Mengenal Hypodontia, Kelainan Genetik Saat Sejumlah Gigi Tak Tumbuh

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Hypodontia adalah kelainan genetik pada gigi ketika terdapat satu atau lebih gigi yang tidak tumbuh sama sekali. Tingkat keparahan hypodontia berbeda pada tiap orang dan ditentukan berdasarkan jumlah gigi yang hilang. Tanpa penanganan, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan makan, mengunyah, hingga berbicara.

Ciri-ciri dan penyebab hypodontia

membersihkan karang gigi

Pada kondisi normal, seluruh gigi susu seharusnya lengkap sejak anak berusia 3 tahun. Gigi susu kemudian digantikan oleh gigi tetap saat anak berusia 12-14 tahun. Gigi geraham belakang lalu menyusul tumbuh untuk melengkapi seluruh set gigi.

Namun, orang-orang dengan hypodontia tidak mengalami pertumbuhan gigi secara lengkap.

Pertumbuhan bisa terhenti pada gigi susu, tapi kebanyakan kasus hypodontia biasanya terjadi pada gigi tetap sehingga dampaknya bersifat permanen.

Hypodontia adalah kondisi yang disebabkan oleh kelainan genetik dan ada lebih dari 10 gen yang berperan dalam memunculkan kondisi ini.

Melansir laman National Organization for Rare Disorders, gen yang paling berperan adalah gen WNT10A.

Jika kedua orangtua memiliki gen WNT10A, anak yang terlahir berisiko tinggi mewarisi gen yang sama.

Gen ini membawa kelainan genetik yang disebut displasia ektodermal. Gejalanya yakni hypodontia, rambut kering, kelainan bentuk lidah, serta hiperhidrosis (keringat berlebihan).

Pada beberapa kasus, hypodontia juga dapat terjadi bersamaan dengan bibir sumbing. Akan tetapi, kasus hypodontia seperti ini biasanya disebabkan oleh mutasi gen lain seperti MSX1, IRF6, dan LRP6.

Mencegah dan mengatasi hypodontia

cara meratakan gigi

Hypodontia adalah kelainan genetik yang tidak dapat dicegah. Terkadang, hypodontia bahkan bisa terjadi tanpa penyebab yang pasti. Meski demikian, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk memperbaiki kelainan ini.

Sebelum memberikan penanganan, dokter perlu memastikan kondisi Anda terlebih dahulu menggunakan sinar-X.

Dokter juga akan mencermati tanda lain seperti adanya jarak renggang antargigi, bentuk geraham yang tidak normal, gigi berukuran kecil dan lancip, dan sebagainya.

Setelah itu, barulah dokter dapat memberikan tindakan selanjutnya.

Penanganan terhadap hypodontia bertujuan untuk memperbaiki penampilan Anda dan memulihkan kemampuan makan, mengunyah, maupun berbicara yang sempat terganggu.

Berikut adalah beberapa penanganan yang umum dilakukan terhadap penderita hypodontia:

1. Pemasangan kawat gigi

Pemasangan kawat gigi bertujuan untuk mengembalikan posisi gigi yang renggang sehingga Anda tidak perlu menggunakan gigi palsu. Jarak antargigi yang awalnya lebar lambat laun akan mengecil seperti gigi pada umumnya.

2. Mengatur ulang bentuk gigi

Metode ini dilakukan untuk memperbaiki bentuk gigi yang berukuran kecil atau berujung runcing. Dokter akan mengisi gigi tersebut dengan bahan khusus yang memiliki warna menyerupai gigi. Dengan begitu, gigi tampak memiliki ukuran dan warna yang normal.

3. Menggunakan gigi palsu

Ini adalah metode yang cukup sering digunakan untuk mengatasi hyperdontia. Gigi palsu dapat digunakan dengan tiga cara, yakni sebagai berikut:

  • Denture: Pemasangan gigi palsu yang bisa dilepas-pasang.
  • Dental bridge: Pemasangan gigi palsu di antara gigi alami. Gigi-gigi ini direkatkan menggunakan lem khusus.
  • Dental implant: Pemasangan implan gigi langsung ke tulang rahang.

Hyperdontia adalah kelainan gigi yang berpengaruh besar terhadap kemampuan makan dan berbicara. Kendati tak dapat dicegah, Anda dapat mengatasinya melalui sejumlah prosedur medis.

Penanganan sedini mungkin akan sangat membantu proses perbaikan gigi. Oleh sebab itu, segeralah berkonsultasi pada dokter apabila Anda merasa memiliki tanda-tanda dari kelainan ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Penyakit yang Mengintai Kesehatan Tubuh Jika Anda Malas Sikat Gigi

Bukan cuma gigi berlubang saja. Nyatanya ada banyak penyakit yang bisa muncul akibat malas gosok gigi, lho! Yuk cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 14 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Sebelum Memasang Crown Gigi, Kenali Dulu Ragam Efek Sampingnya

Meski manfaatnya begitu beragam, pemasangan crown gigi juga tidak luput dari risiko efek samping. Apa saja efek samping yang perlu diwaspadai?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 2 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Efek Samping dari Penggunaan Gigi Palsu

Memakai gigi palsu memang bertujuan untuk menyempurnakan gigi Anda, tetapi ada efek samping yang bisa muncul jika Anda tidak merawatnya dengan benar.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 1 November 2019 . Waktu baca 5 menit

Mengenal Bonding Gigi, Solusi Ampuh Memperbaiki Tampilan Gigi yang Rusak

Gigi yang pecah, patah, atau berubah warna dapat mengganggu penampilan dan menurunkan kepercayaan diri. Namun, bonding gigi bisa menjadi solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 28 September 2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
mulut segar saat puasa

5 Tips Menjaga Mulut Tetap Segar Saat Puasa di Bulan Ramadan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 11 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
asam mefenamat (mefenamic acid)

4 Cara Ampuh Mengatasi Sakit Gigi Saat Sedang Puasa

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 5 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
pulpotomi

Apa Itu Perawatan Pulpotomi untuk Gigi?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13 April 2020 . Waktu baca 4 menit
penyebab gigi rapuh

Gigi Tetap Rapuh Walaupun Sudah Rajin Sikat Gigi, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 14 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit