari simak tentang fakta luka pada artikel berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

    Benarkah Wanita Berbulu Lebat Nafsu Seksnya Tinggi?

    Yang jelas, bulu alias rambut halus yang lebat ini diakibatkan tingginya hormon testosteron. Tapi apakah ini berarti nafsu seksualnya juga lebih tinggi?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Satria Perdana
    Kesehatan Seksual, Tips Seks 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    minyak daun basil

    5 Khasiat Minyak Daun Basil untuk Kesehatan Tubuh

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 4 menit
    kutu bulu mata

    Sering Tidak Disadari, Bulu Mata Juga Bisa Kutuan! Apa Gejalanya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
    Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
    alat reproduksi wanita

    Mengenal Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
    gula darah turun

    Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
    Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit