KB implan merupakan salah satu jenis kontrasepsi yang efektif untuk mencegah kehamilan. Namun, tidak semua wanita cocok menggunakan jenis KB ini. Lantas, apa saja tanda KB implan tidak cocok yang perlu diperhatikan?
KB implan merupakan salah satu jenis kontrasepsi yang efektif untuk mencegah kehamilan. Namun, tidak semua wanita cocok menggunakan jenis KB ini. Lantas, apa saja tanda KB implan tidak cocok yang perlu diperhatikan?

Tanda KB implan tidak cocok bisa dilihat dari efek samping yang Anda rasakan. Biasanya, efek samping yang muncul akan cukup serius atau parah.
Berikut ini ciri-ciri KB implan yang Anda gunakan tidak cocok.
Reaksi alergi dapat muncul jika tubuh menganggap KB implan sebagai zat asing yang berbahaya. Umumnya, reaksi ini akan muncul beberapa saat setelah pemasangan KB pada lengan.
Alergi KB implan ditandai dengan kemunculan sejumlah kondisi, seperti:

Timbulnya gejala depresi beberapa waktu setelah pemasangan KB implan bisa menjadi tanda bahwa Anda tidak cocok menggunakan alat kontrasepsi ini.
Penurunan suasana hati secara drastis mungkin disebabkan oleh perubahan hormon setelah penggunaan KB implan, tetapi hal ini masih perlu diteliti lebih jauh.
Selain mood yang buruk, Anda mungkin akan merasakan kemunculan gejala-gejala seperti:
Perdarahan pada vagina merupakan kondisi yang wajar setelah pemasangan KB implan.
Biasanya, spotting atau perdarahan ringan pada vagina akan terjadi dalam satu bulan setelah pemakaian.
Namun, jika darah yang keluar dari vagina tidak wajar dan sangat banyak, segera periksakan diri ke dokter. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda tidak cocok KB implan.
Jika Anda menemukan gejala penggumpalan darah pada kaki, kondisi tersebut dapat menjadi efek KB implan tidak cocok.
Awalnya, Anda akan merasa nyeri berkepanjangan pada kaki. Dalam beberapa kasus, rasa nyeri tersebut dapat diikuti pembengkakan pada bagian betis.
Apabila tak segera mendapat penanganan, kondisi ini berpotensi merusak otak, jantung, dan paru-paru.
KB implan memiliki efektivitas tinggi untuk mencegah kehamilan. Namun, jika gejala kehamilan tetap muncul usai berhubungan seks, bisa saja KB implan yang Anda gunakan tidak cocok.
Mengutip laman Kids Health, satu dari 100 wanita dengan KB implan berpotensi mengalami kehamilan yang tak disengaja. Kebocoran juga bisa terjadi akibat konsumsi obat seperti antibiotik.
Untuk mencari tahu penyebab kemunculan gejala ini, periksakan diri ke dokter. Dengan begitu, penanganan dapat diberikan sesuai kondisi yang mendasarinya.
Nyeri atau pegal setelah pemasangan KB implan merupakan keluhan yang wajar terjadi. Alasan kenapa KB implan terasa pegal umumnya bervariasi.
Biasanya rasa pegal atau nyeri setelah pemasangan KB berkaitan dengan proses pemasangannya yang melibatkan penyisipan batang kecil di bawah kulit dengan bantuan jarum khusus.
Meski begitu, rasa nyeri umumnya hanya sementara. Jika nyeri terus muncul dan disertai dengan bengkak dan keluarnya cairan, ini bisa menjadi tanda infeksi karena KB implan tidak cocok.
Kondisi-kondisi di atas tidak sepenuhnya disebabkan ketidakcocokan KB implan pada tubuh Anda. Sejumlah masalah kesehatan lain mungkin bisa menjadi penyebabnya.
Maka dari itu, segera saja berkonsultasi kepada dokter jika Anda mengalaminya. Penanganan sedini mungkin mencegah kondisi bertambah parah.

Semua wanita dapat memakai KB implan. Namun, orang-orang dengan kondisi medis tertentu tidak disarankan menggunakan jenis KB ini.
Berikut kelompok yang sebaiknya tidak menggunakan KB implan.
Sebelum memutuskan untuk menggunakan KB implan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter. Sampaikan kondisi kesehatan Anda secara jujur.
Tindakan ini berguna untuk mengurangi risiko efek samping penggunaan KB implan pada tubuh Anda. Jika tidak cocok, Anda akan diberikan alternatif lain untuk mencegah kehamilan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Versi Terbaru
18/01/2025
Ditulis oleh Bayu Galih Permana
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro