Sakit Batuk dan Pilek, Apakah Perlu Minum Antibiotik?

Oleh

Di saat obat-obatan nonresep tak lagi ampuh mengatasi batuk dan pilek, Anda mungkin berpikir untuk meminta resep antibiotik dokter demi mennyudahi penderitaan tak berkesudahan tersebut. Padahal, sebenarnya tak perlu-perlu amat minum antibiotik untuk batuk dan pilek. Sembarangan minum antibiotik untuk mengobati batuk dan pilek justru bisa mendatangkan lebih banyak bahaya daripada manfaatnya. Lho, kenapa begitu?

Antibiotik untuk batuk dan pilek tidak akan mempan lawan virus

Batuk dan pilek disertai badan meriang adalah salah satu alasan izin sakit yang paling sering muncul pada anak sekolah atau orang dewasa yang bekerja. Setiap tahun, orang dewasa rata-rata terserang 2-3 kali kasus batuk dan pilek, sementara anak-anak mungkin bisa lebih sering lagi.

Tapi minum antibiotik untuk batuk dan pilek biasa tidak akan menyembuhkan masalah Anda. Obat-obatan antibiotik hanya bekerja melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sementara dalam hampir sebagian kasus batuk dan pilek, penyakit merepotkan ini disebabkan oleh virus. Bahkan, kebanyakan kasus bronkitis dan sinusitis yang sama-sama ditandai oleh gejala batuk dan hidung meler juga disebabkan oleh virus. Ada lebih dari 200 jenis virus berbeda yang dapat menyebabkan batuk dan pilek. Rhinovirus adalah salah satu virus penyebab batuk dan pilek yang paling umum.

Bahayanya jika sembarangan minum antibiotik untuk batuk dan pilek

Minum antibiotik untuk batuk dan pilek tidak akan ada gunanya, karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Meski demikian, fenomena ini masih sangat umum ditemukan dalam masyarakat. Padahal, efek samping akibat sembarangan minum antibiotik untuk batuk dan pilek bisa berbahaya untuk Anda.

Sebagai contoh, sekitar satu dari 40 ribu orang di seluruh dunia dilaporkan dapat menunjukkan reaksi alergi fatal saat mengonsumsi antibiotik. Antibiotik dapat menyebabkan efek samping, seperti diare atau muntah, dan sekitar 1 sampai 5 dari setiap 100 anak-anak memiliki alergi terhadap antibiotik. Beberapa dari reaksi alergi bisa berdampak serius dan mengancam nyawa.

Antibiotik secara spesifik ditujukan untuk mengobati infeksi bakteri. Ketika Anda terus menerus minum antibiotik untuk mengobati penyakit yang tidak bisa dimatikan dengan obat ini, antibiotik lama-kelamaan akan jadi tidak efektif untuk memerangi bakteri jahat. Alasannya berkaitan dengan bakteri sendiri. Bakteri adalah organisme licik. Ketika bakteri berulang kali terpapar antibiotik dalam waktu lama, mereka justru semakin kuat melawan efek obat dan malah mengembangkan ketahanan sehingga akan sulit untuk diobati.

Resistensi bakteri terhadap antibiotik menyebabkan penyakit Anda hinggap semakin lama di tubuh tanpa adanya tanda-tanda membaik. Dokter Anda mungkin perlu mencoba beberapa antibiotik berbeda sampai menemukan mana yang efektif. Dalam kebanyakan kasus, beberapa penyakit bisa terlanjur memburuk sebelum ditemukan obat yang paling pas. Orang di sekitar Anda juga bisa mungkin bisa tertular bakteri resisten Anda dan mengidap penyakit serupa yang sulit untuk diobati. Beberapa bakteri yang menyebabkan infeksi fatal di rumah sakit, seperti MRSA, tahan banting terhadap beberapa antibiotik.

Jadi, kapan harus minum antibiotik?

Hanya dokter yang tahu pasti apakah Anda membutuhkan resep antibiotik untuk masalah Anda setelah menjalani berbagai pemeriksaan. Jadi diskusikan dengan dokter Anda jika Anda berpikir Anda sakit dan mungkin membutuhkan antibiotik, daripada mengambil antibiotik sisa anggota keluarga Anda bekas mengobati penyakitnya bulan lalu. Tapi ingat, Anda tidak membutuhkan antibiotik untuk batuk dan pilek biasa.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca