Benarkah Depresi Bisa Diturunkan Melalui Gen Keluarga?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 28/06/2018 . 4 menit baca
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Ada berbagai penyebab depresi yang bisa dengan mudah menyerang seseorang. Mulai dari mengalami peristiwa yang traumatis, konsumsi obat-obatan yang berlebihan, hingga karena mengidap penyakit kronis yang serius. Namun di samping itu, banyak penelitian yang mengaitkan penyebab depresi dengan faktor keturunan. Benarkah demikian?

Benarkah faktor keturunan bisa menjadi penyebab depresi?

Shizhong Han, Ph.D., seorang profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Johns Hopkins Medicine berpendapat bahwa seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat depresi punya kemungkinan sekitar 20-30 persen untuk ikut mengalami depresi.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya sebuah studi yang meneliti seberapa sering depresi yang dialami oleh anak kembar bisa saling memengaruhi satu sama lain. Hasilnya menunjukkan bahwa sepasang anak kembar yang tidak identik, cenderung mengalami depresi berat pada tingkat 20 persen. Sedangkan pada sepasang anak kembar identik, yang memiliki jenis gen sangat mirip, mengalami depresi pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu hingga 50 persen.

Kondisi ini diyakini karena efek melihat perilaku anggota keluarganya yang menderita depresi. Seperti dilansir dari Healthline, ketika seseorang memerhatikan tingkah laku anggota keluarganya yang depresi, maka tanpa sadar ia juga akan lebih rentan untuk mengalami depresi karena seolah-olah seperti merasakan hal yang sama.

Sebenarnya, bagaimana pengaruh depresi terhadap gen?

Selanjutnya, mungkin Anda akan bertanya-tanya, bagaimana caranya depresi bisa memengaruhi gen dalam suatu keluarga. Padahal, selama ini diketahui bahwa depresi hanya dirasakan oleh masing-masing orang saja alias tidak bisa menular.

Begini, adanya interaksi yang dilakukan oleh anggota keluarga yang mengalami depresi dengan yang tidak, akan membuat orang yang tidak depresi menjadi lebih “peka” terhadap berbagai hal pemicu stres di lingkungannya. Itu sebabnya, ketika seseorang lebih rentan mengalami stres, akhirnya ia juga akan lebih mudah untuk mengembangkan depresi.

Uniknya lagi, Michael J. Meaney, Ph.D., dari McGill University mencoba menelusuri mekanisme depresi yang berasal keturunan dan lingkungan seseorang. Penelitian ini masuk ke dalam bidang epigenetika, yakni studi tentang proses di mana lingkungan atau eksternal mampu mengaktifkan dan menonaktifkan gen, tanpa mengubah struktur gen dalam DNA.

Menurut Michael, ada bagian dari otak seseorang yang peka terhadap adanya perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Aktivitas di bagian otak inilah yang kemudian bisa memengaruhi perasaan seseorang hingga mengarahkannya pada depresi.

menangis tiba-tiba

Selain keturunan, masih ada faktor lain yang jadi penyebab depresi

Meskipun faktor keturunan tampak memiliki pengaruh yang cukup besar, ternyata bukan inilah faktor terbesar penyebab depresi. Dr. Wade Berrettini, Ph.D., seorang dosen di Parelman School of Medicine University of Pennsylvania menerangkan bahwa untuk mengembangkan depresi Anda harus mewarisi puluhan variasi gen dari anggota keluarga yang memiliki depresi, serta setidaknya harus berada di lingkungan yang bisa memicu munculnya depresi.

Jadi, bisa dikatakan kalau genetika hanya menyumbang sekitar 40 persen sebagai penyebab depresi, sementara 60 persen sisanya berakar dari lingkungan dan gaya hidup Anda.

Mudahnya, berbagai situasi yang berhubungan dengan penyakit, kehilangan pekerjaan, kematian orang dicintai, tekanan dari rekan kerja, dan peristiwa lainnya bisa seketika mengubah suasana hati Anda, sehingga memicu peningkatan hormon stres, dan pada akhirnya berkembang menjadi depresi.

Selain itu, kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol juga bisa memengaruhi komponen gen di dalam tubuh, yang kemudian akan mengarah pada perubahan tertentu di otak. Akhirnya, proses ini akan memengaruhi suasana hati Anda, yang berujung pada serangan depresi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Psikologi 09/06/2020 . 6 menit baca

5 Peran Ayah dalam Membantu Ibu yang Mengalami Depresi Postpartum

Usai melahirkan tidak sedikit ibu yang mengalami depresi postpartum. Bagaimana peran ayah membantu ibu tercinta melewati depresi postpartum?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 01/06/2020 . 6 menit baca

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . 6 menit baca

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Crab mentality adalah sindrom yang menginginkan orang lain tidak mencapai kesuksesan yang lebih besar dari diri sendiri. Ini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 13/05/2020 . 6 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
pro kontra antidepresan

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 menit baca
depresi pasca melahirkan ayah

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . 5 menit baca