4 Obat Herbal yang Efek Sampingnya Meningkatkan Risiko Penyakit Hati

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Selain obat yang diresepkan dokter, beberapa penyakit dapat dibantu disembuhkan dengan obat-obatan herbal. Namun, perlu Anda ketahui bahwa setiap obat, termasuk obat herbal memiliki efek samping. Beberapa obat herbal yang akan dibahas dalam ulasan ini memang bisa membantu pengobatan suatu penyakit, tetapi juga punya efek samping yang dapat meningkatkan risiko penyakit hati.

Obat herbal yang bisa meningkatkan risiko penyakit hati

Obat herbal digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk meringankan suatu kondisi. Obat ini dibuat dari tanaman yang  dipercaya memiliki potensi menyembuhkan atau meredakan, seperti antiradang, antibakteri, atau antijamur. Meski sudah digunakan turun-temurun, obat ini tidaklah selalu aman.

Meski bekerja mengobati suatu penyakit, kandungan obat bisa juga menyerang organ tubuh yang sehat. Salah satunya berdampak buruk pada fungsi hati. Untuk itu, penggunaan obat harus atas izin dan diawasi oleh dokter. Berikut daftar obat herbal yang bisa meningkatkan risiko penyakit hati.

1. Greater celandine

Sumber: Z Living

Greater celandine dikenal juga dengan Chelidonium majus. Obat ini berasal dari tanaman hijau berdaun mirip seledri dengan bunga berwarna kuning. Tanaman ini hanya berbunga saat peralihan musim semi ke musim panas, yakni sekitar bulan Mei sampai September.

Greater celandine digunakan untuk mengobati gangguan empedu, gejala maag, dan obat penenang. Namun, studi pada jurnal Gastroenterology pernah menemukan bahwa obat herbal ini bisa menyebabkan penyakit hati.

Selama 2 tahun periset mengamati penggunaan obat celandine untuk mengobati masalah lambung. Ternyata beberapa pasien mengalami hepatitis kolestatik. Setelah penggunaan obat dihentikan, kadar enzim di hati kembali normal dalam 2 hingga 6 bulan.

2. Pennyroyal

Sumber: Shutterstock

Pennyroyal berasal dari tanaman Mentha pulegium. Tanaman ini berdaun hijau dengan sekumpulan bunga kecil berwarna ungu. Bagian daunnya dimanfaatkan sebagai minyak esensial untuk pengharum sabun.

Selain itu, tanaman ini telah digunakan sejak lama sebagai obat sakit perut, perut kembung, dan mengurangi gejala menstruasi. Sayangnya, obat herbal ini memiliki efek samping merusak fungsi hati sehingga meningkatkan risiko penyakit hati jika diminum.

3. Kava kava

Sumber: Alibaba

Kava-kava merupakan obat herbal untuk mengobati kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur. Obat ini terbuat dari tanaman Piper methysticum yang berdaun hijau berbentuk tanda hati.

Meski digunakan sebagai obat untuk kecemasan, beberapa negara melarang penggunaan obat ini. Pasalnya, badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat, FDA,  menyebutkan bahwa obat herbal ini dapat merusak hati sehingga meningkatkan risiko penyakit hati di kemudian hari.

4. Chaparral

Sumber: Wikipedia

Chaparral adalah obat herbal yang berasal dari tanaman Larrea tridentata. Selama berabad-abad, chaparral digunakan untuk campuran teh karena kandungan antioksidan, yaitu asam nordihydroguaiaretic (NDGA), yang cukup kuat.

Kandungan antioksidannya dipercaya dapat mengobati berbagai infeksi bakteri dan virus, salah satunya virus HIV. Namun, setelah diteliti lebih jauh, khasiat chaparral belum terbukti ampuh. Berdasarkan laporan National Institute of Health justru dulu pernah menyatakan bahwa penggunaan obat herbal ini malah meningkatkan kasus penyakit hati.

Periset mencurigai bahwa kandungan NDGA pada chaparral ini juga memiliki sifat beracun pada organ hati. Beberapa penyakit hati akibat efek samping chaparral antara lain gagal hati akut dan sirosis.

Sumber foto: Family Doctor.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Jenis Obat Rematik Alami untuk Membantu Mengatasi Gejala yang Timbul

Ada beragam obat rematik alami. Mulai dari minyak esensial sampai rempah-rempah, cara mana saja yang sudah pernah Anda coba?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Arthritis (Radang Sendi), Kesehatan Muskuloskeletal 6 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Anda Punya Alergi pada Obat? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mencegahnya

Alergi obat adalah reaksi abnormal tubuh terhadap efek obat. Cari tahu gejala, penyebab, dan perbedaannya dengan efek samping obat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 11 menit

Pilihan Obat Tradisional (Herbal) untuk Membantu Mengatasi Kanker Otak

Selain pengobatan medis, obat tradisional kanker otak sering kali digunakan untuk mengatasi penyakit ini. Apa saja obat herbal yang aman digunakan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker, Kanker Otak 16 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Obat Herbal yang Berpotensi Mengobati Kanker Lambung (Perut)

Selain kemoterapi, kanker lambung (perut) mungkin juga bisa diredakan gejalanya dengan obat tradisional. Apa saja obat herbal kanker lambung yang aman?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker, Kanker Lambung 25 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat kusta

Daftar Obat Kusta yang Kerap Diresepkan Dokter

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 10 November 2020 . Waktu baca 6 menit
manfaat temulawak untuk kesehatan obat

9 Manfaat Temulawak Sebagai Obat Alami

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 3 November 2020 . Waktu baca 13 menit
obat herbal dan alami untuk kanker prostat

Pedoman Memilih Suplemen dan Obat Herbal yang Aman Dikonsumsi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
beli obat online

Sebenarnya, Bolehkah Beli Obat-obatan dari Aplikasi Online?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 9 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit