Apa itu Ammonium Chloride?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Nama Generik: Ammonium Chloride (Amonium Klorida) Merek: ammonium chloride / amonium klorida, Ammonium Chloride (Amonium Klorida), Ammonium Chloride (Amonium Klorida) dan Ammonium Chloride (Amonium Klorida).

Penggunaan

Apa fungsi amonium klorida (ammonium chloride)?

Amonium klorida (ammonium chloride) adalah obat yang digunakan sebagai bagian dari pengobatan pasien dengan kondisi hipokloremia, kondisi di mana tubuh mengeluarkan klorida dalam jumlah besar melalui keringat, muntahan, serta adanya masalah kelenjar adrenal dan penyakit ginjal. 

Selain itu, obat ini juga bisa digunakan untuk mengobati alkalosis metabolik, kondisi saat tubuh kehilangan terlalu banyak asam sehingga membuat pH tubuh tidak seimbang dan membuat darah menjadi basa.

Dalam pengobatan kedua penyakit tersebut, ammonium chloride hanya boleh digunakan jika telah diencerkan ke dalam isotonik natrium klorida dengan volume besar, yang nantinya disuntikkan ke dalam tubuh penderita.

Bagaimana cara penggunaan amonium klorida (ammonium chloride)?

Gunakan obat ini sesuai dengan instruksi dan saran dari dokter Anda. Baca dan pahami segala informasi yang diberikan mengenai ammonium chloride untuk menghindari kesalahan pengobatan.

Injeksi ammonium chloride, USP, diberikan secara intravena dan harus diencerkan sebelum digunakan. Larutan untuk infus intravena tidak boleh melebihi konsentrasi 1% hingga 2% dari ammonium chloride.

Setelah diencerkan, obat ini tidak bisa langsung digunakan, melainkan diberi jarak beberapa lama untuk penggunaan yang lebih aman dan efektif.

Bagaimana cara kerja amonium klorida (ammonium chloride)?

Ammonium chloride adalah obat elektrolit yang biasanya digunakan untuk meningkatkan kadar asam dalam tubuh dengan menaikkan jumlah ion hidrogen.

Jadi sebenarnya ginjal akan menggunakan amonium sebagai pengannti natrium dalam tubuh. Amonium ini bekerja dengan cara mengikat anion supaya pH tubuh normal, tidak terlalu basa ataupun asam.

Ketika seseorang mengalami metabolisme alkalosis, tubuh kehilangan ion hidrogen dan klorida. Kondisi ini akhirnya membuat pH tubuh terlampau basa, sehingga pasien membutuhkan amonium ekstra untuk menambah kadar asam.

Obat ini diserap dengan cepat oleh saluran pencernaan setelah dikonsumsi melalui mulut. Kemudian, dimetabolisme pada hati untuk membentuk urea dan asam hidroklorik. Lalu, obat akan dikeluarkan dari tubuh melalui urine.

Bagaimana cara menyimpan amonium klorida (ammonium chloride)?

Umumnya, obat-obatan paling baik disimpan pada suhu ruangan, jauh dari paparan sinar cahaya dan juga udara lembab. Sebaiknya, obat tidak disimpan di dalam kamar mandi ataupun dibekukan. 

Jika obat ini diletakkan pada suhu rendah, konsentrasi dari ammonium chloride dapat mengkristal. Jika sudah demikian, obat harus segera dihangatkan pada suhu ruangan.

Pastikan obat ini tersimpan dan tertutup rapat. Jika terdapat obat pada wadah yang sudah terbuka, buang  obat yang ada di dalamnya.

Merek berbeda dari obat yang sama mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda-beda. Pastikan Anda selalu membaca instruksi penyimpanan yang terdapat pada kemasan obat atau tanyakan kepada apoteker. 

Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan. Jangan menyiram obat-obatan ke dalam toilet atau ke saluran pembuangan kecuali bila diinstruksikan.

Buang obat-obatan bila masa berlakunya telah habis atau bila sudah tidak diperlukan lagi. Konsultasikan kepada apoteker atau instansi pembuangan sampah setempat mengenai bagaimana cara yang aman untuk membuang produk obat-obatan.

Dosis

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti dari nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter atau apoteker Anda sebelum memulai pengobatan.

Bagaimana dosis amonium klorida (ammonium chloride) untuk orang dewasa?

Melalui intravena

Dosis ammonium chloride yang digunakan tergantung dengan kondisi dan toleransi tubuh pasien terhadap obat. Dosis mungkin juga ditentukan berdasarkan kadar kombinasi karbon dioksida dan klorida yang hilang.

Larutan amonium klorida harus diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Direkomendasikan untuk mengencerkan 1-2 vial (100-200 mEq) ke dalam 500 atau 1000 mL  o,9% injeksi natrium klorida sebelum disuntikkan kepada pasien.

Pada orang dewasa, dosis yang digunakan untuk infus intravena sebaiknya tidak melebihi 5 mL per menit. Sehingga, kurang lebih dosis obat yang digunakan selama tiga jam adalah 1000 mL. Awasi dosis dengan mengecek kadar bikarbonat serum secara berulang.

Penyuntikan obat melalui intravena harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan iritasi pada area kulit di sekitar lokasi suntikan dan menghindari efek keracunan yang mungkin terjadi jika dilakukan dengan tergesa-gesa atau kurang hati-hati.

Partikel-partikel dalam obat ini harus diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan, apakah terjadi perubahan warna sebelum penggunaan.

Selain itu, waktu penggunaan obat juga harus diperhatikan demi menghindari interaksi dengan obat lain. Sebab, interaksi antara obat ini dengan antalgin ternyata tidak cocok.

Bagaimana dosis amonium klorida (ammonium chloride) untuk anak-anak?

Dosis ammonium chloride untuk anak belum ditentukan. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Dalam dosis apakah amonium klorida (ammonium chloride) tersedia?

Injeksi ammonium chloride, USP, tersedia dalam satu dosis penggunaan (20 mL) dalam wadah plastik tertutup.

Efek Samping

Efek samping apa yang dapat dialami karena amonium klorida (ammonium chloride)?

Penggunaan ammonium chloride menimbulkan beberapa efek samping. Meski tidak ketahui seberapa besar kemungkinan efek samping muncul, berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin muncul:

  • Asidosis metabolik, atau kondisi asam-basa tubuh bergeser ke sisi asam
  • EEG abnormal. EEG adalah electroenchepalograph, adalah alat yang berfungsi untuk membaca aktivitas listrik di otak. Jika hasil EGG abnormal, maka grafik aktivitas listrik menunjukkan gelombang tak normal.
  • Rasa ngantuk yang berkelanjutan
  • Gejala keracunan ammonia
  • Tetani yang disebabkan kekurangan kalsium. Tetani adalah sekelompok gejala yang biasanya ditandai oleh kram otot, kejang, atau tremor.
  • Hipokalemia, yaitu kondisi saat kadar kalium di dalam aliran darah berada di bawah batas normal.
  • Hiperkloremia, yaitu kondisi saat kadar klorida pada tubuh melebihi jumlah yang dibutuhkan.
  • Rasa sakit dan iritasi pada lokasi injeksi atau sepanjang rute vena jika laju infus terlalu cepat
  • Ruam
  • Kejang
  • Demam
  • Nyeri perut
  • Sakit kepala
  • Kebingungan mental, di mana Anda merasa bingung dengan pikiran Anda sendiri
  • Hiperventilasi, yaitu kondisi saat seseorang bernapas dalam-dalam dengan cepat
  • Bradikardia dan fase kegembiraan bergantian dengan koma.

Oleh sebab itu, pasien yang menggunakan obat ini harus diperiksa secara berkala apakah mengalami efek samping dari penggunaan obat seperti yang telah disebutkan.

Namun, tidak semua orang yang mengonsumsi ammonium chloride mengalami efek samping yang disebutkan di atas. Mungkin ada beberapa efek samping yang justru muncul namun tidak disebutkan. 

Bila Anda memiliki kekhawatiran mengenai efek samping tertentu, konsultasikanlah pada dokter atau apoteker Anda.

Pencegahan & Peringatan

Apa saja yang harus diketahui sebelum menggunakan amonium klorida ( ammonium chloride)?

Sebelum menggunakan amonium klorida, beri tahu dokter dan apoteker jika Anda:

  • Alergi terhadap obat ini atau zat yang terkandung di dalamnya
  • Alergi terhadap obat-obatan lain, makanan, atau bahan makanan lainnya
  • Alergi serta gejala alergi yang Anda alami seperti gatal, ruam, napas menjadi lebih pendek, batuk, menggigil, pembengkakan pada wajah, bibir dan tenggorokan, atau pertanda alergi lainnya.
  • Sedang menggunakan obat resep dan obat non resep, vitamin, suplemen gizi, dan produk herbal atau akan mengggunakan.
  • Sedang hamil, berencana untuk hamil, atau menyusui.
  • Memiliki penyakit ginjal 
  • Memiliki penyakit jantung
  • Memiliki kadar CO2 tinggi pada tubuh yang disebabkan karena Anda mengalami asidosis pernapasan

Apakah amonium klorida (ammonium chloride) aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Tidak ada penelitian yang memadai mengenai risiko penggunaan obat ini pada ibu hamil atau menyusui. Selalu konsultasikan kepada dokter Anda untuk mempertimbangkan potensi manfaat dan risiko sebelum menggunakan obat ini.

Obat ini termasuk ke dalam risiko kehamilan kategori  C menurut US Food and Drugs Administration (FDA). Berikut referensi kategori risiko kehamilan menurut FDA:

  •      A= Tidak berisiko
  •      B= Tidak berisiko pada beberapa penelitian
  •      C= Mungkin berisiko
  •      D= Ada bukti positif dari risiko
  •      X= Kontraindikasi
  •      N=Tidak diketahui

Penggunaan obat ini tidak disarankan untuk ibu hamil, atau wanita yang berencana untuk hamil. Sebab, tidak diketahui pasti risiko terhadap kehamilan ataupun kapasitas reproduksi wanita. Namun, jika memang harus dikonsumsi, pastikan telah mendiskusikannya dengan dokter serta pastikan pula bahwa manfaat obat lebih besar daripada risiko penggunaannya terhadap ibu dan janin.

Interaksi

Obat lain apa yang mungkin berinteraksi dengan amonium klorida?

Interaksi obat dapat mengubah kinerja obat Anda atau meningkatkan risiko efek samping yang serius. Tidak semua kemungkinan interaksi obat tercantum dalam artikel ini.

Simpan daftar semua produk yang Anda gunakan (termasuk obat-obatan resep/nonresep dan produk herbal) dan konsultasikan pada dokter atau apoteker. Jangan memulai, memberhentikan, atau mengganti dosis obat apapun tanpa persetujuan dokter. 

Ada 126 jenis obat yang dapat berinteraksi dengan ammonium chloride, namun hanya beberapa obat yang paling sering mengalami interaksi dengan obat tersebut, di antaranya adalah:

  • basis vitamin bar (emollients topical)
  • Bisolvon Dry (dextromethorphan)
  • Calcium 600 D (calcium / vitamin d)
  • Chlorpheniramine (Allergy) (chlorpheniramine)
  • Easprin (aspirin)
  • lithium (Lithium Carbonate ER, Lithobid, Eskalith, Eskalith-CR, Lithonate, Lithotabs)
  • Metoprolol Succinate ER (metoprolol)
  • Nicotinamide ZCF (multivitamin with minerals)
  • Omega-3 (omega-3 polyunsaturated fatty acids)
  • Paracetamol (acetaminophen)
  • Vitamin B Complex 100 (multivitamin)
  • Vitamin B Compound Strong (multivitamin)
  • Vitamin B-100 (multivitamin)
  • Vitamin B-100 T / R (multivitamin)
  • Vitamin B-50 (multivitamin)
  • Vitamin B1 (thiamine)
  • Vitamin B12 (cyanocobalamin)
  • Vitamin B2 (riboflavin)
  • Vitamin B6 (pyridoxine)
  • Vitamin D3 (cholecalciferol)
  • Vitamins (multivitamin)

Apakah makanan atau alkohol dapat berinteraksi dengan amonium klorida (ammonium chloride)?

Obat-obatan tertentu tidak boleh digunakan pada saat makan atau saat makan makanan tertentu karena interaksi obat dapat terjadi. Mengonsumsi alkohol atau tembakau dengan obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan interaksi terjadi. Diskusikan penggunaan obat Anda dengan makanan, alkohol, atau tembakau dengan penyedia layanan kesehatan Anda.

Kondisi kesehatan apa yang dapat berinteraksi dengan amonium klorida?

Adanya masalah kesehatan lain di tubuh Anda dapat mempengaruhi penggunaan obat ini. Terdapat dua kondisi kesehatan yang dapat berinteraksi dengan ammonium chloride:

1. Kerusakan fungsi hati

Sebelum menjadi urea, ammonium chloride melalui perubahan senyawa kimia oleh enzim atau mikroba pada hati. Jadi, mau tak mau, ammonium chloride harus masuk ke dalam hati terlebih dahulu.

Pada pasien yang tidak memiliki masalah disfungsi hati, saat tubuh keracunan ammonium, kondisi seperti aritmia, bradikardia, detak jantung tak menentu dapat muncul.

Sementara, masalah yang lebih serius seperti hiperglisemia, glukosaria, asteriksis, kejang tonik, dan tetani karena kekurangan kalsium dapat muncul saat pasien yang memiliki kerusakan fungsi hati keracunan ammonium. Oleh sebab itu, penggunaan ammonium chloride sebaiknya digunakan hanya pada pasein yang hatinya masih berfungsi dengan baik.

2. Kerusakan fungsi ginjal

Penggunaan ammonium chloride pada penderita kerusakan fungsi ginjal sebaiknya digunakan dengan pengawasan dokter, karena obat ini dapat menimbulkan efek samping yang serius pada penderita, seperti hiperkloremia dan asidosis metabolik, yaitu kondisi asam basa bergeser pada sisi asam akibat hilangnya basa dari tubuh.

Ammonium chloride juga tidak seharusnya digunakan sebagai obat tunggal pada pasien yang memiliki masalah kerusakan fungsi ginjal. Khususnya, bagi mereka yang juga telah mengalami alkalosis metabolik, atau kondisi di mana darah menjadi basa karena kadar bikarbonat pada tubuh meningkat.

Hal ini mungkin terjadi jika Anda memuntahkan HCl dan tubuh kehilangan natrium dalam jumlah besar. Natrium klorida atau kombinasi antara natrium klorida dengan ammonium chloride dapat digunakan untuk mengembalikan jumlah natrium dan klorida yang hilang dari tubuh.

Overdosis

Apa yang harus saya lakukan pada keadaan gawat darurat atau overdosis?

Pada kasus gawat darurat atau overdosis, hubungi penyedia layanan gawat darurat lokal (118/119) atau segera ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat.

Gejala overdosis yang mungkin timbul dalam penggunaan ammonium chloride adalah sebagai berikut:

  • Asidosis metabolik. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan alkalinasi (membasakan) seperti menggunakan natrium bikarbonat atau natrium laktat
  • Disorientasi, yaitu kondisi di mana yang mengalami tidak mengenali waktu, lokasi keberadaan, bahkan mungkin juga tidak mengenali dirinya sendiri.
  • Kebingungan
  • Koma

Apa yang harus saya lakukan bila melewatkan satu dosis?

Apabila Anda melupakan satu dosis dari obat ini, gunakan dosis yang terlewat sesegera mungkin. Namun bila sudah mendekati waktu dosis berikutnya, lewati dosis yang terlupakan dan kembali ke jadwal dosis yang biasa.

Jangan memaksakan diri untuk mengonsumsi dosis yang terlewat bersamaan dengan dosis berikutnya. Menggandakan dosis tanpa persetujuan dokter mungkin saja menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, atau pengobatan

Sumber

Direview tanggal: Januari 1, 1970 | Terakhir Diedit: Juli 26, 2019