Kesehatan Mental Karyawan Kena PHK Karena Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update April 29, 2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Dampak pandemi COVID-19 di Indonesia belakangan menyebabkan jutaan karyawan kena pemutusan hubungan kerja atau PHK. Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba ini bisa membuat mental terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan mental mereka.

Menjelaskan mental karyawan yang di-PHK karena COVID-19

kesehatan mental kehilangan pekerjaan

Datangnya pandemi COVID-19 berpengaruh ke banyak sektor, termasuk sektor bisnis dan ekonomi. Banyak usaha memilih menutup operasional mereka untuk sementara.

Hal tersebut membuat bisnis mereka merugi dan akhirnya terpaksa merumahkan para karyawan tanpa digaji atau bahkan sampai melakukan PHK. 

PHK mendadak karena COVID-19 menjadi tantangan finansial dan psikologis tersendiri. Terlebih bagi mereka yang mengandalkan gaji sebagai pemasukan satu-satunya.

Belum lagi pikiran soal cicilan utang, kartu kredit, dan kewajiban keuangan lainnya yang menjadi tanggungan setiap bulannya. Beberapa terancam kehilangan rumah, diusir dari kontrakan. Banyak alasan keuangan yang mengkhawatirkan.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

22,750

Terkonfirmasi

5,642

Sembuh

1,391

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Studi menunjukkan bahwa orang yang menderita kesulitan keuangan, kehilangan rumah, atau kehilangan pekerjaan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental dan kesehatan fisik.

Di antaranya, meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, penggunaan obat anti-depresi, peningkatan gejala somatik seperti kelelahan atau sakit kepala.

Masalah keuangan keluarga karyawan yang kena PHK ini juga bisa merembet ke permasalahan rumah tangga.

Pasangan mungkin akan saling menyalahkan, karena tidak pandai menghemat pengeluaran, karena tidak segera mencari pemasukan alternatif, atau saling menyalahkan karena tidak mengantisipasi keadaan ini sebelumnya.

Karyawan kena PHK karena COVID-19 berdampak pada masalah emosional

kesehatan mental kehilangan pekerjaan

Kena PHK secara tiba-tiba terutama karena COVID-19 melibatkan banyak perubahan sekaligus. Selain kehilangan penghasilan, kehilangan pekerjaan juga disertai dengan kerugian besar lainnya.

Para psikolog mencatat bahwa kehilangan pekerjaan seringkali sama dengan kesedihan patah hati akibat kehilangan orang yang dicintai.

Lintasan emosional kesehatan mental saat kehilangan pekerjaan ini dapat mencakup tahapan kesedihan yang berawal dari kekagetan dan penolakan, hingga kemarahan, penerimaan, dan harapan.

Dawn Norris, psikolog yang fokus pada masalah identitas diri, mengatakan kehilangan pekerjaan terutama pada karyawan yang kena PHK juga bisa dirasa sebagai kehilangan jati diri. 

Ia menjelaskan, sebagian besar kehidupan masyarakat digerakkan oleh uang, laba, dan daya penghasilan. Hal ini menjadikan profesi sebagai bagian utama cara mengidentifikasi seseorang.

“Jadi, jika Anda kehilangan pekerjaan, Anda dapat dengan mudah kehilangan identitas Anda juga,” jelas Norris yang juga penulis buku penulis buku Job Loss, Identity, and Mental Health.

COVID-19

Meskipun memang benar uang seringkali jadi masalah utama selama seseorang menjadi pengangguran. Tapi bagi sebagian orang, masalah identitas bahkan lebih mengecewakan daripada masalah mereka dengan uang.

Dalam penelitiannya yang berfokus pada masyarakat kelas menengah yang kehilangan pekerjaan, Norris menemukan dua pertiga dari mereka mengalami masalah psikologis terkait identitas. 

“Mereka mengatakan bahwa masalah mereka dengan identitas membuat mereka merasa tertekan, cemas, dan marah,” kata Norris.

Penelitian tersebut menjelaskan masalah emosional yang terjadi pada karyawan yang kena PHK secara tiba-tiba terutama saat COVID-19.

Menjaga kesehatan mental karyawan saat kena PHK

wn tiongkok coronavirus bali

Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk mengendalikan situasi, mempertahankan semangat, dan menemukan tujuan baru.

Psikolog asal New York Adam Benson mengatakan orang harus mengenali faktor-faktor dari situasi mereka yang dapat dan tidak dapat mereka kendalikan.

Setelah mengenali, maka fokuslah pada hal yang bisa dikendalikan yaitu mengidentifikasi masalah, seperti mengurangi pengeluaran rumah tangga pada satu periode tertentu.

Yang berbeda pada karyawan kena PHK dan pada situasi pandemi COVID-19 saat ini adalah keyakinan bahwa ini hanya keadaan sementara. Percaya bahwa setelah pandemi berakhir, semua akan terkendali dan mereka bisa bangkit kembali

Selain itu, ada bukti bahwa sifat kolektif dari pengalaman ini membawa seseorang pada perasaan bahwa ia dan yang lainnya melalui masalah ini bersama-sama.

Banyak kalangan yang mengadakan kampanye dan galang dana untuk mendukung para karyawan yang kena PHK atau mereka yang kehilangan pekerjaan.

Kapan Pandemi COVID-19 akan Berakhir?

Keadaan kolektif ini, menurut Benson, mungkin membantu bahwa kena PHK yang diterima para karyawan bukan kesalahan dia sebagai individu.

“Ini mendukung gagasan bahwa ketika kesehatan mental mereka goyah,  merasa sedih dan marah karena kehilangan pekerjaan, maka alasan ini bisa mengurangi perasaan sedih tersebut,” tutur Benson.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panduan Aman Gerak Jalan yang Direkomendasikan Selama Pandemi

Anda tetap bisa melakukan olahraga gerak jalan atau jalan kaki saat pandemi dengan tetap mengikuti beberapa protokol kesehatan berikut ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 Mei 22, 2020

COVID-19 Bisa Sebabkan Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak, Apa Artinya?

WHO baru-baru ini melaporkan komplikasi COVID-19 pada anak yang dikenal sebagai sindrom peradangan multisistem. Apa gejala dan dampaknya bagi anak?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 21, 2020

Alasan Penderita Lupus Lebih Berisiko Terhadap Komplikasi COVID-19

Penyakit lupus termasuk dalam kategori kelompok yang rentan terhadap gejala COVID-19 yang lebih parah. Bagaimana risiko COVID-19 pada penderita lupus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Potensi Penularan COVID-19 di Desa, Bagaimana Kesiapannya?

Arus mudik yang tak bisa dikendalikan membuat masyarakat di desa harus siaga kedatangan potensi sumber penularan COVID-19. Bagaimana kesiapannya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 Mei 20, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020
Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 23, 2020