Katanya, Lenting Cacar Air Tidak Boleh Digaruk. Kenapa, Sih?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Cacar air bisa menyerang siapa pun dan kapan pun. Ciri khas yang paling bisa dilihat dari penyakit ini adalah munculnya lenting merah yang terasa gatal. Rasa gatal pada cacar air bisa sangat mengganggu, tapi katanya justru tidak boleh digaruk. Kenapa ya, lenting cacar air itu tidak boleh digaruk? Apa akibatnya jika menggaruk cacar air?

Kenapa muncul rasa gatal pada cacar air?

Beberapa hari sebelum lenting cacar air muncul, Anda akan mengalami demam, tidak nafsu makan, hingga pegal pada otot. Setelah itu, baru kemudian lentingan berwarna kemerahan mulai muncul satu per satu disertai dengan rasa gatal hebat.

Rasa gatal pada cacar air ini berasal dari zat kimia yang terkandung di dalam cairan bening dalam lentingan tersebut. Jadi, saraf pada permukaan kulit menganggap bahwa zat kimia tersebut sebagai benda asing yang harus disingkirkan.

Nah, sinyal saraf tersebut diteruskan ke otak dan saraf pusat akan memerintahkan bagian tubuh untuk menyingkirkan zat asing tersebut. Ketika itu terjadi, secara refleks Anda akan menggaruk bagian lenting cacar sebagai respon otak yang tadi dijelaskan.

Mekanisme ini juga terjadi ketika ada nyamuk yang sedang menggigit Anda. Ketika itu, saraf akan mengira bahwa ada zat asing yang harus disingkirkan dari permukaan kulit kemudian akan memerintahkan tangan untuk melakukannya dengan cara menggaruknya.

Ya, menggaruk cacar air adalah respon tubuh terhadap penyakit tersebut. Jadi sangat wajar jika Anda merasa sangat gatal hingga tak mampu menahannya.

cacar air

Apa akibat menggaruk cacar air?

Sulit dipungkiri, rasa gatal pada cacar air sungguh ‘menggemaskan’ dan rasanya ingin segera menggaruk semua bagian tubuh yang terkena. Namun, anjuran untuk tidak menggaruk lentingan ini ternyata memang punya alasan yang kuat.

Ketika lenting kemerahan cacar air digaruk, tanpa sadar Anda berisiko membuat kulit yang sedang bermasalah menjadi lecet. Apalagi jika Anda terlalu bersemangat dengan sekuat tenaga untuk menggaruknya.

Hal ini justru akan menyebabkan luka tersebut lebih sulit untuk dihilangkan, hingga menimbulkan bekas yang tak sedap dipandang pada kulit nantinya. Selain itu, akibat menggaruk cacar air juga bisa meningkatkan peluang kuman untuk masuk ke dalam lepuhan cacar di kulit. Infeksi sekunder pun akan muncul sebagai hasil akhirnya. Lenting yang pecah juga berisiko meningkatkan penularan infeksi dari cacar air tersebut.

Itu sebabnya, jika Anda perhatikan orang yang pernah mengalami cacar air mungkin masih memiliki beberapa bekas khas yang sulit dihilangkan. Ini karena kebiasaannya yang tak mampu menahan diri saat menggaruk lenting cacar air yang gatal.

Namun jangan khawatir, kesabaran Anda untuk tidak menggaruk lenting cacar air akan berbuah manis. Pasalnya, dalam kurun tiga sampai empat hari biasanya rasa gatal akan mulai berkurang secara perlahan.

anak cacar air

Bagaimana cara mengurangi rasa gatal?

Meski gatal yang muncul terasa sangat menyiksa, sebisa mungkin tahan diri Anda untuk tidak menggaruknya. Sebagai solusinya, coba tepuk perlahan bagian kulit yang gatal. Pastikan tangan dalam keadaan bersih dan kuku telah dipotong pendek, guna mencegah lentingan cacar air pecah.

Biasanya, dokter akan meresepkan beberapa obat yang mampu mengurangi rasa gatal dan mempercepat proses penyembuhan cacar. Entah itu obat minum, obat oles losion, ataupun bedak tabur. Anda juga disarankan untuk menggunakan pakaian longgar dengan bahan yang nyaman, serta hindari aktivitas berat yang akan membuat tubuh berkeringat.

Usahakan minum banyak air putih agar virus yang tinggal di dalam tubuh Anda lebih cepat hilang. Terakhir, dapatkan istirahat yang cukup setiap harinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Penyebab Penyakit Herpes Kulit dan Cara Mengatasinya

Penyebab penyakit herpes kulit adalah infeksi virus herpes simpleks dan varicella zoster. Ketahui faktor yang meningkatkan risiko Anda mengalaminya.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Infeksi, Infeksi Virus 23 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Jenis Penyakit Kulit Menular dan Tidak Menular yang Umum

Ada macam-macam penyakit kulit dari yang menular hingga yang tidak. Agar tak keliru, kenali jenis penyakit kulit berdasar penularannya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit 13 November 2020 . Waktu baca 12 menit

9 Penyakit Infeksi pada Anak yang Rentan Menyerang

Penyakit infeksi pada anak cukup mengkhawatirkan karena bisa mengganggu tumbuh kembang. Lantas, apa saja penyakit infeksi yang sering dialami anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 30 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Vaksin Cacar Air (Varisela), Ketahui Manfaat dan Jadwal Pemberiannya

Cacar air salah satu penyakit paling menular dan bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Ini penjelasan seputar vaksin varisela untuk cegah cacar air.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24 Mei 2020 . Waktu baca 8 menit



Direkomendasikan untuk Anda

smallpox variola cacar

Cacar (Smallpox)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
penyakit herpes

Herpes

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
penyakit cacar air

Cacar Air

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
Virus penyebab cacar air

Mengenal Penyebab Cacar Air, Siapa yang Lebih Berisiko Tertular?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 23 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit