Kenali dan Waspadai Ciri-Ciri Penyakit Difteri yang Bisa Berakibat Fatal

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Difteri adalah momok penyakit menakutkan yang kembali mewabah di Indonesia sejak tahun 2017 silam. Pada kasus yang parah, difteri bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti kulit, sistem saraf, hingga bahkan ke jantung. Infeksi ini dapat berujung pada kematian jika tidak segera ditanggulangi. Dampak difteri bisa lebih fatal jika terjadi pada anak-anak. Maka dari itu, ayo kenali dan waspadai gejala difteri sebelum terlambat!

Penularan difteri 

Di Indonesia, difteri kembali mewabah karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dan vaksinasi difteri. Padahal orang-orang yang tidak pernah mendapatkan vaksin difteri sewaktu kecil atau yang tidak mendapatkan vaksin susulan sewaktu dewasa adalah yang paling berisiko terhadap penularan difteri.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri biasanya menular melalui kontak langsung dengan penderita. 

Baik itu kontak kulit langsung dengan memegang benda yang terkontaminasi bakteri difteri seperti dari gelas atau tisu bekas, maupun dari menghirup udara yang mengandung partikel bakteri difteri. Misalnya sehabis penderita difteri bersin atau batuk tidak menutup mulut, atau membuang ingus sembarangan.

Tanda-tanda difteri biasanya tidak langsung muncul setelah terpapar bakteri pertama kali. Gejala difteri umumnya baru tampak dalam 2 hingga 5 hari setelah seseorang terinfeksi. Bakteri akan melalui masa inkubasi terlebih dahulu yang rata-rata berlangsung selama 1-10 hari.

Gejala difteri berdasarkan jenisnya

Selaput abu-abu tebal yang juga dikenal dengan istilah “pseudomembrane” merupakan salah satu ciri utama dari penyakit difteri. 

Selaput lendir ini tersusun atas leukosit, bakteri, pecahan sel, dan fibrin. Ia melekat pada jaringan di dasarnya sehingga akan mengeluarkan darah ketika Anda mencoba mengangkatnya. 

Selaput lendir dapat menyebar secara luas, bahkan bisa menutupi seluruh bagian tenggorokan dan cabang bronkus. Karena selaput lendir ini mengandung bakteri difteri maka ia sangat menular. Selaput lendir ini dapat menyebabkan kematian karena dapat menghambat jalan napas penderita difteri. 

Bakteri difteri dapat menginfeksi beberapa bagian tubuh. Secara medis, penyakit difteri sendiri dapat dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan bagian tubuh yang mengalami gejala difteri. 

Dalam edisi ketiga buku Manson’s Tropical Infectious Diseases, penyakit difteri dibagi ke dalam:

  • faucial diphtheria yaitu jenis difteri paling umum yang menyerang sistem pernapasan
  • laryngeal diphtheria atau difteri laring yang menyerang pita suara, 
  • nasal diphtheria yang memengaruhi saluran napas di hidung, dan
  • cutaneous diphtheria yang berdampak pada kulit.

Keempat jenis bakteri ini akan memperlihatkan gejala difteri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengenali setiap gejalanya sehingga selalu siaga melakukan penanganan pada penyakit ini.

Pasalnya, saat difteri dibiarkan tanpa pengobatan, penyakit ini dapat mengarah pada berbagai komplikasi yang merugikan penderitanya. 

  1. Gejala difteri secara umum

Faucial diphtheria merupakan jenis difteri yang paling umum ditemukan pada wabah penyakit difteri. Jenis difteri ini menyerang saluran pernapasan. 

Bakteri penyebab difteri yang masuk ke dalam tubuh akan menempel pada saluran napas, termasuk pada organ-organ yang berperan dalam proses pernapasan. Selanjutnya, bakteri akan menghancurkan sel-sel yang terdapat dalam sistem pernapasan menggunakan racunnya. 

Dalam selang beberapa hari, sel-sel mati akan membentuk selaput lendir tebal berwarna abu-abu.

Selaput lendir ini biasanya dikelilingi oleh lingkaran merah yang muncul akibat peradangan pada salah satu atau kedua amandel. Pada awalnya, gejala difteri memang terlihat seperti penyakit amandel dengan hanya satu atau beberapa selaput lendir yang menempel pada salah satu amandel. 

Lama kelamaan selaput lendir ini bisa melebar sehingga menyelimuti bagian lidah hingga ke bagian dalam hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Tak jarang, selaput ini menyebabkan pembengkakan pada bagian leher dan kelenjar getah bening.

Kemunculan gejala difteri yang berhubungan dengan gangguan pernapasan pada jenis difteri ini umumnya berlangsung secara perlahan.

Ciri-ciri faucial diphtheria

  • Sakit tenggorokan dan suara serak
  • Kelenjar getah bening membesar; leher tampak bengkak
  • Hidung mampet atau hidung mengeluarkan lendir
  • Demam dan menggigil
  • Tubuh terasa lemah, ngilu, dan nyeri (malaise)
  • Sulit menelan
  • Batuk dengan suara keras dan serak

Ciri-ciri difteri tambahan dapat mulai muncul ketika infeksi berkembang makin parah, termasuk:

  • Kesulitan bernapas (sesak napas atau bernapas cepat)
  • Perubahan penglihatan
  • Bicara cadel
  • Tanda-tanda syok, seperti kulit pucat dan dingin (mungkin membiru), berkeringat, dan detak jantung yang cepat.

Anak-anak yang terjangkit infeksi difteri dalam rongga di belakang hidung dan mulutnya lebih mungkin untuk menampakkan gejala awal seperti berikut ini:

  • Mual dan muntah
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Demam

Gejala dari komplikasi difteri pernapasan 

Racun yang dikeluarkan bakteri difteri juga bisa terbawa dari saluran pernapasan sehingga berdampak pada fungsi organ-organ lain di dalam tubuh. 

Apabila organ yang terpengaruh merupakan jantung dan sistem saraf, maka dapat menimbulkan komplikasi seperti peradangan pada jantung (myocarditis), gangguan irama jantung, dan pelemahan otot serta saraf, dan gangguan pada penglihatan.

  1. Gejala difteri laring

Setelah difteri pada saluran pernapasan, jenis difteri kedua yang kerap dialami adalah difteri laring, khususnya oleh anak-anak. Difteri menyerang bagian pita suara sehingga salah satu ciri utamanya adalah suara yang berubah serak dan terdengar bunyi bising atau stridor ketika bernapas.

Gangguan kesehatan yang muncul di awal umunya adalah:

  • Demam
  • Suara serak 
  • Batuk kering
  • Napas yang memendek 

Gejala difteri utama seperti selaput lendir terkadang sama sekali tidak muncul. Namun ketika muncul, selaput lendir sangat menghambat pernapasan dan dapat mengembang menyebabkan edema atau pembengkakan pada leher yang berlangsung secara menerus selama 24 jam. 

Pada kasus difteri parah yang menyerang anak-anak, difteri bisa sampai membuat anak merasa kesulitan bernapas, berkeringat, dan mengalami sianosis atau perubahan warna kulit dan selaput mukosa menjadi kebiruan.

  1. Gejala difteri nasal

Selain selaput lendir, ciri difteri yang utama lainnya adalah keluarnya cairan dari hidung. Cairan yang dikeluarkan mulanya sangat encer, namun lama kelamaan bisa mengeluarkan nanah atau bahkan bercampur dengan darah. 

Gejala difteri nasal paling umum terjadi pada bayi dan bisa bersifat ringan, kecuali jika disertai dengan gejala difteri yang menyerang saluran pernapasan.

  1. Gejala difteri kulit

Cutaneous diphtheria atau difteri kulit dapat menyebabkan gangguan pada kulit. Jenis difteri lebih umum ditemukan di daerah tropis. 

Jika Anda mengalami difteri jenis ini biasanya akan merasakan sakit, bintik-bintik atau ruam kemerahan, dan pembengkakan pada kulit. Tanda-tanda seperti ini dapat muncul pada kulit di area kaki dan tangan.  

Ruam pada kulit akan membentuk selaput lendir atau membran yang dikelilingi oleh bercak merah. Selaput lendir ini bisa sembuh dalam waktu dua hingga tiga minggu, namun akan meninggalkan bekas luka.

Gejala seperti lapisan atau membran abu-abu yang melapisi bagian lidah juga bisa muncul pada jenis difteri ini. 

  1. Gejala difteri ganas (malignant diphtheria)

Apabila infeksi yang disebabkan bakteri difteri semakin parah, maka dapat menimbulkan malignant diphtheria. Gejala difteri yang muncul lebih parah, beragam, dan akut daripada jenis difteri lainnya. 

Lebih dari 50% kasus difteri ganas berakibat fatal dan memiliki angka kematian yang tinggi, namun tetap bisa disembuhkan melalui pengobatan difteri. 

Selaput lendir lebih banyak muncul dan menyebar dengan cepat ke berbagai bagian tubuh lainnya, seperti ke langit-langit tenggorokan, nasofaring, dan lubang hidung.

Secara umum inilah yang dialami oleh penderita difteri ketika kondisinya bertambah parah:

  • Demam tinggi
  • Denyut nadi cepat, 
  • Leher bengkak
  • Mengeluarkan darah dari mulut, hidung, dan kulit 
  1. Ciri-ciri difteri pada beberapa bagian tubuh lainnya

Infeksi bakteri penyebab difteri juga dapat berlangsung di bagian tubuh lainnya, seperti telinga dan vagina. Hal ini dapat menyebabkan telinga mengeluarkan cairan yang sama seperti yang terjadi pada gejala difteri nasal

Gejala akibat komplikasi difteri

Difteri adalah infeksi menular yang komplikasinya sangat berbahaya jika tidak segera diobati. Risiko komplikasi dapat muncul ketika racun bakteri difteri sudah sampai menyerang organ vital seperti otak, sistem saraf, dan jantung.

Gejala difteri yang berlangsung semakin parah menandakan dampak dari penyakit ini semakin mebahayakan keselamatan nyawa penderitanya. Kondisi ini ditujukkan dengan meluasnya penyebaran selaput lendir di dalam tubuh.

Meskipun penderita difteri telah sembuh dari infeksi, risiko kematian tetap tinggi karena adanya dampak dari racun yang menyebar di dalam tubuh. Racun ini akan mengakibatkan sejumlah komplikasi yang juga memiliki tanda dan ciri gangguan kesehatan tersendiri.

Permasalahan kesehatan yang merupakan komplikasi dari difteri di antaranya adalah:

1. Miokarditis

Racun yang dikeluarkan bakteri difteri juga dapat terbawa melalui alairan darah dan merusak sel-sel di dalam tubuh, hingga meracuni jantung. Kondisi ini menyebabkan terjadinya miokarditis, yaitu peradangan pada dinding otot jantung.

Rata-rata 10 persen pasien difteri mengalami miokarditis setelah 1 sampai 2 minggu meredanya gejala difteri yang menyerang laring. Gangguan jantung yang disebabkan oleh miokarditis bisa bersifat ringan hingga berat, bahkan bisa menyebabkan kegagalan jantung yang kematian secara tiba-tiba.

Gejala miokarditis secara umum

Miokarditis yang dapat ditandai dengan berbagai kondisi klinis seperti:

  • Melemahnya suara jantung
  • Irama jantung berdetak dengan cepat
  • Terkadang muncul tanda-tanda gagal jantung kongestif
  • Kontraksi ventrikel jantung melemah

2. Neuropati

Sama halnya dengan yang terjadi pada gangguan miokarditis, sistem saraf juga dapat terpengaruh oleh infeksi dan racun bakteri yang terjadi dibagian faring. Kondisi toksisitas neurologis atau sistem saraf yang teracuni disebut juga dengan neuropati atau neuritis.

Komplikasi ini relatif jarang terjadi dan biasanya muncul setelah infeksi pernapasan parah yang diakibatkan difteri. Namun, komplikasi pada sistem saraf muncul di akhir, umumnya setelah 3 sampai 8 minggu gejala difteri umum berlangsung, bahkan hingga gejala tersebut mereda.

Racun tersebut menyebabkan kerusakan pada sistem saraf terutama pada bagian tenggorokan sehingga menyebabkan kesulitan untuk menelan makanan. Sistem saraf yang mengatur pergerakan tangan dan kaki juga bisa terdampak sehingga mengakibatkan kelemahan otot yang parah.

Apabila racun dari C. diphtheria sampai merusak bagian saraf yang mengatur otot pernapasan, maka otot tersebut bisa mengalami kelumpuhan. Alhasil, proses respirasi atau pernapasan tidak mungkin bisa berlangsung tanpa alat bantu yang mendukung keberlangsungan pernapasan.

Gejala neuropati secara umum

Komplikasi neuropati diperlihatkan dengan sejumlah kondisi klinis yang meliputi:

  • Kelumpuhan otot faring, laring, dan pernapasan
  • Penglihatan yang kabur
  • Terjadinya regurgitasi atau cairan yang naik ke atas hidung
  • Kegagalan napas akibat melemahnya otot pernapasan
  • Pelemahan pada sejumlah otot tubuh
  • Menurunya sensitifitas sensori

Beberapa komplikasi lainnya yang juga bisa disebabkan oleh difteri adalah tubular akut, nekrosis, koagulasi intravaskular diseminata, endokarditis, dan pneumonia sekunder.

Infeksi kulit yang terkait komplikasi difteri termasuk eksim, psoriasis, atau impetigo. Pada kasus yang parah, difteri dapat menyebabkan kematian.

Tidak semua orang merasakan gejala difteri

Pada beberapa orang, gejala difteri kadang tidak tampak jelas. Ada juga kasus infeksi difteri di luar sana yang hanya menimbulkan gejala ringan seperti demam dan sakit tenggorokan biasa layaknya gejala flu umum.

Meski begitu, perlu dipahami bahwa orang yang terjangkit difteri masih dapat menularkan penyakit tersebut pada orang lain yang sehat hingga 5-6 minggu setelah paparan infeksi awal walau mereka tidak merasa sakit dan tidak menunjukkan ciri-ciri difteri sama sekali.

Kapan harus ke dokter?

Gejala awal difteri memang mirip dengan gejala yang muncul pada infeksi saluran napas akibat virus, yaitu pilek atau flu. Namun, tak lantas Anda bisa mengabaikannya begitu saja. Pada waktu tertentu gejala difteri akan berkembang sehingga membutuhkan evaluasi lebih lanjut dari tenaga medis.

Pemeriksaan oleh dokter sangat diperlukan terutama bagi Anda yang sebelumnya belum melaksanakan vaksin difteri. Oleh sebab itu, segera hubungi dokter apabilan Anda atau anggota keluarga lainnya mengalami gejala atau kondisi seperti ini:

  • Sakit tenggorokan yang parah sehinggan sulit untuk menelan
  • Pembengkakan di leher
  • Sulit bernafas
  • Sakit dada
  • Kelemahan ekstrem atau mati rasa pada otot tubuh 
  • Berinteraksi dengan seseorang dengan diketahui atau dicurigai difteri
  • Demam 
  • Melemahnya sistem kekebalan tubuh 
  • Munculnya pseudomembran atau selaput lendir pada faring atau tenggorokan
  • Suara berubah serak

Diagnosis difteri

Untuk mendiagnosis difteri, pertama dokter akan mencoba mengidentifikasi tanda-tanda dan gangguan kesehatan yang Anda alami melalui pemeriksaan fisik. Dokter akan mencurigai keberadaan penyakit ini jika ditemukan membran abu-abu menutupi amandel dan tenggorokan.

Setelahnya, untuk memastikan keberadaan bakteri serta toksin difteri, Anda perlu melaksanakan serangkaian tes diagnostik.

Dalam tes diagnostik difteri, dokter akan mengambil sampel sel yang berasal dari tenggorokan, hidung, atau luka pada kulit. Selanjutnya akan dilakukan analisis kultur pada mikroskop untuk melihat apakah ada bakteri yang menyebabkan difteri.

Hasil diagnosis bisa dipastikan dengan identifikasi keberadaan bakteri C. diphtheriae yang terisolasi pada sampel. Akan tetapi diagnosis kultur dapat memberikan hasil yangnegatif sekalipun sebenarnya telah terjadi infeksi bakteri difteri.

Hal seperti ini dapat terjadi apabila, penderita difteri mengonsumsi antibiotik terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan di rumah sakit.

Evaluasi perkembangan bakteri difteri

Untuk mengevaluasi sejauh mana perkembangan penyakit difteri dan dampaknya terhadap sistem organ lain, perlu dilakukan beberapa tes lanjutan, seperti:

  • tes darah tambahan,
  • studi pencitraan (CT leher), dan
  • EKG (elektrokardiogram). 

Jika memungkinkan, kadar enzim yang berasal dari jantung juga harus selalu dimonitor melalui alat elektrokardiogram. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi seperti gangguan miokardial dan gangguan konduksi.

Difteri harus ditangani dengan cepat untuk mencegah komplikasi serius. Oleh karena itu, jika dicurigai difteri, perawatan kemungkinan akan dimulai sebelum hasil tes dikonfirmasi.

Apabila dokter mengidentifikasi gejala difteri cukup kentara atau terlihat dengan jelas, perawatan bisa segera dimulai, bahkan sebelum memeperoleh hasil tes bakteri.

Dokter juga dapat mengambil sampel jaringan dari luka yang terinfeksi dan memeriksanya di laboratorium untuk memeriksa jenis difteri yang mempengaruhi kulit (diputan kulit).

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca