Mengapa Mati Rasa di Kepala Bisa Terjadi? Kenali Yuk Apa Saja Penyebabnya!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Mati rasa tidak hanya dapat terjadi pada tangan dan kaki, melainkan juga di daerah kepala. Walaupun termasuk kondisi yang langka, ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Apa saja, ya?

Penyebab mati rasa atau baal di kepala

obat sakit kepala

Mati rasa atau dalam dunia kesehatan lebih dikenal sebagai paresthesia ini dapat terjadin akibat beberapa hal, terutama di daerah kepala. Mulai dari penyakit, sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, hingga mengalami cedera dapat menjadi dalang dari kondisi yang cukup langka ini. 

Pada dasarnya, terdapat sebuah kelompok saraf utama yang menjadi penghubung antara otak dengan beberapa bagian pada wajah dan kepala. Apabila saraf tersebut meradang, tertekan, atau rusak, tentu bisa menimbulkan kondisi mati rasa. 

Kondisi ini juga cukup sering terjadi ketika aliran darah tersumbat atau pasokan darah tidak cukup. Selain itu, beberapa masalah kesehatan di bawah ini juga dapat menjadi penyebab mengapa mati rasa bisa terjadi di daerah kepala, yaitu:

1. Gangguan autoimun

Salah satu penyebab mengapa mati rasa di kepala bisa terjadi adalah Anda mengidap gangguan autoimun. 

Misalnya, diabetes dapat menyebabkan kerusakan saraf secara permanen. Kondisi ini disebut sebagai neuropati diabetes. Neuropati dapat memengaruhi lebih dari satu saraf. Jika rusak, otot dan stimulasi saraf pada otot pun berkurang. 

Hal ini bisa terjadi pada otot apa saja, seperti wajah, tangan, kaki, hingga menjalar ke kepala. Akibatnya, mati rasa pun tidak dapat dihindari karena adanya gangguan autoimun yang mengganggu sistem saraf pusat. 

2. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Mebhydrolin adalah

Selain gangguan autoimun, ternyata mengonsumsi obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan mati rasa di kepala. 

Menurut The Foundation for Peripheral Neuropathy, ada beberapa obat yang dapat menyebabkan mati rasa, terutama pada daerah kepala, seperti:

  • Obat anti-alkohol
  • Antikolvusan, obat antiepilepsi
  • Obat untuk penyakit jantung dan tekanan darah
  • Obat untuk mengatasi masalah kulit tertentu
  • Obat untuk mengobati kanker, terutama selama kemoterapi berlangsung

Pada beberapa orang, obat-obatan di atas dapat menimbulkan mati rasa. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena seiring dengan berjalannya waktu perasaan tidak nyaman tersebut akan hilang. 

Apabila tidak kunjung reda, cobalah untuk mengurangi dosis obat yang Anda konsumsi atau konsultasikan kepada dokter ketika sudah sangat mengganggu. 

3. Sakit kepala

Sakit kepala gejala stroke ringan

Sakit kepala ternyata juga dapat menyebabkan baal di kepala. Apabila sakit kepala yang Anda rasakan tegang, sering terjadi, dan menyebabkan mati rasa, mungkin menandakan kondisi yang cukup serius. 

Mati rasa adalah salah satu gejala awal dari berbagai jenis sakit kepala. Mulai dari migrain, sakit kepala cluster, hingga sakit kepala yang membuat mata Anda sakit. 

Penyebab pastinya memang belum diketahui, tetapi ketika kondisi ini terjadi pada Anda terlalu sering, sebaiknya konsultasikan ke dokter agar mendapatkan perawatan yang tepat. 

4.. Mengalami cedera

cedera kepala ringan

Mengalami cedera adalah penyebab yang paling umum mengapa mati rasa di kepala dapat terjadi pada Anda. 

Misalnya, ketika Anda mengalami kecelakaan, terdapat benturan pada kepala yang tidak dapat dihindari. Cedera tersebut ternyata dapat menyebabkan efek samping setelahnya, yaitu mati rasa. 

Hal ini dikarenakan akar saraf yang terbentuk dari sumsum tulang belakang saling terhubung satu sama lain dan membentuk saraf perifer. Saraf tersebut akhirnya bertugas sebagai pemasok darah untuk lengan dan kaki, tetapi tidak jarang mengalami cedera. 

Cedera tersebut sering terjadi akibat adanya peregangan atau tekanan yang berlebihan di leher yang disebabkan oleh cedera olahraga atau kecelakaan. Akibatnya, rasa sakit dan mati rasa itu pun bisa dirasakan pada tubuh Anda. 

Mati rasa yang terjadi di kepala mungkin termasuk kondisi yang cukup langka. Akan tetapi, ketika kondisi ini sering terjadi pada Anda, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 16, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 12, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca