5 Perawatan Plus Komplikasi dari Kontraktur Dupuytren (Masalah Jari Tertekuk)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Kontraktur dupuytren mungkin asing di telinga Anda. Kondisi ini memengaruhi lapisan jaringan di bawah kulit telapak tangan yang mengakibatkan posisi jari tangan menjadi tertekuk. Untungnya kondisi ini dapat diobati. Apa saja pengobatan untuk kontraktur dupuytren? Lantas, adakah komplikasi yang mungkin terjadi dari pengobatan tersebut?

Berbagai pengobatan untuk kontraktur dupuytren

Kontraktur dupuytren menyebabkan adanya penebalan jaringan di telapak tangan yang menarik jari. Akibatnya, posisi jari yang awalnya bisa ditekuk dan diluruskan, menjadi kaku dan terus tertekuk.

Biasanya, kondisi ini terjadi pada jari manis dan kelingking. Meskipun tidak membahayakan jiwa, kondisi ini cukup mengganggu. Seiring berjalannya waktu, kondisi jari akan bertambah parah dan sulit digunakan.

Sumber: Hub Pages

Supaya tidak menimbulkan kecacatan, orang dengan kontraktur dupuytren harus menjalani pengobatan. Berikut beberapa pengobatan yang bisa dijalani pasien.

1. Peregangan dan suntik kortison

Gerakan peregangan disertai pemasangan belat (bidai, atau papan kecil untuk membalut tulang) merupakan pengobatan yang paling umum untuk jari tertekuk. Tujuannya untuk meningkatkan mobilitas sendi di tangan supaya tidak kaku.

Selain peregangan, dokter juga akan menyuntikan kortison untuk meminimalisir penebalan kulit pada area telapak tangan yang terkena. Sayangnya, pengobatan ini tidak efektif untuk dijadikan perawatan utama atau bila dilakukan secara terpisah, contohnya hanya peregangan saja tanpa suntikan kortison atau sebaliknya. Pengobatan ini biasanya lebih efektif dilakukan pascaoperasi.

2. Jarum aponeurotomi

Pengobatan ini dilakukan dengan menusukkan jarum pada jaringan dupuytren yang menarik jari tangan. Dengan begitu, jaringan akan semakin longgar dan memungkinkan jari tangan untuk berkontraksi dan bergerak. Dokter akan menusukkan jarum pada beberapa lokasi di sekitar jaringan tersebut tanpa membuat sayatan.

Pengobatan jarum aponeurotomi sangat aman. Sayangnya, tidak semua kondisi dupuytren dapat disembuhkan dengan cara ini. Pada beberapa kasus, dupuytren dapat kembali kambuh dengan cepat.

3. Suntik collagenase

vaksin suntik

Collagenase adalah enzim khusus yang disuntikkan pada area yang telapak tangan yang terkena. Tujuannya untuk memecah jaringan yang mengencang supaya jari dapat berkontraksi dan tidak lagi kaku.

Pengobatan kontraktur dupuytren ini tidak bisa hanya dilakukan sekali suntik. Pasien akan diminta melakukan penyuntikkan lagi dalam rentan waktu 2 hingga 3 hari, agar jaringan yang menarik jari pecah.

4. Operasi

Operasi adalah pengobatan paling umum untuk kontraktur dupuytren. Ketika operasi dilakukan, dokter akan membuat sayatan langsung di area jaringan dupuytren, mengangkatnya, dan menutup sayatan kembali. Setelah pengangkatan jaringan, bagian tangan akan diperban selama berminggu-minggu dan dipasang belat selama beberapa bulan.

Perawatan akan dilanjutkan dengan latihan peregangan jari, penyuntikan collagenase, dan jarum aponeurotomi agar kontraktur dupuytren tidak kembali kambuh. Pada beberapa kasus, operasi lanjutan dibutuhkan. Namun, lebih sulit ketimbang operasi pertama karena adanya jaringan parut di telapak tangan.

5. Perawatan salvage

Perawatan salvage diperuntukkan bagi orang dengan kontraksi dupuytren yang tidak bisa berhasil menjalani pengobatan sebelumnya. Ini adalah perawatan terakhir dan bertujuan untuk mencegah kondisi semakin parah. Beberapa prosedur yang akan dilakukan meliputi:

  • Fusi sendi. Operasi untuk mengatur sendi di sekitar jari yang menekuk sehingga jari tidak lagi bengkok.
  • Fiksasi eksternal. Memasangkan perangkat di tulang jari yang dapat meregangkan jaringan sehingga jari dapat berkontraksi.
  • Amputasi. Prosedur amputasi jarang dilakukan hanya pada beberapa kasus parah dengan tujuan untuk mempermudah pasien menggunakan tangannya.

Komplikasi dari pengobatan kontraktur dupuytren

pantangan rematik

Meskipun kontraktur dupuytren dapat diobati, risiko kembali kambuh tetap ada. Hampir 50% orang yang menjalani perawatan dalam waktu 3 hingga 5 tahun setelah perawatan, mengalami kondisi ini kembali.

Selain dapat kambuh, beberapa perawatan juga menimbulkan masalah baru, seperti kerusakan saraf, nyeri, dan jaringan parut. Kerusakan saraf terjadi hampir di semua perawatan, terutama melalui proses operasi. Rusaknya saraf dapat menyebabkan tangan mati rasa atau menimbulkan sensasi kesemutan pada telapak tangan yang terkena.

Kemudian, area tangan juga menimbulkan rasa sakit yang bisa muncul kapan saja. Jaringan parut juga bisa terbentuk setelah operasi dilakukan.

Apakah komplikasi pengobatan kontraktur dupuytren bisa dicegah?

Tidak ada cara khusus untuk menurunkan risiko komplikasi dari perawatan jari yang menekuk. Namun, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan. Mulailah dengan konsultasi pada dokter perihal jenis perawatan mana yang paling cocok untuk kondisi Anda.

Anda bisa mengunjungi dokter yang ahli di bidangnya, seperti dokter ortopedi. Selain perawatan, usahakan untuk menjaga aktivitas apa pun yang melibatkan tangan Anda. Lakukan pemeriksaan secara berkala supaya Anda tahu efektivitas pengobatan sekaligus kondisi tubuh Anda.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 16, 2019 | Terakhir Diedit: Oktober 13, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca