Ortu Perlu Tahu, Ini Plus Minusnya Bila Kakak Adik Tidur di Kamar yang Sama

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Hubungan keluarga yang baik tidak hanya terjalin antara orangtua dengan anak. Namun juga didukung dengan keharmonisan antar saudara kandung. Jika Anda berinisiatif untuk mendekatkan mereka satu sama lain, membiarkan kakak adik tidur sekamar bisa jadi pilihan. Namun, ada baiknya jika Anda mempertimbangkan hal-hal berikut.

Pro dan kontra kakak adik tidur sekamar

Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan pada HHS Author Manuscript menjelaskan mengenai peran penting kehadiran saudara kandung,

Studi tersebut menyatakan bahwa saudara memiliki peran yang penting, yaitu sebagai sahabat, orang yang bisa dipercaya, sekaligus pembanding sosial. Mereka dapat memengaruhi satu sama lain.

Hal-hal itulah yang kemudian akan memengaruhi perkembangan anak satu sama lain. Sang adik akan menjadikan kakak sebagai panutannya. Sementara sang kakak, akan merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan menjadi sosok yang baik bagi adiknya.

Untuk itu, orangtua perlu mempererat hubungan mereka. Caranya beragam, salah satunya adalah menempatkan kakak dan adik dalam satu kamar tidur yang sama. Lantas, apa saja keuntungan dan kekurangan menerapkan aturan ini?

Keuntungan membiarkan kakak dan adik tidur sekamar

Mempererat ikatan persaudaraan

Mendekatkan hubungan antara saudara kandung mungkin tidak cukup dengan membiarkan mereka main bersama. Mungkin butuh waktu lebih lagi untuk dihabiskan bersama. Nah, waktu tidur inilah yang menjadi peluangnya.

Membiarkan anak tidur sekamar dapat membantu mereka untuk memahami satu sama lain. Apalagi, jika sang adik tidak bisa tidur sendiri, sang kakak bisa menemaninya. Sebelum tidur, kakak dan adik sangat mungkin membuka obrolan ringan. Entah itu mengenai pengalaman, mainan baru, acara TV kesukaan, dan lain-lain.

Mengajarkan anak untuk berbagi

Membiarkan kakak dan adik tidur di kamar yang sama tidak hanya mempererat hubungan mereka, tapi juga mengajarkan anak untuk berbagi. Belajar berbagi melibatkan banyak emosi dalam diri anak, seperti empati dan simpati (merasakan apa yang dirasakan orang lain) dan sifat murah hati untuk memberikan apa yang dimiliki anak.

Selain itu, tidur sekamar juga mengajarkan sang kakak dan adik untuk memahami batasan dan peraturan. Misalnya, sang adik tidak boleh membuat kasur sang kakak berantakan atau mengotorinya. Begitu pula sebaliknya.

kamar tidur anak laki-laki dan perempuan

Kekurangan jika kakak dan adik tidur sekamar

Anak menjadi tidak leluasa

Meski terdapat keuntungan, ada pula kekurangannya jika membiarkan anak tidur sekamar. Salah satunya adalah anak jadi tidak leluasa mengeksplorasi kamar tidurnya.

Contohnya, sang kakak sangat suka dengan bunga sehingga ingin mendekorasi kamarnya dengan sticker bunga, sementara sang adik tidak menyukainya. Bisa juga kebalikannya, sang adik asyik bermain di kamar padahal sang kakak hendak belajar.

Keadaan itu tentu bisa memicu pertengkaran di antara keduanya.

Anak tidak merasa tidak memiliki privasi dan tidak nyaman

Tidak hanya itu, kakak dan adik yang tidur sekamar terkadang membuat mereka merasa tidak memiliki privasi. Padahal, anak membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri.

Baik itu mengerjakan sesuatu dengan tenang, merias kamar sesuai keinginannya, dan memberinya tempat ketika mereka sedang bersedih atau ingin sendiri.

Ruang pribadi untuk anak sangat mereka butuhkan, terutama ketika mereka bertambah besar atau menuju pubertas. Apalagi jika sang kakak dan adik memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Semakin dewasa, anak akan mengalami perubahan pada tubuh mereka. Mereka perlu menjaganya dari pandangan dan sentuhan orang lain, termasuk saudara kandungnya sendiri.

Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua?

Boleh-boleh saja membiarkan anak tidur di kamar yang sama. Namun, Anda perlu bertanya pada anak lebih dahulu, apakah ia mau atau tidak. Jangan memaksa jika sang kakak atau adik menolak hal ini.

Jika anak mantap untuk berbagi kamar yang sama dengan kakak atau adiknya, Anda juga perlu menanyakannya secara berkala untuk memastikannya. Misalkan, apabila sewaktu-waktu anak Anda mungkin membutuhkan kamar sendiri.

Meski tidak ada batasan usia spesifik, anak-anak yang mulai memasuki sekolah biasanya mulai mengembangkan sikap mandiri. Mereka sudah bisa memiliki kamar sendiri karena sudah berani tidur sendiri dan bertanggung jawab menjaga kebersihan kamarnya. Itu sebabnya, menanyakan dan meyakinkannya menjadi penting.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca