home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Merasa Masa PDKT Lebih Indah Ketimbang Pacaran? Ini 5 Alasannya

Merasa Masa PDKT Lebih Indah Ketimbang Pacaran? Ini 5 Alasannya

Banyak orang bilang kalau masa PDKT alias pendekatan, lebih indah dan menantang daripada saat sudah berpacaran. Ini sebabnya, banyak orang yang lebih memilih untuk bertahan di masa PDKT ketimbang melanjutkannya ke hubungan pacaran. Lantas, apa penyebabnya? Cari tahu lewat ulasan berikut ini.

Penyebab masa PDKT lebih menarik daripada hubungan pacaran

Dilansir dari Men’s Health, menurut Damon L.Jacobs, seorang pakar hubungan sekaligus penulis Rational Relating: The Smart Way to Stay Sane in the World of Love, banyak orang yang lebih nyaman berkecimpung di masa PDKT daripada beranjak ke hubungan pacaran. Jacob mengatakan bahwa ada 5 hal penting yang menjadi penyebabnya, di antaranya sebagai berikut:

1. Anda selalu ingin hal baru

Pada awal-awal merasakan jatuh cinta, otak Anda akan melepaskan beberapa zat kimia sekaligus, di antaranya dopamin, adrenalin, epinefrin, dan norepinefrin. Semua hormon tersebut adalah hormon alami yang memicu rasa bahagia dan euforia dalam diri Anda.

Hormon-hormon tersebut kerap bermunculan saat Anda berada di masa PDKT dengan seseorang. Ini sebabnya, Anda akan terus mencari hal-hal baru agar hormon tersebut terus mengalir dalam diri Anda demi memasok rasa bahagia. Maka tak heran bila masa PDKT lebih berkesan dan menarik untuk sebagian besar orang.

Menurut Jacob, saat Anda beralih status menjadi hubungan pacaran, secara bersamaan kehadiran hormon ini cenderung menjadi kacau. Alhasil, rasa bahagia yang sebelumnya muncul akan perlahan menghilang. Bahkan lama-kelamaan, Anda akan merasa hubungan asmara memudar seiiring berjalannya waktu.

2. Jarang ada masalah saat PDKT

Kalau Anda lihat dari film-film romantis ala remaja masa kini, alur ceritanya sudah pasti seputar konflik percintaan dan keberhasilan dalam mengatasinya secara bersama-sama. Kebanyakan film berakhir dengan perasaan bahagia. Ya, sesederhana itu. Namun jangan salah, hal ini bisa memengaruhi jalan pikiran Anda.

Tidak banyak film yang menceritakan bagaimana dua orang yang menjalin hubungan asmara dapat mempertahankan kebersamaannya selama bertahun-tahun. Ini karena hubungan jangka panjang dinilai tidak terlalu menarik, penuh konflik, dan cenderung membosankan.

Masa PDKT jarang dipenuhi oleh konflik-konflik. Bagaimana tidak, Anda dan pujaan hati tidak menyandang status berpacaran. Lain halnya bila Anda dan si dia sudah berpacaran dan merasa saling mengikat sehingga rentan dipenuhi konflik.

Nah, ini bisa jadi salah satu penyebab mengapa masa PDKT lebih indah ketimbang hubungan pacaran. Takut jika setelah berpacaran nanti Anda dan pasangan malah sering dilanda konflik dan menjadi cepat bosan.

ketertarikan fisik pada pasangan

3. Masih ingin mencari orang baru

Keinginan untuk terus bertahan di dalam masa PDKT daripada move on ke hubungan pacaran bisa jadi karena Anda masih berada di fase pencarian. Ibarat peribahasa sambil menyelam minum air, Anda menjalin pendekatan dengan pujaan hati sembari mencari-cari sosok lain yang mungkin bisa melengkapi hidup Anda.

Sebenarnya, hal ini tidak salah untuk dilakukan selama Anda dan pasangan belum terikat dalam hubungan pernikahan yang mengharuskan setia satu sama lain.

Akan tetapi ingat, kebiasaan ini justru menyeret Anda pada bentuk perselingkuhan awal yang bisa berdampak pada hubungan asmara Anda ke depannya. Kalau Anda sudah cocok dengan si dia, untuk apa mencari yang baru?

4. Butuh perhatian, bukan orangnya

Tidak sedikit orang yang hanya memanfaatkan sebuah hubungan hanya untuk memenuhi hasrat emosionalnya saja. Artinya, bisa jadi selama ini Anda terlalu nyaman mendapatkan perhatian dan kasih sayang daripada kehadiran si dia.

Kalau sudah menjadi pacar, biasanya sekecil apapun permasalahan dalam hubungan dapat memengaruhi jumlah perhatian satu sama lain. Nah, bisa jadi Anda belum siap menjalin hubungan pacaran karena takut tidak mendapat perhatian dari pasangan Anda kelak. Alhasil, Anda memilih untuk berada di masa PDKT ketimbang berpacaran.

5. Belum siap untuk setia

Anggapan masa PDKT lebih indah daripada hubungan pacaran ini bisa muncul karena Anda belum siap untuk memberikan kasih sayang dan perhatian secara penuh hanya kepada pasangan. Selain itu, mungkin saja Anda juga belum siap untuk bekerja sama dengan pasangan dalam membangun hubungan asmara yang sehat.

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan hal ini. Hal yang terpenting adalah mendiskusikan dan berkomunikasi seputar hubungan ini dengan pujaan hati Anda. Bicaralah dari hati ke hati untuk menentukan prioritas hubungan masing-masing.

Tanyakan lagi pada diri Anda, apakah Anda benar-benar menginginkan hubungan yang langgeng atau memang hanya ingin sebatas pendekatan yang itu-itu saja? Pertimbangkan lagi apakah usaha pendekatan ini akan sebanding dengan tujuan Anda berdua.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Why You Love the Chase More Than the Relationship. https://www.menshealth.com/sex-women/a19533301/addicted-to-the-chase/. Accessed 6/4/2018.

Men Really Do Prefer the Thrill of the Chase, Say Scientists. https://www.huffingtonpost.co.uk/2012/02/23/men-prefer-thrill-of-chase-science-of-attraction_n_1297059.html. Accessed 6/4/2018.

Why Do We Love to Chase? https://www.psychologytoday.com/us/blog/science-choice/201707/why-do-we-love-chase. Accessed 6/4/2018.

Foto Penulis
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri pada 19/04/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x