Bahaya Pasung pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 09/04/2020
Bagikan sekarang

Orang dengan gangguan jiwa harus mendapatkan intervensi medis sedini mungkin. Menundanya saja akan memperburuk keadaan dan mempersulit penanganan. Apalagi jika harus menjalani hidup dalam pasung tanpa pengobatan, keadaan orang dengan gangguan jiwa akan semakin buruk.

Di Indonesia, masih banyak kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tidak mendapatkan penanganan yang baik dan malah dipasung.

Bahaya pasung pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)

gangguan jiwa

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tidak mendapatkan penanganan medis dan malah dipasung bisa memperburuk kondisinya.

Pasung yang membelenggu orang dengan gangguan jiwa otomatis akan membuatnya terkucilkan. Ia akan merasa dibuang, rendah diri, putus asa, dan bisa memunculkan dendam. 

“Gangguan jiwa dapat berkembang menjadi semakin buruk selama dalam kurungan, juga mungkin ditambah dengan penyiksaan atau pelanggaran hak asasi manusia lainnya,” tulis WHO dalam situs webnya yang menjelaskan soal gangguan jiwa dan penjara. 

Dalam Jurnal Keperawatan Jiwa STIKES dijelaskan, pemasungan berarti gangguan jiwa dibiarkan tanpa penanganan yang baik. Semakin lama tidak ditangani, kerusakan otak niscaya akan semakin parah. 

“Tak usah lama-lama didiamkan atau dipasung, sekitar tiga tahun otak semakin rusak dan berdampak pada kerusakan lainnya,” tulis jurnal tersebut.

Kondisi ini akan mengurangi potensi respons terapi dan mengurangi kapasitas pasien untuk dapat menjalankan fungsi normalnya. Akan terjadi kekambuhan berulang dan pada akhirnya resisten terhadap terapi medis. 

Studi tersebut pun menyampaikan bahaya pasung pada orang dengan gangguan jiwa yang bukan hanya pada penyakitnya tapi juga pada kondisi fisiknya. 

Secara fisik, perkembangan akan terganggu hingga berhenti berkembang. Dalam beberapa kasus pasien jadi tidak mampu lagi berjalan.

Pada anggota tubuhnya akan terjadi atrofi, yakni kondisi hilang atau berkurangnya ukuran salah satu bagian dari tubuh. Misalnya atrofi otot, massa otot berkurang dan mengecil. Efek paling parah dari kondisi tersebut adalah kelumpuhan. 

Alasan pemasungan orang dengan gangguan jiwa dan stigma negatifnya

pasung orang dengan gangguan jiwa

Pada akhir 2019, pemerintah Jawa Tengah menangani 511 kasus pasung pada orang dengan gangguan kejiwaan. Itu hanya yang tercatat dan tidak menutup kemungkinan ada lebih banyak yang belum tersentuh.

Kriti Sharma dalam laporannya untuk Human Right Watch yang dirilis pada 2016 melaporkan ada sekira 57.000 orang dengan gangguan jiwa yang hidup dalam pasung. Baik itu pasung tradisional menggunakan balok, dirantai, atau dikurung dalam ruangan

Sebagian kecil beruntung bisa dibebaskan oleh dinas kesehatan atau dinas sosial. Sisanya masih hidup dalam pasung, beberapa bahkan sampai akhir hayat.

Dulu, pemasungan yang dilakukan pada orang dengan gangguan jiwa biasa dilakukan dengan cara memasang kayu yang dibuat seperti borgol.

Kayu tersebut dipasang di kaki untuk membatasi ruang gerak, bahkan sampai tidak dapat melakukan aktivitas perawatan diri seperti mandi dan buang air.

Sekarang, pemasungan lebih sering terjadi dengan memasang borgol berantai di kedua kaki dan mengurungnya di dalam sebuah ruangan dan terpisah dari anggota keluarga lain.

hal yang harus dilakukan saat disandera

Seperti dikutip dari buletin penelitian sistem kesehatan RISKESDAS tahun 2013, penelitian antropologi mengenai pasung pada orang dengan gangguan jiwa di Indonesia menjabarkan beberapa alasan keluarga melakukan pemasungan.

Alasan keluarga melakukan pemasungan pada keluarganya yang mengalami gangguan jiwa adalah untuk menghindari dampak buruk yang akan ditimbulkan.

Hal ini disebabkan ODGJ kerap melakukan kekerasan dan bersikap agresif yang membahayakan orang dan benda-benda di sekitarnya.

Alasan lainnya adalah karena ketiadaan fasilitas kesehatan di wilayah tersebut. Keluarga terpaksa melakukan pasung pada anggota keluarganya yang ODGJ karena tidak dapat menjangkau fasilitas kesehatan. Baik itu karena lokasi yang jauh ataupun karena masalah ekonomi. 

Selain itu ada alasan-alasan lain, seperti memiliki keluarga ODGJ adalah aib ataupun pemahaman yang salah tentang gangguan jiwa misal dianggap kurang beriman, kerasukan, dan anggapan-anggapan yang lain.

Gangguan jiwa adalah hal yang tidak mudah diketahui penyebabnya. Banyak faktor biologis dan psikologis yang saling mempengaruhi.

Faktor ini tidak dapat berdiri sendiri, tetapi menjadi satu kesatuan yang secara bersama-sama menimbulkan gangguan jiwa.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber

Indonesia. Undang-Undang, Peraturan, dsb. 2014. Undang Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Jakarta

Minas H. and Diatri H. 2008. Pasung: Physical restraint and confinement of the mentally ill in the community. International Journal Of Mental Health Systems, 2 (1) p. 8. MEDLINE with Full Text, EBSCOhost, viewed 11 September 2014

Lestari Puji, Choiriyyah, Mathafi. 2014. Jurnal Keperawatan Jiwa STIKES. kecenderungan atau sikap keluarga penderita gangguan jiwa terhadap tindakan pasung. 

Yang juga perlu Anda baca

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Momen kelulusan pelajar dan mahasiswa harus dilewatkan saat pandemi COVID-19. Bagaimana hal ini berpengaruh pada kondisi psikologis mereka?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13/05/2020

Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

Kondisi pandemi bisa membuat hal-hal kecil menjadi pertengkaran antara suami istri, tapi konflik rumah tangga ini tidak serta-merta merupakan KDRT.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/04/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020