Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Dampak pandemi COVID-19 di Indonesia belakangan menyebabkan jutaan karyawan kena pemutusan hubungan kerja atau PHK. Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba ini bisa membuat mental terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan mental mereka.

Menjelaskan mental karyawan yang di-PHK karena COVID-19

kesehatan mental kehilangan pekerjaan

Datangnya pandemi COVID-19 berpengaruh ke banyak sektor, termasuk sektor bisnis dan ekonomi. Banyak usaha memilih menutup operasional mereka untuk sementara.

Hal tersebut membuat bisnis mereka merugi dan akhirnya terpaksa merumahkan para karyawan tanpa digaji atau bahkan sampai melakukan PHK. 

PHK mendadak karena COVID-19 menjadi tantangan finansial dan psikologis tersendiri. Terlebih bagi mereka yang mengandalkan gaji sebagai pemasukan satu-satunya.

Belum lagi pikiran soal cicilan utang, kartu kredit, dan kewajiban keuangan lainnya yang menjadi tanggungan setiap bulannya. Beberapa terancam kehilangan rumah, diusir dari kontrakan. Banyak alasan keuangan yang mengkhawatirkan.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

392,934

Terkonfirmasi

317,672

Sembuh

13,411

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Studi menunjukkan bahwa orang yang menderita kesulitan keuangan, kehilangan rumah, atau kehilangan pekerjaan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental dan kesehatan fisik.

Di antaranya, meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, penggunaan obat anti-depresi, peningkatan gejala somatik seperti kelelahan atau sakit kepala.

Masalah keuangan keluarga karyawan yang kena PHK ini juga bisa merembet ke permasalahan rumah tangga.

Pasangan mungkin akan saling menyalahkan, karena tidak pandai menghemat pengeluaran, karena tidak segera mencari pemasukan alternatif, atau saling menyalahkan karena tidak mengantisipasi keadaan ini sebelumnya.

Karyawan kena PHK karena COVID-19 berdampak pada masalah emosional

kesehatan mental kehilangan pekerjaan

Kena PHK secara tiba-tiba terutama karena COVID-19 melibatkan banyak perubahan sekaligus. Selain kehilangan penghasilan, kehilangan pekerjaan juga disertai dengan kerugian besar lainnya.

Para psikolog mencatat bahwa kehilangan pekerjaan seringkali sama dengan kesedihan patah hati akibat kehilangan orang yang dicintai.

Lintasan emosional kesehatan mental saat kehilangan pekerjaan ini dapat mencakup tahapan kesedihan yang berawal dari kekagetan dan penolakan, hingga kemarahan, penerimaan, dan harapan.

Dawn Norris, psikolog yang fokus pada masalah identitas diri, mengatakan kehilangan pekerjaan terutama pada karyawan yang kena PHK juga bisa dirasa sebagai kehilangan jati diri. 

Ia menjelaskan, sebagian besar kehidupan masyarakat digerakkan oleh uang, laba, dan daya penghasilan. Hal ini menjadikan profesi sebagai bagian utama cara mengidentifikasi seseorang.

“Jadi, jika Anda kehilangan pekerjaan, Anda dapat dengan mudah kehilangan identitas Anda juga,” jelas Norris yang juga penulis buku penulis buku Job Loss, Identity, and Mental Health.

COVID-19

Meskipun memang benar uang seringkali jadi masalah utama selama seseorang menjadi pengangguran. Tapi bagi sebagian orang, masalah identitas bahkan lebih mengecewakan daripada masalah mereka dengan uang.

Dalam penelitiannya yang berfokus pada masyarakat kelas menengah yang kehilangan pekerjaan, Norris menemukan dua pertiga dari mereka mengalami masalah psikologis terkait identitas. 

“Mereka mengatakan bahwa masalah mereka dengan identitas membuat mereka merasa tertekan, cemas, dan marah,” kata Norris.

Penelitian tersebut menjelaskan masalah emosional yang terjadi pada karyawan yang kena PHK secara tiba-tiba terutama saat COVID-19.

Menjaga kesehatan mental karyawan saat kena PHK

wn tiongkok coronavirus bali

Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk mengendalikan situasi, mempertahankan semangat, dan menemukan tujuan baru.

Psikolog asal New York Adam Benson mengatakan orang harus mengenali faktor-faktor dari situasi mereka yang dapat dan tidak dapat mereka kendalikan.

Setelah mengenali, maka fokuslah pada hal yang bisa dikendalikan yaitu mengidentifikasi masalah, seperti mengurangi pengeluaran rumah tangga pada satu periode tertentu.

Yang berbeda pada karyawan kena PHK dan pada situasi pandemi COVID-19 saat ini adalah keyakinan bahwa ini hanya keadaan sementara. Percaya bahwa setelah pandemi berakhir, semua akan terkendali dan mereka bisa bangkit kembali

Selain itu, ada bukti bahwa sifat kolektif dari pengalaman ini membawa seseorang pada perasaan bahwa ia dan yang lainnya melalui masalah ini bersama-sama.

Banyak kalangan yang mengadakan kampanye dan galang dana untuk mendukung para karyawan yang kena PHK atau mereka yang kehilangan pekerjaan.

Kapan Pandemi COVID-19 akan Berakhir?

Keadaan kolektif ini, menurut Benson, mungkin membantu bahwa kena PHK yang diterima para karyawan bukan kesalahan dia sebagai individu.

“Ini mendukung gagasan bahwa ketika kesehatan mental mereka goyah,  merasa sedih dan marah karena kehilangan pekerjaan, maka alasan ini bisa mengurangi perasaan sedih tersebut,” tutur Benson.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

Perceraian memang bukan sesuatu yang tabu. Tapi keutuhan rumah tangga adalah cita-cita banyak orang. Bagaimana cara menghindari perceraian?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Psikologi, Seks & Asmara 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Laki-laki Lebih Berisiko Mengalami Gejala Buruk Saat Terinfeksi COVID-19

Sejumlah studi menunjukkan bahwa laki-laki lebih berisiko mengalami gejala buruk COVID-19 daripada perempuan. Perbedaan respons imun salah satu sebabnya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Infeksi COVID-19 Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

COVID-19 baru-baru ini diduga dapat menyebabkan gangguan pendengaran mendadak. Apakah gangguan pendengaran akibat COVID-19 bisa diobati?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Kepadatan Penduduk Sebuah Kota Menentukan Lama Waktu Pandemi COVID-19 Berlangsung

Kepadatan penduduk suatu kota dapat memengaruhi lama waktu pandemi COVID-19 berlangsung. Kota besar diprediksi bakal lebih lama mengalami pandemi, mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 19 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pria sulit menangis

Alasan Psikologis Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibanding Wanita

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
kebiasaan mencuci tangan covid-19

Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
covid-19 vaksin yang terburu-buru

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
KDRT konflik rumah tangga

Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit