6 Alasan Mengejutkan Mengapa Wanita Memilih Tidak Punya Anak

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/04/2020 . 6 menit baca
Bagikan sekarang

Budaya Indonesia tampaknya sulit untuk menerima kenyataan bahwa kebanyakan perempuan bisa tidak menjadi seorang ibu dan tidak punya anak. Hal ini bertentangan dengan semua yang telah diajarkan kepada kita tentang bagaimana seorang wanita seharusnya.

Perempuan diajarkan bahwa memiliki anak adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mencari pemenuhan jati diri. Mereka tumbuh dewasa mempelajari bahwa mereka harus hamil, melahirkan, dan merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu — dan jika tidak, artinya hidup mereka tidak lengkap, bukan wanita seutuhnya. Jika kita mempercayai semua apa kata media dan budaya sosial, wanita — bahkan remaja perempuan — berada di ujung tanduk, putus asa, untuk memiliki anak. Anak adalah hasrat terbesar mereka.

Para wanita yang jatuh dalam kelompok ini, apakah berdasarkan pilihan atau bukan, sering mengalami kritik yang tidak adil dan cibiran. Mereka dianggap keras kepala, malas, dan mementingkan diri sendiri. Mereka diliputi rasa malu dan pengasingan.

Tapi, ada berbagai alasan mengapa seorang wanita tidak punya anak — kesemuanya tidak menurunkan derajat dan hakekatnya sebagai wanita yang “utuh”.

Apa saja alasan yang membuat seorang wanita tidak punya anak?

1. Tidak mampu secara fisik

Berdasarkan data dari CNN, dari jumlah 40 juta pasangan status kawin di Indonesia yang berada dalam usia subur, 10-15 persen di antaranya terhitung mandul alias tidak subur, yang menyebabkan sulit untuk mendapatkan anak. Infertilitas merupakan ketidakmampuan pasangan untuk sukses hamil setelah melakukan hubungan seksual teratur selama 1 tahun tanpa kontrasepsi.

Ketidaksuburan dapat disebabkan oleh umur, perubahan berat badan yang terlalu drastis, penggunaan alkohol berlebih, merokok, stres, atau hanya sekadar siklus menstruasi yang tidak teratur. The American Society for Reproductive Medicine, dilansir dari Self, mengatakan 5 sampai 10 persen kasus pasangan yang mengalami kesulitan untuk hamil, semua tes kesuburan yang dijalani memiliki hasil normal. Kondisi ini, atau dalam kasus di mana hanya ditemukan kelainan kecil yang bukan penyebab infertilitas, disebut dengan infertilitas yang tidak terjelaskan.

2. Kondisi kesehatan yang diidap

Riwayat kondisi medis yang dimiliki oleh wanita juga berperan penting dalam keputusannya memiliki anak.

Isu kesehatan seperti masalah ovulasi (gangguan tuba fallopi, sindrom ovarium polikistik/PCOS, menopause dini, endometriosis, cacat fisik pada ovarium, gangguan tiroid, kista di rahim, sindrom peradangan panggul, dan lainnya) hingga masalah kesehatan lain yang tidak terkait dengan sistem ovulasi wanita, seperti infeksi saluran kencing (ISK), penyakit kelamin, gangguan kelenjar tiroid, anemia, tuberkulosis genitalia, masalah sistem imun, hingga stres dan trauma — semua ini dapat memainkan peran dalam ketidaksuburan wanita. Saat seorang wanita memiliki satu di antara 9 kondisi kesehatan ini juga menjadikan pilihannya untuk tidak punya anak sebagai alasan yang kuat.

Selain itu, terkadang beberapa obat-obatan resep yang digunakan untuk mengobati kondisi tertentu juga menjadikan alasan seorang wanita untuk tidak memiliki anak, setelah menimbang manfaat dan risiko yang mungkin dibawa. Misalnya, Paxil, obat anti-kecemasan, telah dikaitkan dengan cacat lahir pada bayi. Gejala dari pemberhentian obat ini melibatkan berkeringat dingin, muntah, pusing, kelelahan kronis, dan penurunan berat badan. Stres dari pemberhentian obat yang harus dijalani selama sembilan bulan dapat menempatkan kedua calon ibu dan bayi dalam peningkatan komplikasi kehamilan.

3. Dua anak cukup

Gagasan bahwa pernikahan adalah hanya untuk sarana reproduksi kini sudah kelewat usang. Meskipun sebagian besar perempuan usia menikah akhirnya memiliki anak, beberapa wanita tidak benar-benar menginginkan sebuah keluarga besar, dan tidak ada yang aneh dengan hal ini.

Fenomena ini dibuktikan oleh data Riskesdas Kemenkes RI yang menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi sejak tahun 1991-2012 cenderung meningkat, sementara tren angka kesuburan cenderung menurun. Artinya, cakupan wanita usia subur (15-49 tahun) yang menggunakan KB sejalan dengan menurunnya angka fertilitas nasional. Lebih lanjut, terlihat adanya penurunan tren dari 3 anak per wanita di tahun 1991 menjadi 2,6 anak semenjak tahun 2002 hingga 2012.

4. Penggunaan pelumas saat seks

Pelumas mengurangi lincahnya pergerakan dan kemulusan transfer sperma. Fisiolog reproduksi, Joanna Ellington, dilansir dari India Times, berujar bahwa pelumas berbasis air pada umumnya mengandung gliserin (terbukti sebagai racun sperma) dan propilen glikol, yang keduanya bersifat hyperosmosis. Hal ini menyebabkan kerusakan permanen pada sperma dan peningkatan kematian setelah paparan terhadap lubrikan tersebut. Kerusakan sperma dan ketidakmampuan menembus ke dalam rahim yang diakibatkannya dapat mencegah pembuahan pada beberapa pasangan.

5. Peningkatan pemakaian kontrasepsi

Angka penggunaan kontrasepsi di indonesia, dilaporkan Kemenkes RI, sepanjang tahun 2005-2012 mencapai 61 persen, melebihi rata-rata penggunaan kontrasepsi di negara-negara ASEAN yaitu 58,1 persen, berbanding lurus dengan angka wanita usia subur di Indonesia yang mencapai 65 juta wanita — peringkat pertama di ASEAN tahun 2008.

Data Riskesdas 2013 juga menunjukkan bahwa 59,3% wanita usia subur (15-49%) dengan status kawin di Indonesia aktif menggunakan metode KB modern (implan, suntik, operasi MOW/MOP, kondom, suntik, pil). Data BKKBN 2013 melaporkan ada 8,500,247 pasangan usia subur (PUS) yang merupakan peserta KB baru, dan hampir separuh (48,56%) dari total populasi tersebut menggunakan metode suntik KB.

6. Tidak mau saja, alias alasan personal

Pada akhirnya, memiliki anak adalah pilihan individu. Dan beberapa wanita hanya tidak ingin melakukannya. Wanita mengalami semacam kebebasan mereka belum pernah miliki sebelumnya.

Lewatlah sudah hari-hari ketika wanita hanya bisa menjadi ibu rumah tangga, ketika mereka merasakan tekanan untuk tinggal di rumah dan mengasuh keluarga mereka, 24 jam sehari-7 hari seminggu. Sekarang, perempuan berada di setiap sudut setiap industri profesional, dengan angka yang kian bertumbuh setiap hari. Beragamnya pilihan baru inilah yang membuat wanita merasa seperti mereka benar-benar dapat melakukan segalanya; untuk fokus pada karir atau atau masalah pribadi lainnya.

Aspek menarik lainnya, sebuah studi dari Kansas State University, dilansir dari Elite Daily, menunjukkan bahwa menyaksikan/mendengar/menangani tantrum dan rengekan keras, popok bau, atau hal-hal lain yang kotor dan menjijikan dari merawat bayi membuat banyak orang lebih memilih untuk tidak punya anak.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

    Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 menit baca

    Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

    Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Psikologi 09/06/2020 . 6 menit baca

    Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

    Pertolongan pertama saat stres: gunakan minyak esensial untuk meredakan stres. Apa saja jenis minyak esensial dan bagaimana cara menggunakannya?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 05/06/2020 . 6 menit baca

    Direkomendasikan untuk Anda

    Berpikir negatif demensia

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 menit baca
    psikoterapi

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca
    sumber stres dalam pernikahan

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
    hipnoterapi

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 menit baca