Kenapa Ibu Hamil Bertubuh Pendek Dianjurkan Operasi Caesar?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Operasi caesar merupakan tindakan operasi yang dilakukan ketika seorang ibu tidak dapat melahirkan secara normal melalui vagina. Operasi caesar menjadi alternatif dan pilihan tindakan yang dapat mencegah kematian dan kecacatan pada bayi dan ibu. Walaupun begitu, menurut WHO, meski operasi caesar memang tindakan yang efektif untuk dilakukan untuk menyelamatkan jiwa bayi dan ibu, namun baru boleh dilakukan jika memang ada indikasi medis yang mendukung dilakukan operasi caesar.

Seperti operasi atau tindakan medis lainnya, caesar dikaitkan juga dengan banyak risiko yang dapat terjadi, yaitu risiko jangka panjang maupun risiko jangka pendek yang dapat mempengaruhi kesehatan bayi dan ibu hingga masa depan. Jika Anda melakukan operasi caesar, maka waktu pemulihan lebih lama setelah melakukan operasi caesar dibandingkan dengan melakukan proses kelahiran yang normal. Setelah operasi caesar, komplikasi yang umum terjadi pada ibu adalah:

  • Infeksi
  • Kehilangan darah dalam jumlah yang cukup banyak
  • Pembekuan pembuluh darah di kaki
  • Mual, muntah, dan sakit kepala
  • Sembelit
  • Cedera organ lain seperti kandung kemih yang dapat terjadi selama operasi caesar berlangsung
  • Sekitar 2 dari 100.000 ibu yang menjalani operasi caesar, meninggal dunia

Sedangkan pada bayi, operasi caesar juga mengakibatkan berbagai hal, seperti:

  • Mengalami cedera ketika operasi berlangsung
  • Memiliki permasalahan pada sistem pernapasan dan paru-paru
  • Perlu perawatan khusus di unit intensif neonatal

Mengapa ibu hamil bertubuh pendek biasanya dianjurkan melakukan operasi caesar?

Banyak penelitian yang  menyatakan bahwa tinggi badan ibu dapat memprediksi kondisi kehamilan kelak. Berbagai studi membuktikan, bahwa jika tinggi badan dapat menentukan ukuran panggul seseorang, semakin pendek seseorang maka semakin kecil ukuran panggulnya. Ukuran panggul merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan melahirkan normal.

Ketika melahirkan secara normal, panggul akan langsung melebar, untuk menciptakan lebih banyak ruang bagi bayi agar dapat melewati panggul. Sedangkan pada ibu dengan ukuran panggul yang sempit, besar kemungkinan kepala janin tidak dapat melewati rongga panggul tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan operasi caesar, hal ini disebut dengan Cephalopelvic disproportion (CPD).

Penelitian yang telah dilakukan di berbagai negara, menemukan bahwa tinggi badan ibu dengan 150-153 cm di Ghana, <155 cm di Burkina, <156 cm di Denmark, sama dengan 150 cm di Kenya, <146 cm di Tanzania, <140 cm di India, sama dengan 157 cm di Amerika, merupakan ibu yang rata-rata mengalami operasi caesar yang disebabkan oleh CPD.

Ukuran panggul berhubungan dengan tinggi badan. Sebanyak 34% perempuan yang memiliki tubuh yang pendek (152,5 cm), 7%-nya memiliki panggul yang datar dan sempit dibandingkan dengan wanita bertubuh tinggi (176 cm). Penelitian yang dilakukan di Skotlandia, melaporkan bahwa operasi caesar lebih banyak dilakukan oleh perempuan yang memiliki tinggi badan kurang dari 160 cm, sedangkan perempuan yang memiliki tinggi lebih dari itu melakukan persalinan dengan normal. Hal yang sama ditemukan pada penelitian di Australia, yaitu perempuan kurang dari 152 cm, memiliki kemungkinan untuk melakukan operasi caesar dua kali lipat lebih besar dibandingkan perempuan yang tinggi. Bahkan ketika perempuan tersebut memiliki tinggi kurang dari 145 cm, maka hampir dipastikan 100% bahwa dia akan melakukan operasi caesar pada persalinannya.

Bagaimana mendiagnosis CPD?

Diagnosis CPD dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan medis, karena sebenarnya CPD susah untuk didiagnosis pada awal kehamilan atau sebelum persalinan berlangsung. Melakukan pemeriksaan USG bisa dilakukan untuk memperkirakan ukuran janin, tetapi tidak dapat menentukan berat badan janin. Pemeriksaan fisik yang mengukur ukuran panggul sering dapat menjadi metode yang paling akurat untuk mendiagnosis CPD.

Bagaimana dengan kehamilan berikutnya?

Cephalopelvic disproportion merupakan kejadian yang cukup jarang. Menurut American College of Nurse Midwives (ACNM), CPD terjadi pada 1 dari 250 kehamilan. Jangan khawatir juga jika pada kelahiran sebelumnya Anda didiagnosis CPD dan kemudian melakukan caesar, karena kelahiran selanjutnya masih dapat Anda lakukan dengan normal. Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh American Journal of Public Health, lebih dari 65% dari wanita yang telah didiagnosis dengan CPD pada kehamilan sebelumnya mampu melahirkan secara normal pada kehamilan berikutnya.

BACA JUGA:

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Apa Akibatnya Jika Ibu Mengandung Bayi Besar?

    Tak ada ibu yang ingin bayinya lahir dengan berat rendah. Tapi, tahukah Anda bahwa bayi yang terlalu besar dalam kandungan juga bisa menimbulkan bahaya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit

    Berapa Kali Hamil dan Melahirkan yang Aman Bagi Kesehatan?

    Untuk wanita, adakah batasan maksimal berapa kali hamil dan melahirkan? Apa ada dampak tertentu jika hamil dan melahirkan hingga lebih dari 5 kali?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Perawatan Ibu, Perawatan Setelah Persalinan, Kehamilan 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Ibu, Ini Tinggi Badan Anak Balita Usia 1-5 Tahun yang Ideal

    Mengukur tinggi badan balita sama penting dengan berat badan. Ini dilakukan untuk mencegah stunting. Jadi, berapa tinggi badan anak balita yang ideal?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah
    Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 18 November 2020 . Waktu baca 5 menit

    Minum Paracetamol Saat Hamil, Apakah Aman?

    Terkadang ibu hamil mungkin merasa demam dan nyeri. Hal ini membuat ibu hamil memerlukan paracetamol. Namun, apakah aman minum paracetamol saat hamil?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    hamil di usia 20-an

    Kelebihan dan Kekurangan Hamil di Usia 20-an

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
    bersepeda saat hamil

    Apakah Bersepeda Saat Hamil Aman Bagi Janin?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
    waktu bermain video game

    Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    nutrisi trimester ketiga

    Nutrisi yang Harus Dipenuhi Ibu Hamil di Trimester Ketiga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit