5 Cara Membiasakan Anak untuk Berolahraga

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Usia 5 hingga 17 tahun adalah masa pertumbuhan di mana kondisi fisik dan mental sedang mengalami perkembangan. Pada usia anak-anak hingga remaja, sistem kardiovaskuler, otot, dan tulang mengalami perubahan yang cepat dan menjadi lebih kuat. Selain itu, anak belajar berbagai hal tentang lingkungannya saat berada di luar rumah. Perkembangan tersebut hanya akan optimal jika anak  aktif beraktivitas fisik di luar rumah.

Terdapat berbagai aktivitas fisik yang sesuai untuk anak usia 5-17 tahun seperti permainan fisik, olahraga, kegiatan rekreasi yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah maupun komunitas. Anak-anak juga hanya memerlukan waktu yang cenderung lebih singkat untuk memenuhi kecukupan aktivitas fisik. Organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar anak yang berusia 5 hingga 17 tahun aktif bergerak selama 60 menit perhari dalam tiga hari per minggu. Ini juga bisa berarti 30 menit aktivitas di pagi hari, dilanjut 30 menit di sore hari. Semakin lama durasinya akan semakin bagus.

Kenapa anak perlu melakukan aktivitas fisik?

Secara garis besar, manfaat berolahraga pada anak-anak adalah membantu berbagai jaringan tubuh untuk berkembang, dan melatih tubuh agar dapat berkoordinasi dengan baik. Dengan aktif bergerak, berbagai jaringan tulang, otot, dan persendian akan dapat menyerap nutrisi lebih baik sehingga dapat tumbuh menjadi lebih kuat. Anak yang aktif bergerak juga akan meningkatkan kapasitas sistem kardiovaskulernya, karena jantung dan paru-paru akan terbiasa untuk menggunakan oksigen dan menyalurkannya ke seluruh tubuh.

Selain itu, usia kanak-kanak adalah saat yang tepat untuk melatih otak berkoordinasi dengan semua otot anggota gerak, sehingga anak memiliki keseimbangan tubuh dan dapat menggendalikan anggota gerak tubuh yang lebih baik.

Secara tidak langsung, dengan aktif bergerak anak-anak akan membakar kalori sehingga lemak yang tersimpan akan lebih sedikit, dan berat badan akan sesuai dengan tinggi badan dan usianya. Di samping itu, dengan beraktivitas fisik di luar rumah, anak-anak akan memiliki lebih banyak teman bermain. Hal ini akan mendorong anak untuk berinteraksi dengan individu seusianya dan membantu untuk membangun kepercayaan diri. Sehingga, pada usia remaja dan dewasa, anak akan memiliki kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan sosial lebih baik dan dapat mengatasi masalah mental seperti kecemasan dan depresi.

Yang bisa dilakukan agar anak aktif beraktivitas fisik

Dengan bertambahnya usia, akan lebih sulit untuk membangun kebiasaan anak untuk memenuhi kebutuhan aktivitas fisik. Karena itulah hal ini harus dibiasakan sejak usia dini. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk membantu anak Anda lebih aktif bergerak:

1. Pertama, kenali berapa banyak kebutuhan aktivitas fisik sesuai usianya

Kebutuhan aktivitas fisik anak-anak dapat berbeda berdasarkan usianya:

  • Usia TK atau preschool – membutuhkan aktivitas yang membantu perkembangan motoriknya seperti melempar dan menendang bola, berlarian, atau mengendarai sepeda roda tiga.
  • Usia awal sekolah  – pada usia ini anak  sudah dapat memahami peraturan olahraga permainan, maka kenalilah bakat dan minat anak. Anda juga sudah bisa memasukkan  anak klub olahraga yang disukainya pada saat awal usia sekolah. Namun, tidak semua anak akan memiliki minat terhadap permainan olahraga tertentu. Peran orangtua sangat diperlukan untuk mengajak anak beraktivitas di luar rumah seperti berjalan-jalan atau bersepeda.
  • Usia remaja – pada tahap ini biasanya anak sudah memiliki pilihannya untuk beraktivitas fisik. Hal yang dapat orangtua lakukan hanyalah memenuhi kebutuhannya untuk beraktivitas fisik seperti perlengkapan olahraga agar anak lebih termotivasi. Namun orangtua juga perlu memberikan arahan agar anak berkomitmen dengan tanggung jawab akademiknya di samping berolahraga.

2. Jika anak Anda tertarik terhadap gadget, batasi waktu di depan layar

Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari anak kurang beraktivitas fisik di luar rumah karena lebih memilih bermain permainan di dalam gadget. Untuk membatasinya, buatlah jadwal anak bermain dengan gadget misalnya satu atau dua jam perhari, atau membatasi akses anak terhadap barang elektronik seperti TV dan komputer di dalam kamar anak. Anda juga perlu menjadi contoh untuk tidak menggunakan gadget dalam waktu yang lama di sekitar anak.

3. Jadikan olahraga sebagai rutinitas

Hal ini perlu dilakukan agar anak terbiasa dan mengingat kapan untuk berolahraga. Buatlah jadwal untuk beraktivitas di luar rumah bersama anak Anda, misalnya dengan pergi bersepeda setiap akhir pekan.

4. Biarkan anak Anda berolahraga dengan temannya

Anak-anak sangat senang untuk beraktivitas bersama dengan anak seusianya. Doronglah atau fasilitasi anak Anda dengan cara mengajak temannya untuk ikut serta dalam beraktivtas bersama seperti pergi bersepada atau hanya sekadar berjalan-jalan.

5. Pupuklah pandangan positif tentang aktivitas fisik dan olahraga

Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan anak terhadap figur yang sukses di cabang olahraga seperti pemain sepak bola atau basket. Contoh lainnya adalah dengan mengizinkan anak untuk bermain diluar rumah setelah seharian belajar atau setelah menyelesaikan tugas sekolah.

Sebaliknya, jangan memaksa anak untuk bermain di luar rumah jika anak Anda cenderung kurang aktif. Hal lainnya yang dapat membuat anak menghindari aktivitas fisik adalah dengan menggunakannya sebagai hukuman. Misalnya anak diperintahkan untuk melakukan push-up karena melakukan kesalahan, hal ini hanya akan menimbulkan pandangan negatif dan cenderung membuatnya menghindari aktivitas fisik.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Peran Keseimbangan Mikrobiota Usus dalam Cegah Alergi Anak?

Sudah tahu peran keseimbangan mikrobiota usus dalam mencegah alergi anak? Cari tahu faktanya berdasarkan penelitian terbaru di sini!

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
potret anak bahagia bebas dari alergi karena orangtua menjaga keseimbangan mikrobiota usus
Kesehatan Anak, Parenting 31/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Penggunaan Ibuprofen untuk Anak di Masa Pandemi, Apakah Aman?

Penggunaan Ibuprofen untuk anak dalam mengatasi nyeri, misalnya demam telah terbukti aman diminum di tengah pandemi COVID-19. Berikut penjelasan lengkapnya.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Kaki Sakit Akibat Berdiri Lama? Begini Cara Mengatasinya

Pernahkah Anda merasakan nyeri pada kaki akibat berdiri lama? Berikut adalah cara mengatasi kaki yang bengkak, kesemutan, atau sakit karena berdiri lama.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24/08/2020 . Waktu baca 3 menit

Yang Harus Dilakukan Saat Kepala Bayi Terbentur

Kebanyakan kasus kepala bayi terbentur tidak bersifat fatal. Untuk membantu pemulihan dan menangani luka yang muncul di rumah, perhatikan panduan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 18/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pneumonia pada anak

11 Gejala Pneumonia Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 03/09/2020 . Waktu baca 3 menit
penyebab alasan bayi menangis

Bayi Menangis Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
Dipublikasikan tanggal: 03/09/2020 . Waktu baca 10 menit
perkembangan emosi anak

Mengulik Tahapan Perkembangan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 03/09/2020 . Waktu baca 9 menit
perkembangan sosial anak

Mengulik Tahapan Perkembangan Sosial Anak Usia 6-9 Tahun

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 02/09/2020 . Waktu baca 7 menit