3 Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Demam Rematik

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Demam rematik adalah peradangan yang muncul akibat komplikasi infeksi bakteri, khususnya bakteri streptokokus. Tanpa pengobatan yang benar, demam rematik bahkan dapat menyebabkan kerusakan jantung. Lantas, apa saja pilihan pengobatan penyakit ini?

Pilihan pengobatan demam rematik

Penyakit ini umum menimpa anak-anak dan remaja. Biasanya, pengobatan demam rematik yang diberikan pun akan berbeda setiap orang, tergantung pada keparahan gejalanya.

Umumnya, pemberian obat dilakukan untuk membunuh bakteri, meredakan gejala, mengobati peradangan, serta mencegah kambuhnya penyakit.

Beberapa jenis obat yang biasa diberikan untuk mengatasi demam rematik, antara lain:

1. Antibiotik

diabex

Oleh karena penyakit ini merupakan infeksi bakteri, antibiotik kerap dijadikan pilihan pengobatan demam rematik.

Antibiotik yang digunakan untuk mengobati penyakit demam rematik umumnya berasal dari golongan penisilin. Tujuannya untuk membasmi sisa bakteri streptokokus yang ada pada tubuh.

Pasien perlu mengonsumsi antibiotik selama 5 hingga 10 tahun, bergantung pada usia dan ada tidaknya gangguan pada jantung. Jika sudah terjadi peradangan pada jantung, dibutuhkan waktu yang lebih lama mengobatinya.

Lamanya waktu pemberian obat ini bukan tanpa alasan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kambuhnya penyakit.

Sisa bakteri yang terdapat dalam tubuh dapat menyebabkan penyakit muncul kembali dan meningkatkan risiko kerusakan jantung permanen.

2. Obat antiradang

neozep forte

Obat-obatan antiradang sebagai pengobatan rematik diberikan untuk mengatasi demam, nyeri, serta gejala akut lainnya.

Jenis obat yang digunakan adalah obat-obatan antiradang yang umum digunakan, seperti naproxen dan aspirin.

Perlu diingat bahwa aspirin tidak boleh diberikan kepada anak berusia di bawah 16 tahun kecuali atas pertimbangan dokter.

Obat ini dapat meningkatkan risiko sindrom Reye yang menimbulkan kerusakan pada hati dan otak.

Jika kondisi pasien tidak membaik setelah diberikan aspirin atau naproxen, ini bisa menandakan adanya peradangan pada jantung. Dokter akan menyarankan jenis obat yang lebih kuat seperti kortikosteroid.

Pengobatan demam rematik dengan kortikosteroid harus dilakukan dengan bijak. Kendati cukup efektif, terdapat kemungkinan gejala penyakit akan muncul kembali begitu pasien berhenti mengonsumsi obat.

Obat ini juga tidak dapat mengurangi risiko komplikasi pada jantung secara signifikan.

3. Obat antikonvulsan

pengobatan batu ginjal

Selain demam, pembengkakan sendi, serta munculnya ruam pada kulit, penderita demam rematik biasanya juga mengalami gejala yang disebut chorea.

Kondisi ini ditandai dengan gerakan tak terkendali pada wajah, pundak, dan anggota gerak.

Pemberian obat antikonvulsan bertujuan untuk mengembalikan fungsi sel saraf guna mencegah kejang dan gerakan tak terkendali.

Antikonvulsan yang digunakan untuk pengobatan demam rematik di antaranya valproic acid, carbamazepine, haloperidol, dan risperidone.

Agar pengobatan demam rematik berjalan sukses, dokter juga akan menyarankan pasien untuk banyak beristirahat selama masa timbulnya gejala.

Hal ini penting agar tubuh pasien lekas pulih dari gejala akut dan secara perlahan mampu beraktivitas kembali.

Seiring pengobatan, pasien penyakit demam rematik juga perlu menjalani pemeriksaan jantung rutin. Konsultasikan hasilnya dengan dokter Anda untuk mengetahui adanya risiko kerusakan jantung.

Pasalnya, kerusakan jantung akibat penyakit ini mungkin tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca