Meski Berbeda, Bisakah Halusinasi dan Delusi Terjadi Secara Bersamaan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 3 Juli 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Halusinasi dan delusi adalah contoh gejala yang sering muncul pada penderita gangguan psikologis. Kedua kondisi ini biasanya menandakan penyakit yang berbeda. Namun, ada pula gangguan psikologis yang menunjukkan kedua gejala ini bersamaan.

Perbedaan halusinasi dan delusi

Halusinasi adalah sensasi tak nyata yang tercipta oleh pikiran sendiri. Orang yang mengalami halusinasi dapat melihat sesuatu, mendengar suara, hingga mencium bebauan yang sesungguhnya tidak ada.

Selain menjadi gejala dari beberapa gangguan psikologis, halusinasi juga bisa disebabkan oleh efek samping obat, mabuk akibat minum alkohol, atau penyakit yang bersifat fisik seperti epilepsi.

Halusinasi dan delusi adalah dua hal yang berbeda. Delusi bukanlah suatu sensasi, melainkan sebuah keyakinan kuat yang bertentangan dengan kenyataan.

Orang yang mengalami delusi memercayai sesuatu yang sebenarnya salah atau tidak ada.

Delusi dapat menjadi gejala dari penyakit tertentu, seperti skizofrenia, atau muncul sebagian bagian dari masalah psikologis yang disebut gangguan delusi. Pemicunya dapat berasal dari faktor genetik, kelainan sistem saraf, serta stres.

Bisakah halusinasi dan delusi terjadi secara bersamaan?

penyebab halusinasi

Kendati berbeda, halusinasi maupun delusi dapat terjadi secara bersamaan pada penderita gangguan psikologis tertentu. Jika terjadi bersamaan, kedua kondisi ini umumnya menandakan gangguan berikut:

1. Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang memengaruhi cara penderita dalam berpikir, merasakan emosi, dan berperilaku. Penderita skizofrenia tampak seperti individu yang kehilangan kontak dengan realitas sebenarnya.

Gejala skizofrenia terbagi menjadi tiga kategori, sebagai berikut:

  • Gejala positif, yakni perilaku yang menunjukkan bahwa penderita memiliki realitas yang berbeda. Misalnya halusinasi, delusi, cara berpikir yang tidak biasa, dan gerak tubuh di luar kendali.
  • Gejala negatif, atau perilaku yang mengganggu kehidupan normal sehari-hari. Contohnya, raut wajah yang datar, tidak adanya kesenangan dari melakukan kegiatan, serta kesulitan saat melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Gejala kognitif, yang ditandai dengan penurunan kemampuan mengingat, memahami informasi, mengambil keputusan, dan memusatkan perhatian.

2. Gangguan delusi

Penderita gangguan delusi juga dapat mengalami halusinasi yang berkaitan dengan jenis delusi yang mereka alami. Contohnya, seseorang yakin bahwa dirinya memiliki bau badan dapat berhalusinasi mencium bau dari tubuhnya.

Ada pula jenis delusi yang disebut erotomania. Delusi ini membuat penderitanya meyakini bahwa seseorang yang ia kagumi telah jatuh cinta kepadanya. Penderita bisa saja berhalusinasi melihat atau mendengar suara sosok tersebut.

3. Gangguan psikotik singkat

Gangguan psikotik singkat ditandai dengan munculnya perilaku psikotik berupa delusi, halusinasi, dan kebingungan. Perilaku tersebut muncul secara tiba-tiba dan hanya bersifat sementara, biasanya selama satu hari hingga satu bulan.

Penyebab gangguan psikotik singkat belum diketahui secara pasti. Namun, stres berat atau trauma akibat kematian anggota keluarga, perilaku kriminal, atau bencana alam dapat memicu gejalanya.

Halusinasi dan delusi merupakan tanda dari gangguan psikologis serius yang membuat penderitanya hidup dalam realitas berbeda. Keduanya dapat membahayakan penderita maupun orang-orang di sekitarnya bila tidak ditangani.

Penanganan terhadap halusinasi serta delusi dapat dilakukan dengan kombinasi terapi dan obat oleh psikiater. Jika anggota keluarga Anda mengalami kondisi ini, Anda dapat ikut mendampinginya berkonsultasi atau bahkan mencatat gejalanya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Jangan Sampai Tertukar, Ini Perbedaan Skizofrenia dan Bipolar Disorder

Meski sama-sama termasuk penyakit kejiwaan, nyatanya ada banyak perbedaan skizofrenia dan bipolar disorder yang kerap sulit dibedakan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Psikologi 15 Desember 2018 . Waktu baca 5 menit

4 Kiat Andalan untuk Mencegah Kambuhnya Skizofrenia

Skizofrenia tidak terjadi setiap saat, melainkan bisa sembuh dan kambuh kapan pun. Sebelum terulang, masih ada kesempatan untuk mencegah skizofrenia kambuh.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 5 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit

Semakin Tua, Gejala Skizofrenia Bisa Makin Memburuk, Ini Kata Peneliti

Skizofrenia termasuk salah satu gangguan mental yang perlu segera diobati. Jika tidak, gejala skizofrenia bisa terus memburuk seiring bertambahnya usia.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Psikologi 10 November 2018 . Waktu baca 4 menit

Pseudoseizure, Kejang-kejang yang Menandakan Gejala Gangguan Mental

Ternyata, tidak semua kejang termasuk epilepsi alias ayan. Gejala kejang juga dapat terjadi akibat dipicu oleh gangguan jiwa seperti skizofrenia.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Hidup Sehat, Psikologi, Fakta Unik 31 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

delusi dan halusinasi

Delusi dan Halusinasi, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 1 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit
pasung orang dengan gangguan jiwa

Bahaya Pasung pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 April 2020 . Waktu baca 4 menit
sikzonoate

Sikzonoate

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 1 Agustus 2019 . Waktu baca 9 menit
fakta tentang skizofrenia

Bukan Penyakit Gila, Ini 5 Fakta Penting Skizofrenia yang Masih Disalahpahami

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 23 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit