home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Selain Mengasah Otak, Belajar Matematika Juga Bisa Mencegah Pikun

Selain Mengasah Otak, Belajar Matematika Juga Bisa Mencegah Pikun

Anda pasti pernah mengerjakan soal-soal matematika yang diberikan oleh guru atau orangtua. Saat belajar matematika, sebagian orang mungkin merasa bosan atau malas. Padahal, belajar matematika itu manfaatnya ada banyak, tak cuma supaya Anda mahir berhitung. Salah satu manfaat penting belajar matematika adalah mendukung fungsi otak dan meningkatkan kecerdasan.

Bagian otak apa yang bekerja saat belajar matematika?

Otak manusia terdiri dari empat “kamar”, atau yang dikenal dalam bahasa kedokteran sebagai lobus. Keempat kamar tersebut adalah lobus frontal, lobus parietal, lobus oksipital, dan lobus temporal. Setiap kamar tersebut memiliki lokasi yang berbeda dan fungsi yang berbeda pula.

Saat Anda belajar matematika, maka lobus frontal dan parietal akan bekerja lebih aktif. Lobus frontal sendiri terletak di daerah dahi Anda dan berfungsi untuk memproses informasi baru, berpikir logis, mengatur gerakan tubuh, dan berbahasa.

Bagian otak kedua yang bekerja keras saat Anda belajar matematika adalah lobus parietal. Fungsinya adalah mengatur indra peraba (sentuhan), mendeteksi lokasi dan arah, serta berhitung.

Benarkah belajar matematika bisa menambah kecerdasan?

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Ryuta Kawashima berusaha membandingkan otak peserta penelitian yang bermain game dengan peserta penelitian yang mengerjakan soal matematika yang cukup mudah (misalnya penjumlahan, pengurangan, dan perkalian).

Awalnya para ahli mengira peserta yang bermain game akan memiliki otak yang lebih aktif dibanding yang mengerjakan matematika. Namun, ternyata jumlah bagian otak yang aktif saat mengerjakan matematika lebih banyak daripada saat bermain game.

Ketika Anda mengerjakan soal matematika yang mudah, area prefrontal pada otak anda akan menjadi aktif. Bagian ini berfungsi untuk belajar dan berpikir logis. Bahkan ketika Anda mengerjakan soal perkalian yang mudah (seperti 4×4), ternyata bagian otak yang berfungsi untuk berbicara juga menjadi aktif.

Ini karena secara tidak sadar otak Anda akan mengingat kembali bacaan tabel perkalian. Hal inilah yang membuat bagian otak Anda yang berfungsi untuk membaca turut menjadi aktif.

Selain itu, mengerjakan soal matematika juga dapat mengaktifkan kedua sisi pada otak Anda (sisi kiri dan kanan). Oleh karena itu, Profesor Ryuta Kawashima menganjurkan agar Anda mengerjakan soal matematika sederhana beberapa saat sebelum Anda akan mengerjakan sesuatu yang sulit. Hal ini akan membuat Anda memproses informasi dengan lebih efisien karena otak Anda sudah teraktivasi.

autisme biasanya cerdas

Anda bahkan tidak perlu mengerjakan soal matematika yang terlalu sulit

Mungkin Anda berpikir bahwa semakin sulit soal yang dikerjakan, semakin banyak pula bagian otak yang aktif. Padahal, ternyata tidak demikian. Justru saat Anda mengerjakan soal matematika yang sulit, hanya sisi otak kiri saja yang bekerja. Sisi otak sebelah kiri merupakan area yang berfungsi untuk mengatur bahasa (pada orang yang tidak kidal).

Mengapa begitu? Ternyata saat mengerjakan soal yang sulit, misal 54 : (0,51-0,9) maka tentu Anda tidak langsung tahu jawabannya. Anda malah akan berkali-kali membaca soalnya. Inilah yang membuat bagian otak kiri Anda, yang berperan penting dalam fungsi bahasa, yang harus bekerja keras.

Berbeda dengan saat Anda mengerjakan soal yang mudah, karena sisi kiri dan kanan otak Anda akan menjadi aktif secara seimbang.

Latihan soal matematika juga bisa mencegah pikun

Ternyata, matematika dapat membantu mencegah dan mengatasi pikun, terutama pada mereka yang berusia lanjut. Ya, membaca soal matematika sambil bersuara ternyata mampu mencegah pikun bertambah parah.

Pada usia lanjut, umumnya akan terjadi penurunan kemampuan berpikir. Terutama pada bagian prefrontal yang akan diaktifkan bila Anda mengerjakan latihan soal matematika.

Akan ada dua proses pada bagian otak untuk mengolahnya, yaitu kemampuan membaca soal dan angka-angka, mengoperasikan angka-angka tersebut, dan menggerakan tangan untuk menuliskan rumus, hitungan, dan hasil jawabannya. Hal sederhana ini ternyata dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan menurunkan tingkat keparahan pikun.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dehaene S, et al. Arithmetic and the brain. Current Opinion in Neurobiology. 2004 (14): 218-224

Finashin S. History of Math Concepts: 1-30

Wang M, Wang L. Localization of the brain calculation function area with MRI. Chinese Science Bulletin. 2001 (22): 1889-1892

Kawashima R, et al. Reading Aloud and Arithmetic Calculation Improve Frontal Function of People With Dementia. Journal of Gerontology.2005 (60): 380-384

Kawashima R. Train Your Brain. Kumon Publishing Co. 2001 : 32-35

Interesting Facts about e. Sutra: International Journal of Mathematical Science Education. 2009 (2): 31

Foto Penulis
Ditulis oleh dr. Ivena Diperbarui 4 minggu lalu
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x