Suka Menyiksa Hewan? Anda Mungkin Memiliki Tendensi Psikopat

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017
Bagikan sekarang

Indonesia sempat dihebohkan dengan kasus seorang laki-laki dengan inisial VTS. Pasalnya, VTS mengunggah foto selfie-nya dengan seekor kera hasil buruannya. Nampak kera yang hidungnya berlumuran darah tersebut menahan rasa sakit dan sepertinya masih hidup. Sehari sebelumnya, Indonesia digegerkan dengan kasus seorang mahasiswi perguruan tinggi di Jember. Mahasiswi itu melakukan perburuan terhadap tiga ekor kucing hutan yang jelas-jelas merupakan hewan langka. Ada lagi tren yang sempat booming di internet. Kucing dalam botol memang mampu melelehkan hati para netizen dengan kelucuan dari wajah kucing-kucing yang masuk dalam botol. Tapi, tahukah Anda kalau perbuatan itu merupakan bentuk dari penyiksaan terhadap hewan?

Penyiksaan terhadap hewan ini ternyata bukan semata-mata sebagai cara dari manusia untuk menunjukkan dominansinya, namun ada hal yang lebih laten dari itu.

Dua jenis penyiksaan binatang

Sebelum melangkah lebih jauh tentang bahaya laten yang dapat diungkapkan dari penyiksaan hewan, ada baiknya untuk mengaji jenis dari penyiksaan terhadap hewan. Menurut Canadians for Animal Welfare Reform, atau yang sering disingkat CFAWR, terdapat dua jenis dari penyiksaaan binatang, active cruelty dan passive cruelty. Active cruelty adalah bentuk penyiksaan dengan tujuan untuk menyakiti hewan, sedangkan passive cruelty adalah bentuk penyiksaan tanpa maksud, seperti lupa memberikan makan atau minum pada hewan peliharaan, dalam waktu yang panjang.

E. Buckles, D. N. Jones, dan D. L. Paulhus pada tahun 2013 melakukan suatu studi untuk melihat perilaku sadistis dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 78 mahasiswa psikologi diikutsertakan dalam penelitian ini. Para responden diminta untuk mengisi beberapa kuesioner yang dapat mengukur sifat sadistik, dark triad (Machiavellianism, narcissism, dan psychopathy), dan ukuran kejijikan responden terhadap berbagai hal. Selain itu, ada Yes-or-No Question yang perlu diisi untuk mengetahui ketakutan terhadap serangga. Terakhir, responden diminta untuk mengisi kuesioner adjective-rating measure.

Pertama-tama, responden diminta untuk memilih beberapa pekerjaan; membunuh serangga (kategori: pembasmi hama), membantu eksperimenter membunuh serangga (kategori: pembasmi hama), membersihkan toilet, dan memegang es (suatu pekerjaan yang dilakukan di tempat yang dingin). Dari 78 responden (namun hanya 71 data yang dapat diproses karena 7 di antaranya tidak direkam), 12.7% memilih untuk memegang es, 33.8% memilih untuk membersihkan toilet, 26.8% memilih untuk membantu eksperimenter membunuh serangga, dan 26.8% sisanya memilih untuk membunuh serangga. Pada pembunuh hama, responden memiliki skor perilaku sadistis yang tinggi. Hasil lain yang mengejutkan adalah responden dengan skor perilaku sadistis yang tinggi merasakan kesenangan dalam menyiksa hewan. Dari studi ini, dapat ditarik simpulan bahwa sadisme merupakan suatu faktor yang dapat diprediksi dengan tindakan menyiksa hewan.

Penyiksaan hewan bisa menjadi indikasi sifat psikopat

Hai ini diperkuat dengan studi yang dilakukan oleh Dr. Phillip Kavanagh dan kolega. Penyiksaan terhadap hewan juga dapat mengindikasikan seseorang memiliki sifat Dark Triad (Machiavellianism, narcissism, dan psychopathy). Hal yang ingin dibuktikan oleh Dr. Phillp Kavanagh tecermin dalam studinya. Studi ini menyatakan bahwa sifat psikopat berhubungan dengan intensi seseorang menyakiti hewan dengan sengaja.

Terdapat bukti nyata dalam kehidupan, yaitu banyak pembunuh berantai, seperti Jeffrey Dahmer, memulai karir pembunuhannya pada masa kecilnya dengan membunuh hewan, mengumpulkan hewan yang telah mati, memutilasi, dan melakukan masturbasi dihadapan hewan-hewan yang telah ia potong-potong sebelumnya. Mary Bell, seorang pembunuh yang korbannya anak kecil, mengaku pernah mencekik burung merpati hingga mati pada masa kecilnya.

Orang yang suka menyiksa hewan memiliki kecenderungan menyakiti manusia tanpa rasa simpati

Dapat disimpulkan bahwa perilaku menyiksa hewan cenderung dilakukan oleh orang dengan skor sadisme yang tinggi berdasarkan 10-item Short Sadistic Impuls scale. Penyiksaan hewan pada masa kecil cenderung menghasilkan dewasa dengan Dark Triad tipe psychopathy. Selain itu, penyiksaan pada hewan merupakan indikasi seseorang terkena Antisocial Personality Disorder, yaitu suatu ganggguan kepribadian yang membuat penderitanya cenderung apatis terhadap norma yang berlaku. Dark Triad tipe psychopathy dan Antisocial Personality Disorder dapat menghasilkan satu tendensi untuk tidak hanya menyakiti hewan, namun mampu menyakiti manusia tanpa rasa simpati dan empati yang muncul setelahnya.

Jadi, kenalilah orang tersayang Anda. Bentuklah juga anak Anda untuk menjadi anak yang penuh empati dan simpati. Sayangi mereka sepatutnya mereka disayangi. Walaupun setelah gangguan ini terbentuk sulit kemungkinan untuk menghilangkan sepenuhnya (ditandai dengan kembalinya para narapidana kembali melakukan kejahatan yang sama), namun bantuan tangan Anda mampu mengurangi kecenderungan mereka untuk melakukan kejahatan. Perlu juga diingat bahwa terbentuknya suatu kepribadian manusia sangat kompleks, satu gangguan mungkin terdiri dari beberapa indikasi dan latar belakang yang unik pada setiap manusia.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Beragam manfaat detoks digital mengarahkan Anda untuk memiliki hubungan lebih baik dengan. Namun, apa sebetulnya detoks digital itu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Momen kelulusan pelajar dan mahasiswa harus dilewatkan saat pandemi COVID-19. Bagaimana hal ini berpengaruh pada kondisi psikologis mereka?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13/05/2020

Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

Direkomendasikan untuk Anda

delusi dan halusinasi

Delusi dan Halusinasi, Apa Bedanya?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 01/06/2020
Pedofilia kekerasan seksual

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
stres anak saat pandemi

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020