home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berhubungan Intim Setiap Hari, Apakah Sehat?

Berhubungan Intim Setiap Hari, Apakah Sehat?

Bagi setiap pasangan, bercinta mungkin menjadi salah satu momen yang selalu dinanti-nanti. Melepaskan hasrat di atas ranjang berdua tak hanya mempererat tali kasih, tetapi juga ternyata bermanfaat untuk kesehatan. Bahkan, Anda dan pasangan dianjurkan untuk berhubungan intim sesering mungkin, bila perlu setiap hari. Ingin tahu apa saja manfaat berhubungan intim setiap hari? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini.

Manfaat berhubungan intim setiap hari

Sehatkah jika berhubungan intim setiap hari? Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Sehat atau tidaknya berhubungan intim setiap hari, berbeda-beda efeknya bagi tiap orang.

Yang jelas, jika Anda memang ingin berhubungan intim setiap hari, baiknya ada kesepakatan antara Anda dan pasangan untuk melakukannya.

Selama Anda berdua nyaman dengan frekuensi kegiatan seksual Anda, maka tidak perlu khawatir.

Justru, bercinta dengan pasangan setiap hari ternyata berdampak positif untuk kesehatan fisik dan mental Anda, lho.

Ini dia manfaat berhubungan intim setiap hari dengan pasangan Anda:

1. Menurunkan risiko kanker prostat

ereksi penis sehat

Salah satu dampak positif dari bercinta sesering mungkin adalah mengurangi risiko pria terkena kanker prostat.

Hal ini dikaji dalam sebuah studi dari jurnal European Urology. Penelitian tersebut mencari tahu efek ejakulasi pada pria terhadap risiko kanker prostat.

Hasilnya, pria yang klimaks atau berejakulasi minimal 21 kali per bulan memiliki peluang lebih kecil untuk mengidap kanker prostat.

Belum diketahui secara pasti apa hubungan ejakulasi dan penurunan risiko kanker. Namun, satu yang pasti, pencegahan kanker prostat pada pria merupakan manfaat yang bisa Anda dapat selain seks yang nikmat.

2. Meredakan sakit PMS pada wanita

gejala radang panggul

Untuk kaum hawa, Anda juga bisa mendapat manfaat dari berhubungan intim setiap hari, lho. Sering bercinta dengan pasangan bisa membantu mengurangi kram pada saat pramenstruasi alias PMS.

Lebih aktif secara seksual, terutama jika dibarengi dengan meraih orgasme yang cukup, membantu menghasilkan hormon pereda stres seperti endorfin dan oksitosin.

Hormon-hormon tersebut yang akan membuat Anda merasakan gejala-gejala PMS yang lebih ringan.

Tak hanya itu, sering berhubungan intim juga diyakini dapat mengurangi rasa sakit selama menstruasi berlangsung.

3. Meringankan stres dan beban pikiran

cara menghilangkan pikiran negatif

Berhubungan intim setiap hari juga memberikan Anda manfaat berupa pelepasan stres pada pikiran Anda.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seks membantu tubuh memproduksi lebih banyak hormon penghilang stres, mulai dari dopamin, endorfin, hingga oksitosin.

Hormon-hormon ini dikeluarkan oleh kelenjar pituitari yang dapat membuat tubuh terasa lebih rileks.

Tidak hanya meningkatkan produksi hormon pereda stres, seks juga mengurangi produksi hormon yang meningkatkan stres, seperti kortisol dan epinefrin.

Tak mengherankan apabila salah satu pemicu stres berkepanjangan adalah aktivitas seks yang rendah.

Maka itu, jangan ragu bercinta dengan pasangan Anda sesering mungkin demi memperoleh pikiran yang lebih jernih.

4. Meningkatkan kualitas tidur

pola tidur yang baik

Bila Anda atau pasangan mengalami masalah sulit tidur, berhubungan intim setiap hari bisa menjadi salah satu jalan keluarnya.

Hormon oksitosin dan prolaktin yang dihasilkan tubuh ketika melewati orgasme akan memicu rasa nyaman dan rileks.

Dengan demikian, Anda akan merasa lebih mudah mengantuk dan tidur lebih nyenyak.

Hal sebaliknya juga berlaku. Kurang tidur dapat menurunkan gairah serta rangsangan seksual Anda. Inilah mengapa seks dan kualitas tidur Anda saling berkaitan satu sama lain.

5. Membuat panjang umur

berapa kali berhubungan intim agar bisa hamil

Ingin hidup panjang umur dengan pasangan Anda? Nah, Anda bisa mendapatkan manfaat tersebut dengan rutin berhubungan intim setiap hari.

Sudah banyak penelitian yang membuktikan manfaat seks untuk kesehatan jantung dan tekanan darah, yang tentunya berpengaruh pada kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Bercinta dengan pasangan dianggap setara dengan aktivitas olahraga. Itulah mengapa manfaatnya untuk kesehatan jantung sangatlah berlimpah.

Seks terbukti membantu menurunkan tekanan darah, membakar kalori, serta mengurangi risiko terkena penyakit jantung dan stroke.

Bagaimana? Apakah setelah ini Anda dan pasangan tertarik untuk mencoba berhubungan di ranjang setiap hari?

Ingat, meski banyak manfaat yang bisa diperoleh, bukan berarti Anda wajib berhubungan intim setiap hari.

Dalam urusan ranjang, Anda dan pasangan perlu mendengarkan keinginan satu sama lain. Seks tidak boleh dilakukan atas dasar paksaan atau tekanan, melainkan dengan senang hati.

Jangan lupa perhatikan kesehatan fisik dan mental Anda dan pasangan ketika memutuskan untuk melakukan aktivitas ranjang setiap hari.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

The Benefits of a Healthy Sex Life – Center for Women’s Health. (2020). Retrieved June 7, 2021, from https://www.ohsu.edu/womens-health/benefits-healthy-sex-life 

Suni, E. (2021). The Relationship Between Sex and Sleep – Sleep Foundation. Retrieved June 7, 2021, from https://www.sleepfoundation.org/physical-health/sex-sleep 

Khajehei, M., & Behroozpour, E. (2018). Endorphins, oxytocin, sexuality and romantic relationships: An understudied area. World Journal Of Obstetrics And Gynecology, 7(2), 17-23. http://dx.doi.org/10.5317/wjog.v7.i2.17

Rider, J., Wilson, K., Sinnott, J., Kelly, R., Mucci, L., & Giovannucci, E. (2016). Ejaculation Frequency and Risk of Prostate Cancer: Updated Results with an Additional Decade of Follow-up. European Urology, 70(6), 974-982. https://doi.org/10.1016/j.eururo.2016.03.027

Frappier, J., Toupin, I., Levy, J., Aubertin-Leheudre, M., & Karelis, A. (2013). Energy Expenditure during Sexual Activity in Young Healthy Couples. Plos ONE, 8(10), e79342. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0079342

Ditzen, B., Germann, J., Meuwly, N., Bradbury, T., Bodenmann, G., & Heinrichs, M. (2019). Intimacy as Related to Cortisol Reactivity and Recovery in Couples Undergoing Psychosocial Stress. Psychosomatic Medicine, 81(1), 16-25. https://doi.org/10.1097/psy.0000000000000633/

Coria-Avila, G. A., Herrera-Covarrubias, D., Ismail, N., & Pfaus, J. G. (2016). The role of orgasm in the development and shaping of partner preferences. Socioaffective neuroscience & psychology, 6, 31815. https://doi.org/10.3402/snp.v6.31815

Nowosielski, K., Drosdzol, A., Skrzypulec, V., & Plinta, R. (2010). Sexual satisfaction in females with premenstrual symptoms. The journal of sexual medicine, 7(11), 3589–3597. https://doi.org/10.1111/j.1743-6109.2010.01927.x

Hambach, A., Evers, S., Summ, O., Husstedt, I. W., & Frese, A. (2013). The impact of sexual activity on idiopathic headaches: an observational study. Cephalalgia : an international journal of headache, 33(6), 384–389. https://doi.org/10.1177/0333102413476374

Liu, H., Waite, L. J., Shen, S., & Wang, D. H. (2016). Is Sex Good for Your Health? A National Study on Partnered Sexuality and Cardiovascular Risk among Older Men and Women. Journal of health and social behavior, 57(3), 276–296. https://doi.org/10.1177/0022146516661597

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 07/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x