Selain Infeksi Menular Seksual, Ini Dampaknya Jika Sering Gonta-ganti Pasangan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kecenderungan untuk gonta-ganti pasangan seksual merupakan satu dari sekian banyak faktor risiko infeksi menular seksual. Namun, ini bukanlah satu-satunya dampak buruk dari perilaku tersebut. Terdapat sejumlah dampak biologis maupun psikologis yang dihadapi oleh orang-orang yang menjalaninya, dan berikut adalah beberapa di antaranya.

Apa dampak dari kebiasaan gonta-ganti pasangan seksual?

Memiliki lebih dari satu pasangan dapat berimbas pada kesehatan fisik maupun psikis Anda, misalnya:

1. Meningkatkan risiko HIV

Risiko penularan HIV lebih tinggi pada orang-orang yang yang berhubungan seksual dengan lebih dari dari satu pasangan. Semakin banyak pasangan yang Anda miliki, maka semakin besar kemungkinan salah satu di antaranya telah terinfeksi HIV dan tidak menyadarinya.

Untuk menurunkan angka infeksi HIV, CDC menyarankan agar setiap orang hanya berhubungan seksual dengan satu orang pasangan. Tindakan pencegahan juga dapat dilakukan saat Anda berhubungan seksual, yakni dengan menggunakan kondom serta melakukan aktivitas seksual yang memiliki risiko penularan lebih kecil dibandingkan seks anal atau vaginal.

2. Meningkatkan risiko infeksi menular seksual

Orang-orang yang sering gonta-ganti pasangan juga tidak luput dari risiko penularan infeksi menular seksual. CDC memperkirakan setidaknya 19 juta kasus baru infeksi menular seksual terjadi setiap tahun. Penyakit yang paling banyak muncul adalah gonorrhea, sifilis, dan infeksi jamur klamidia. Namun, yang paling umum di antaranya adalah infeksi human papillomavirus (HPV).

Infeksi menular seksual tidak boleh dianggap sebelah mata karena penyakit ini dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Infeksi HPV bahkan diketahui berhubungan erat dengan kanker serviks, mulut, dan kerongkongan. Parahnya lagi, kebanyakan orang yang telah terinfeksi HPV biasanya tidak menyadarinya hingga gejala penyakit muncul.

3. Memicu perilaku berisiko

Sebuah penelitian jangka-panjang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kesehatan psikologis, jumlah pasangan, kecenderungan melakukan perilaku berisiko, dan penyalahgunaan zat adiktif.

Hasilnya, orang yang sering gonta-ganti pasangan diketahui cenderung lebih mudah ketergantungan terhadap zat adiktif. Risikonya pun turut meningkat seiring bertambahnya jumlah pasangan seksual.

Jumlah pasangan seksual memang tidak secara langsung memicu perilaku berisiko, tapi keduanya saling berkaitan. Tipe hubungan seperti ini berpotensi menimbulkan rasa tidak puas pada orang yang menjalaninya.

Akhirnya, mereka melakukan perilaku berisiko seperti mengonsumsi alkohol dan obat-obatan untuk mengalihkan diri. Selain itu, jika promiskuitas dikombinasi dengan perilaku berisiko lainnya seperti merokok, minum alkohol, penggunaan obat terlarang, kurang tidur dan pola makan yang buruk, maka dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit kronis, salah satunya penyakit jantung.

4. Memicu depresi dan kekerasan dalam hubungan

Kecenderungan untuk gonta-ganti pasangan berpotensi membuat Anda melakukan hal-hal yang lebih berisiko dan berbahaya. Siklus ini akan terus berjalan dan mengakibatkan rasa rendah diri, ketidakharmonisan dalam hubungan, bahkan depresi. Memiliki lebih dari satu pasangan juga akan membuat Anda kesulitan mempertahankan hubungan yang Anda jalani.

Sejumlah penelitian turut sepakat bahwa orang-orang yang menjalani hubungan jangka panjang yang sehat dengan satu pasangan bisa menikmati hubungannya dengan lebih baik. Risiko kekerasan dalam hubungan pun lebih kecil dibandingkan orang-orang yang menjalani hal sebaliknya.

Apa pun alasannya, kebiasaan gonta-ganti pasangan adalah perilaku berisiko yang perlu dihindari. Perilaku ini tidak hanya merugikan secara emosional, tapi juga berpotensi menimbulkan sejumlah masalah kesehatan yang berbahaya. Jika Anda pernah terlibat situasi yang memungkinkan Anda untuk memiliki lebih dari satu pasangan, yuk, jadilah lebih bijak dengan tetap setia pada satu orang pasangan saja.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Psikologi 9 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 26 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Obat untuk menyembuhkan pasien HIV memang belum ditemukan. Namun, untuk kedua kalinya dalam sejarah ada pasien yang dinyatakan sembuh dari HIV.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Berita Luar Negeri, Berita 14 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
kenapa penis ereksi di pagi hari

Ketahui Berbagai Kemungkinan Penyebab Benjolan di Penis

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 12 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
pro kontra antidepresan

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit