home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bahaya Preeklampsia Pada Ibu Hamil dan Janin

Bahaya Preeklampsia Pada Ibu Hamil dan Janin

Preeklampsia adalah kondisi yang terjadi pada kehamilan yang memasuki usia minggu ke-20. Kondisi ini ditandai dengan tingginya tekanan darah walaupun ibu hamil tersebut tidak memiliki riwayat hipertensi. Preeklampsia adalah salah satu dari sekian penyebab kematian utama para ibu di negara-negara berkembang. Ini juga berdampak pada pertumbuhan janin. Lalu , apa saja bahaya preeklampsia untuk ibu dan janin?

Dampak preeklampsia pada ibu hamil

Wanita yang memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan berisiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi kehamilan, kelahiran, dan dalam masa nifas. Dampak buruk ini dapat terjadi pada ibu maupun janin.

berat janin dalam kandungan masih kurang

Preeklampsia adalah bentuk komplikasi paling serius ketika ibu mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan, tetapi bukan berarti penyebabnya adalah hipertensi. Bisa jadi, hal ini adalah gangguan yang disebabkan oleh kehadiran plasenta.

Awal mulanya, preeklampsia diawali dengan kondisi plasenta abnormal. Plasenta adalah suatu organ penting untuk pertumbuhan janin dalam kandungan. Plasenta yang tidak normal ini dapat menyebabkan berbagai masalah yang berhubungan dengan sistem pembuluh darah, kesehatan ibu, maupun perkembangan janin itu sendiri.

Dampak preeklampsia juga berpengaruh pada fungsi ginjal ibu. Selain itu, preeklampsia juga bisa memicu kejang pada ibu hamil, dan ini disebut sebagai eklampsia.

Akan tetapi, bahaya terbesar dari dampak preekmpasia adalah muncul sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzimes and Low Platelet Count) atau hemolisis, peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit yang rendah.

Sindrom HELLP, bersama dengan preeklampsia, mengakibatkan banyak kematian pada ibu terkait dengan hipertensi.

Ancaman lain dari kondisi preeklampsia ibu hamil

Sebetulnya, kondisi hipertensi ibu hamil akan sembuh sendiri setelah janin dan plasenta dilahirkan, Namun janin terancam mengalami hambatan pertumbuhan dalam kandungan, bahkan lahir prematur.

Sehingga bila ibu hamil memiliki kondisi ini, mungkin akan memerlukan perawatan lebih lanjut dari dokter sebelum dan setelah lahir. Pengobatan hipertensi tidak dapat mencegah hal ini, tetapi masih bisa digunakan untuk mencegah komplikasi kardiovaskular pada ibu, terutama selama persalinan dan melahirkan.

Dampak preeklampsia pada janin dalam kandungan

perkembangan kehamilan 2 minggu

Dampak preeklampsia berat akan memberikan risiko berbeda pada tiap janin. Dampak utama pada janin adalah kekurangan gizi akibat kekurangan pasokan darah dan makanan ke plasenta, hal ini mengarah ke gangguan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan. Janin bisa berisiko lahir cacar hingga lahir mati, akibat tidak mendapatkan makanan yang cukup.

Penelitian lanjutan juga sudah banyak menunjukkan bahwa preeklampsia pada ibu hamil bisa membuat bayi berisiko terkena penyakit tertentu. Ini disebabkan karena janin harus bertahan dengan pasokan nutrisi yang terbatas sewaktu di dalam kandungan. Dalam hal ini, mereka akan mengubah struktur dan metabolisme mereka secara permanen.

Perubahan ini mungkin akan menjadi penyebab dari sejumlah penyakit di kemudian hari, termasuk penyakit jantung koroner dan gangguan terkait seperti stroke, diabetes dan hipertensi.

Bayi yang ukuran tubuhnya kecil atau tidak proporsional pada saat lahir, atau yang telah mengalami perubahan pertumbuhan plasenta, kini diketahui telah memiliki risiko lebih besar untuk mengalami penyakit jantung koroner, hipertensi dan diabetes non-insulin saat dewasa.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Churchill D; Perry IJ; Beevers DG. Ambulatory blood pressure in pregnancy and fetal growth. Lancet 1997; 349:7-10.
Voto LS, Margulies M. Hipertensión en el embarazo. Buenos Aires, El Ateneo, 1997.
Visser W, Wallenburg HC. Maternal and perinatal outcome of temporizing management in 254 consecutive patients with severe pre-eclampsia remote from term. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol 1995; 63:147-54
Riaz M, Porat R, Brodsky NL, Hurt H. The effects of maternal magnesium sulfate treatment on newborns: a prospective controlled study. J Perinatol 1998; 18:449-54
Lindheimer MD, Katz AI: The kidney and hypertension in pregnancy. In Brenner BM, Rector FC eds. The Kidney. Philadelphia: WB Saunders, 1990.
Dunlop W, Davison JM: Renal Haemodynamics and tubular function in human pregnancy. Balliere’s Clin. Obstet. Gynaecol, 1987; 1: 769-87.
Baylis C, Davison J: The urinary system. In Hytten F, Chamberlain G eds.: Clinical Physiology in Obstetrics. Oxford, Blackwell, 1990.
Neerhof MG; Pregnancy in the chronically hypertensive patient. Clin Perinatol 1997; 24 :391-406

Piper JM; Langer O; Xenakis EM; McFarland M; Elliott BD; Berkus MD . Perinatal outcome in growth-restricted fetuses: do hypertensive and normotensive pregnancies differ? Obstet Gynecol 1996; 88:194-9
Barker DJ .In utero programming of chronic disease. Clin Sci 1998; 95:115-28.
Leistikow EA. Is coronary artery disease initiated perinatally. Semin Thromb Hemost 1998; 24:139-43 – See more at: http://www.obgyn.net/fetal-monitoring/effects-preeclampsia-mother-fetus-and-child#sthash.pgaHryQO.dpuf

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 01/01/1970
x