home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Benarkah Kita Tak Boleh Minum Susu Setelah Makan Ikan?

Benarkah Kita Tak Boleh Minum Susu Setelah Makan Ikan?

Banyak yang percaya kalau setelah makan ikan dilarang minum susu. Katanya, hal tersebut akan membuat Anda keracunan. Bahkan, ada yang takut makan ikan dan minum susu sekaligus, karena tak ingin mengalami masalah kulit seperti gatal-gatal atau memerah. Sebenarnya, apakah tidak boleh minum susu setelah makan ikan? Ataukah hal tersebut hanya sekadar mitos?

Bolehkah minum susu setelah makan ikan?

Pada dasarnya, susu dan ikan adalah sumber protein yang baik bagi tubuh Anda. Protein sendiri dibutuhkan untuk memperbaiki dan membuat jaringan dan sel-sel baru, karena itu zat ini sangat penting.

Lantas, apa hubungannya minum susu dengan makan ikan? Apakah benar bisa menimbulkan gangguan kesehatan tertentu jika dikonsumsi bersamaan? Sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa minum susu setelah makan ikan menimbulkan dampak yang buruk.

Justru sebaliknya, ada beberapa teori yang menyatakan bahwa keduanya bisa saling melengkapi sebagai sumber protein. Bahkan saat ini ada banyak menu makanan yang berbahan dasar ikan sekaligus susu. Tak hanya rasanya yang enak dan lezat, kandungan nutrisinya jadi sangat kaya, penuh dengan protein, mineral, serta vitamin.

Jadi, tak perlu khawatir jika Anda baru saja makan ikan dan kemudian minum susu atau mengonsumsi menu makanan yang mengandung keduanya.

Hati-hati, minum susu dan makan ikan bisa berdampak buruk jika…

Sebenarnya, masalah kulit yang sebelumnya Anda percaya bisa timbul akibat minum susu setelah makan ikan bisa saja terjadi jika Anda memiliki alergi terhadap salah satu bahan makanan tersebut. Jadi, pastikan jika Anda tidak memiliki alergi susu, intoleransi laktosa, atau alergi ikan. Hal ini yang kemudian menimbulkan berbagai gejala dan gangguan kulit.

Selain itu, Anda harus memastikan juga kalau ikan yang Anda konsumsi sudah matang dengan sempurna. Terkadang, proses pengolahan yang tidak diperhatikan bisa membuat ikan kurang matang sempurna.Hal tersebut bisa membuat bakteri dan kuman penyakit yang ada pada ikan belum mati dan hilang sepenuhnya.

Yang terpenting, perhatikan porsi dan waktu konsumsinya

Memang tidak akan muncul gangguan kesehatan apapun jika Anda mengonsumsi keduanya dalam waktu yang bersamaan. Namun, yang harus Anda ingat, susu dan ikan adalah sumber protein. Mungkin kebiasaan minum susu setelah makan besar dengan lauk ikan kurang tepat. Hal itu akan membuat Anda sangat kenyang dan perut terasa penuh. Tentunya, hal ini akan menghambat aktivitas Anda. Jika memang mau minum susu, Anda bisa mengonsumsinya beberapa jam setelah atau sebelum makan.

Lagipula, minum susu bukanlah suatu keharusan. Susu sama saja seperti sumber protein lainnya, jadi jika Anda sudah mengonsumsi lauk protein di setiap waktu makan, Anda tak harus minum susu lagi di hari itu.

Susu bisa Anda andalkan sebagai pengganti sumber protein, misalnya ketika sarapan Anda ingin makan sereal dan menggunakan susu sebagai proteinnya. Kebanyakan susu juga punya kandungan lemak serta gula, yang tak disadari bisa membuat berat badan Anda naik.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

WebMD. (2018). Food Poisoning: What to Know. [online] WebMD. Available at: https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/food-poisoning-causes#1  [Accessed 8 Feb. 2018].

Healthline. (2018). Food Poisoning: Types, Symptoms, & Treatment. [online] Available at: https://www.healthline.com/health/food-poisoning  [Accessed 8 Feb. 2018].

Sharma, B. (2018). What happens if you drink milk after eating fish?. [online] Available at: http://www.thehealthsite.com/fitness/experts-tell-you-why-it-is-safe-to-drink-milk-after-eating-fish-bs1115/  [Accessed 8 Feb. 2018].

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri