Ragam Pilihan Pengobatan Penyakit Rahim yang Tak Melulu Dengan Operasi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Histerektomi atau operasi angkat rahim tentu menjadi mimpi buruk bagi wanita. Operasi ini banyak dipilih untuk mengobati berbagai penyakit rahim, terlebih bagi wanita yang memang sudah tidak ingin punya anak lagi. Namun sebenarnya, tidak semua penyakit rahim selalu berakhir pada operasi angkat rahim, kok.

Kapan histerektomi dibutuhkan?

Sebelum menentukan untuk operasi angkat rahim, sebaiknya Anda pahami dulu kelebihan dan kekurangannya. Pasalnya, setelah rahim Anda diangkat, Anda tentu tidak akan bisa hamil lagi atau punya anak.

Anda bahkan sudah tidak akan mengalami periode menstruasi lagi setiap bulannya alias berhenti. Ya, ini karena tidak ada lagi dinding rahim yang meluruh seperti pada periode menstruasi yang normal.

Tidak semua penyakit rahim akan langsung diatasi dengan histerektomi. Ada beberapa kondisi medis yang memungkinkan Anda untuk melakukan histerektomi, di antaranya:

  1. Kanker yang menyerang organ reproduksi, baik pada rahim, leher rahim, ovarium, tuba falopi, dan vagina
  2. Penyakit radang panggul (PID) yang tidak dapat disembuhkan
  3. Perdarahan berat pada vagina
  4. Komplikasi setelah melahirkan, salah satunya ruptur uteri (rahim sobek)

Pilihan operasi lain untuk mengatasi penyakit rahim

Dilansir dari Verywell, sekitar 90 persen histerektomi dilakukan karena pilihan pribadi pasien, bukan karena kondisi darurat untuk menyelamatkan nyawa. Misalnya saja, Anda mengalami penyakit rahim tertentu dan secara kebetulan sudah tidak ingin punya anak lagi.

Alhasil, Anda menerima saja jika disarankan untuk melakukan operasi angkat rahim, karena toh Anda tak ingin punya anak lagi. Padahal, histerektomi sebaiknya dilakukan sebagai tindakan medis terakhir untuk menyelamatkan jiwa seseorang, bukan karena keinginan pribadi.

Bila dokter menganjurkan Anda untuk melakukan histerektomi, baiknya tanyakan dulu apakah ada alternatif lain untuk mengobati penyakit rahim Anda. Hal ini ditujukan untuk mengurangi jumlah histerektomi yang tidak perlu.

Jika Anda mengalami nyeri haid hebat disertai perdarahan berat, fibroid rahim, endometriosis, atau penyakit rahim lainnya, Anda bisa memilih alternatif lain untuk membantu mengobati penyakit rahim Anda.

1. Menstruasi berlebihan

Perdarahan menstruasi yang terlalu berat, berkepanjangan, atau tidak teratur disebut menorrhagia. Perdarahan dikatakan berlebihan jika wanita kehilangan lebih dari 80 mililiter darah di setiap periode menstruasi. Apalagi jika hal ini menyebabkan nyeri hebat, perubahan suasana hati, dan mengganggu aktivitas.

Selain dengan histerektomi, menorrhagia dapat diatasi dengan:

  • Alat kontrasepsi: Dokter mungkin akan memberikan pil KB atau IUD yang mengandung hormon levonorgestrel untuk mengurangi perdarahan.
  • Ablasi endometrial: Menghilangkan lapisan rahim yang abnormal dengan teknik pemanasan, terapi balon, atau gelombang radio. Tingkat keberhasilan metode ini mencapai 80 sampai 90 persen dalam mengurangi gejala.
  • Obat NSAID: Obat NSAID bermanfaat untuk membantu mengurangi perdarahan dari lapisan rahim.

2. Fibroid rahim

gejala fibroid rahim

Fibroid rahim adalah benjolan atau tumor jinak yang tumbuh di bagian rahim. Penyakit ini biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun sampai ukuran fibroidnya membesar dan menimbulkan rasa sakit.

Penyakit ini menjadi salah satu alasan paling umum mengapa wanita menjalani operasi angkat rahim. Padahal, ada pengobatan lain yang masih bisa dilakukan, yaitu:

  • Miomektomi :¬†Operasi pengangkatan fibroid atau tumor jinak. Hal ini dilakukan melalui operasi perut, laparoskopi (masuk melalui daerah perut), atau histeroskopi (memasukkan alat tipis melalui vagina). Waktu pemulihannya cenderung lebih singkat.
  • Ablasi endometrial: Menghancurkan jaringan parut dengan metode pemanasan, cairan, terapi balon, hingga gelombang mikro. Cara ini dapat mengurangi atau bahkan menghentikan perdarahan dari rahim.
  • Embolisasi arteri rahim: Memotong pembuluh darah di sekitar fibroid. Jika tumor jinak tersebut tidak mendapatkan suplai darah, maka secara perlahan fibroid akan menyusut sampai hilang total. Sebanyak 85 persen wanita dapat kembali beraktivitas normal setelah satu minggu pasca operasi.
  • Obat NSAID: Gejala fibroid rahim dapat diatasi dengan obat NSAID, contohnya Motrin. Bila masih tidak efektif, dokter mungkin akan meresepkan obat yang dapat menghambat produksi hormon estrogen dari ovarium. Namun, obat ini memiliki efek samping berupa gejala menopause dini dan penurunan kepadatan tulang.

3. Endometriosis

operasi endometriosis

Sekitar 18 persen histerektomi dilakukan karena endometriosis. Sayangnya, prosedur ini tidak selalu menyembuhkan penyakit tersebut secara total.

Jenis pengobatan endometriosis tergantung pada gejala dan tingkat keparahannya. Untuk jangka panjang, laparoskopi bisa menjadi pilihan yang tepat. Laparoskopi dilakukan dengan mengangkat kista atau jaringan parut dengan menggunakan panas atau laser.

Sementara untuk jangka pendeknya, gejala endometriosis seperti nyeri dan perdarahan hebat saat menstruasi dapat diatasi dengan pil KB atau obat hormonal lainnya untuk mengurangi kadar estrogen.

4. Turun peranakan

turun peranakan rahim prolaps uteri

Turun peranakan atau prolaps uteri adalah kondisi saat letak rahim tampak menurun dari posisi normalnya dan menekan dinding vagina. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak hal, namun kebanyakan karena efek persalinan normal (persalinan pervaginam).

Turun peranakan dapat diatasi dengan kolporafi anterior atau posterior, yaitu prosedur untuk memperbaiki dinding depan dan belakang vagina yang menonjol. Selain itu, dokter mungkin akan melakukan suspensi rahim, yaitu penempatan kembali rahim pada posisinya dengan cara menyambungkan kembali ligamen-ligamen panggul yang bergeser.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca