4 Teknik Relaksasi untuk Redakan Stres dan Sakit Pada Anak Dengan Penyakit Kronis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 22 April 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Tentu saja tidak mudah jika Anda terserang penyakit kronis, apalagi anak-anak. Bagi anak yang memiliki penyakit kronis, stres sangat rentan terjadi. Ini membuat gejala yang mereka rasakan bertambah parah, mudah cemas, dan gelisah. Salah satu cara untuk mengurangi stres pada anak dengan penyakit kronis adalah menerapkan teknik relaksasi. Apa saja latihan relaksasi yang direkomendasikan? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini.

Teknik relaksasi untuk anak dengan penyakit kronis

Stres tidak hanya memengaruhi pikiran saja, semua bagian tubuh pun akan terkena imbasnya. Dalam merespons stres, tubuh akan memproduksi hormon tertentu yang dapat menyebabkan jantung berdetak cepat, tekanan darah meningkat, pencernaan melambat, dan menyita konsentrasi.

Semua efek tersebut sangat berdampak buruk bagi anak dengan penyakit kronis. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Untungnya, stres pada anak bisa dikurangi dengan teknik relaksasi seperti berikut ini.

1. Latihan pernapasan

anak meditasi
Sumber: The Indian Express

Rasa sakit sekaligus stres bisa membuat anak bernapas lebih cepat dan lebih dangkal. Untuk mengatasinya, Anda perlu mengajarkan anak untuk melakukan latihan pernapasan. Latihan ini membantu anak lebih tenang sehingga pernapasannya jadi lebih baik.

Cara mempraktikan teknik relaksasi untuk anak ini cukup mudah. Ikuti langkah-langkahnya berikut ini:

  • Posisikan tubuh anak untuk duduk tegak atau berbaring dengan nyaman. Letakkan satu tangan di atas perut dan tangan lainnya di dada.
  • Tutup mata dan coba lemaskan semua otot yang ada di tubuh. Terutama otot-otot yang mudah sekali merasa tegang, seperti area wajah, leher, dan rahang.
  • Kemudian, tarik napas dalam secara perlahan dan buang. Pastikan pernapasan ini membuat perut si kecil naik dan turun.
  • Setiap tarikan napas, cobalah untuk memikirkan suatu hal yang menarik untuk mengalihkan diri dari stres.

Pada awalnya, memang sulit untuk mengajarkan teknik relaksasi ini pada anak yang masih kecil. Namun, latihan ini bisa mengalihkan anak dari kecemasan, rasa gelisah, dan juga stres yang mengganggu. Lakukan secara rutin supaya anak lebih terbiasa.

2. Terapi visualisasi

terapi visualisasi
Sumber: Sott

Selain latihan pernapasan, teknik relaksasi yang paling sering digunakan adalah terapi visualisasi. Latihan relaksasi untuk anak dengan penyakit kronis ini bisa membantu mengurangi rasa sakit dan kecemasan dengan meningkatkan perasaan positif.

Terapi ini merupakan penggabungan dengan latihan pernapasan. Caranya, posisikan tubuh anak sesantai dan senyaman mungkin. Kemudian, tutup mata dan minta anak untuk menarik napas dalam secara perlahan dan hembuskan.

Langkah selanjutnya, minta anak untuk membayangkan tempat yang paling ia sukai. Tempat yang sangat luas, rindang, dan anak dapat bermain dengan bebas tanpa gangguan. Kemudian, buka percakapan ringan mengenai apa yang dilihatnya, supaya anak lebih mendalami visualisasi yang ada di dalam pikirannya.

Melatih anak untuk melakukan teknik relaksasi ini kadang tidak mudah. Anda mungkin perlu memancingnya dengan gambar dan video yang dilengkapi suara supaya lebih nyata. Jika Anda merasa kesulitan, jangan ragu untuk meminta bantuan dokter atau psikolog.

3. Terapi musik

Seperti halnya terapi visualisasi, terapi musik juga bisa menenangkan pikiran dan membuat hati senang sehingga rasa sakit dan cemas menjadi berkurang. Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan pada teknik relaksasi ini, antara lain:

  • Mengajak anak mendengarkan musik dari alat musik tertentu dan menyanyi
  • Ikut menari atau membuat gerakan sendiri diiringi dengan musik
  • Mengajak anak untuk langsung memainkan alat musik

Pada terapi ini, anak tidak diharuskan memiliki bakat khusus, seperti memiliki suara yang bagus. jago menari, atau mahir memainkan alat musik. Anda hanya perlu melibatkan anak dengan kegiatan seperti mendengarkan, bernyanyi, dan belajar memainkan alat musik.

4. Terapi pijat

terapi pijat
Sumber: Destination Thailand News

Teknik relaksasi untuk anak yang dapat Anda coba selanjutnya adalah terapi pijat. Ya, terapi ini memang bisa melemaskan otot yang tegang dan melancarkan sirkulasi darah sehingga membuat anak jadi lebih rileks dan berkurang rasa sakitnya.

Khusus untuk terapi ini, Anda perlu bantuan praktisi maupun dokter. Pasalnya, tidak semua jenis pijatan aman diterapkan pada anak dengan penyakit kronis. Beberapa teknik pemijatan yang biasanya digunakan untuk terapi, antara lain:

  • Swedish massage. Pijatan tangan dengan minyak untuk melemaskan sendi dan otot. Gerakan pijatan yang menjadi andalan, antara lain gerakan mengurut dan menekan dengan cepat.
  • Deep-tissue massage. Hampir sama dengan teknik sebelumnya, namun lebih banyak menggunakan gerakan menekan pada area sekitar otot dan jaringan ikat.
  • Trigger-point massage. Teknik pemijatan ini hanya berfokus pada area tertentu pada tubuh yang menimbulkan rasa sakit dan kaku.

Meski bermanfaat, tetap perhatikan beberapa hal ini

Meskipun teknik relaksasi memberikan manfaat pada anak dengan penyakit kronis, konsultasi dokter tetap harus dilakukan. Penyakit kronis sangat membutuhkan perawatan dokter, baik itu dalam menentukan obat, pola makan, gaya hidup hingga cek kesehatan rutin secara menyeluruh.

Jangan jadikan cara ini sebagai pengobatan utama. Namun, terapkan sebagai pengobatan tambahan yang mendukung pengobatan utama yang direkomendasikan oleh dokter.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rubella (Campak Jerman)

Rubella atau campak Jerman adalah penyakit menular yang disebabkan virus. Apa gejala dan penyebabnya? Bagaimana mencegah kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 2 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Growing Pain

Growing pain biasanya lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan. Kenapa itu bisa terjadi? Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Penyakit Pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 31 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Scarlet Fever, Demam Sekaligus Kemerahan pada Kulit Anak

Demam scarlet atau juga dikenal eritema disebabkan oleh berkembangnya bakteri pada penderita angina. Penyakit ini biasa menyerang anak kecil.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 27 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Memaksa Anak Jago Olahraga

Banyak orangtua yang memaksa anak untuk berprestasi dalam olahraga. Ambisi orang tua yang lebih besar membuat olahraga bagi anak kehilangan manfaat aslinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 9 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat mual anak cara mengatasi mual anak

Daftar Obat Mual untuk Anak, Mulai dari Resep Dokter Sampai Perawatan di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
obat pilek bayi

Pilihan Obat Pilek yang Bisa Diberikan pada Anak dan Bayi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
gigi susu anak apakah akan tanggal semua

Mulai Kapan Gigi Susu Anak Copot? Apakah Pasti Akan Copot Semua?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit