Berapa Asupan Protein yang Ideal untuk Anak Setiap Hari?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 25 Juli 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sama halnya dengan karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral; protein merupakan nutrisi yang penting bagi tubuh yang harus dicukupi oleh semua orang – tak terkecuali pada anak-anak. Terlebih di masa pertumbuhan, kebutuhan protein anak harus terpenuhi dengan baik guna mendukung laju pertumbuhannya yang pesat.

Maka itu, sebagai orangtua pastikan Anda selalu memerhatikan kebutuhan protein yang tepat untuk si kecil, tidak kurang ataupun berlebihan. Lantas, berapa kebutuhan protein anak setiap harinya? Simak terus ulasan berikut ini.

Sebenarnya, seberapa penting kebutuhan protein untuk anak?

Meski jarang diketahui, protein memiliki andil besar dalam tumbuh kembang buah hati Anda. Pasalnya, protein merupakan salah satu pondasi utama untuk membangun, mempertahankan, serta mengganti jaringan yang rusak di dalam tubuh.

Tidak hanya itu, protein juga berperan dalam menjaga proses metabolisme tubuh yang sehat dan berperan sebagai antibodi guna menjaga sistem kekebalan tubuh. Menariknya lagi, kebutuhan protein anak yang terpenuhi dengan baik mampu menggantikan peran karbohidrat dalam menghasilkan kalori, guna menyediakan energi bagi tubuh.

Mengingat begitu pentingnya peran protein di dalam tubuh, penting bagi Anda untuk tidak hanya sekadar memenuhi asupan harian si kecil saja. Namun, pertimbangkan juga kebutuhan protein anak dari makanan dan minuman yang ia konsumsi sesuai dengan tingkat usianya.

Lalu, berapa banyak kebutuhan protein anak dalam sehari?

Menurut Angka Kecukupan Gizi dari Kementerian Kesehatan RI melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2013, kebutuhan protein anak tentu akan berbeda. Ini tergantung jenis kelamin, umur, serta aktivitas hariannya. Secara umum, berikut adalah kebutuhan protein yang harus dipenuhi anak setiap hari:

  • Usia 0-6 bulan: 12 gram (g) per hari
  • Usia 7-11 bulan: 18 g per hari
  • Usia 1-3 tahun: 26 g per hari
  • Usia 4-6 tahun: 35 g per hari
  • Usia 7-9 tahun: 49 g per hari

Saat anak memasuki usia 10 tahun, kebutuhan protein anak akan dibedakan berdasarkan jenis kelamin:

Anak laki-laki

  • Usia 10-12 tahun: 56 g per hari
  • Usia 13-15 tahun: 72 g per hari
  • Usia 16-18 tahun: 66 g per hari

Anak perempuan

  • Usia 10-12 tahun: 60 g per hari
  • Usia 13-15 tahun: 69 g per hari
  • Usia 16-18 tahun: 59 g per hari

Acuan dari Kemenkes ini bisa Anda jadikan kisaran asupan protein harian untuk si kecil. Pasalnya, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, kebutuhan protein masing-masing anak mungkin saja berbeda karena usia, jenis kelamin, bahkan aktivitas harian anak tidak selalu sama.

Ada anak yang aktif bermain sepanjang hari atau mengikuti beberapa les, tapi ada juga anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beristirahat, mengerjakan tugas, atau menggambar. Beberapa hal inilah yang sebaiknya Anda pertimbangkan guna menyesuaikan asupan protein dari makanan dan minuman anak.

makan untuk anak dengan diabetes

Apa saja sumber protein yang baik untuk masa pertumbuhan anak?

Sumber makanan hewani seperti ikan, telur, dan daging sapi, terkenal dengan kandungan proteinnya tinggi. Meski begitu, ada berbagai sumber protein yang bisa Anda temukan dengan mudah, baik dari sumber nabati maupun hewani lainnya, yaitu:

  • Tahu
  • Tempe
  • Kacang almond
  • Brokoli
  • Bayam
  • Kacang kedelai
  • Selai kacang
  • Susu
  • Yogurt
  • Keju
  • Daging ayam
  • Makanan laut seperti ikan, udang, dan cumi.

Kandungan protein dalam suatu jenis makanan tidak selalu sama, melainkan berbeda-beda tergantung ukuran, proses pengolahan, dan lain sebagainya. Meski protein berperan penting dalam tubuh, Anda harus tetap mempertimbangkan seberapa banyak asupan protein yang dikonsumsi si kecil. Lagi-lagi, harus dalam porsi yang pas sesuai dengan jenis kelamin, usia, dan aktivitas hariannya.

Pasalnya, konsumsi protein dalam jumlah berlebih justru dapat membahayakan tubuh anak, karena mengakibatkan dehidrasi, memicu kehilangan kalsium, hingga menimbulkan masalah pada ginjal.

Kondisi ini dikarenakan makanan tinggi protein umumnya mengandung banyak nitrogen, saat nitrogen masuk ke dalam tubuh maka ginjal harus bekerja lebih keras guna mengeluarkan kelebihan nitrogen melalui urine (air kencing). Pada beberapa kasus, kerja ginjal yang berlebih tersebut akan berdampak pada kerusakan ginjal.

Namun, kembali lagi, jangan lantas benar-benar membatasi asupan protein si kecil. Tugas Anda adalah memastikan bahwa dalam menu makanan anak, terdapat sejumlah gizi seimbang yang baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penggunaan Ibuprofen untuk Anak di Masa Pandemi, Apakah Aman?

Penggunaan Ibuprofen untuk anak dalam mengatasi nyeri, misalnya demam telah terbukti aman diminum di tengah pandemi COVID-19. Berikut penjelasan lengkapnya.

Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Menghitung Porsi Makan Ideal untuk Anda

Apakah selama ini Anda asal menyendokkan makanan ke piring? Jangan salah. Begini cara tepat untuk menghitung porsi makan ideal untuk orang dewasa.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Pengaruh Kesehatan terhadap Kebahagiaan Anak

Hasil penelitian menemukan hubungan antara kesehatan dan kebahagiaan anak. Yuk, simak detail dan cara menjaga kesehatan buah hati sekarang.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
kesehatan dan kebahagiaan anak
Parenting, Nutrisi Anak 10 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit

Kapan Si Kecil Boleh Makan Yogurt? Bagaimana Cara Pilih Yogurt yang Sehat

Yogurt memiiki rasa yang asam. Meskipun asam, manfaat yogurt sangat penting untuk kesehatan usus. Lantas, kapan yogurt untuk anak bisa diberikan?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Bayi, Gizi Bayi, Parenting 6 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

memaksa anak olahraga

Memaksa Anak Jago Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit
cara menghilangkan dahak pada anak

4 Cara Menghilangkan Dahak pada Anak Secara Alami

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 3 menit
pneumonia pada anak

11 Gejala Pneumonia Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Konten Bersponsor
potret anak bahagia bebas dari alergi karena orangtua menjaga keseimbangan mikrobiota usus

Apa Peran Keseimbangan Mikrobiota Usus dalam Cegah Alergi Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 31 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit