home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apakah Pemanis Buatan Aman Dikonsumsi Anak-anak?

Apakah Pemanis Buatan Aman Dikonsumsi Anak-anak?

Permen, kue, soft drink, jeli, dan susu kotak adalah beberapa jenis camilan yang paling digemari anak-anak. Namun, seluruh camilan ini juga memiliki persamaan lain, yakni mengandung pemanis buatan. Meskipun diperbolehkan, ada batasan konsumsi yang harus dipatuhi agar pemanis buatan tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan anak.

Mengenal pemanis buatan dan keunggulannya

Pemanis buatan merupakan bahan-bahan sintetis yang digunakan untuk menggantikan gula. Kendati lekat dengan istilah ‘sintetis’ dan ‘buatan’, pemanis yang banyak terdapat dalam produk kemasan ini biasanya dibuat dari bahan alami, termasuk gula pasir.

Gula pasir akan melewati serangkaian proses kimiawi sebelum menjadi pemanis buatan. Hasil akhir dari proses tersebut adalah pemanis buatan yang tingkat kemanisannya bisa mencapai 600 kali lipat dari bahan bakunya.

mitos tentang gula

U.S. Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui penggunaan enam jenis pemanis buatan, yakni sakarin, asesulfam, aspartam, neotam, sukralosa, dan stevia. Di antara seluruh pemanis tersebut, sukralosa adalah yang paling sering digunakan.

Penggunaan pemanis buatan saat ini dinilai tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan anak. Pasalnya, pemanis buatan bukanlah gula atau karbohidrat yang memiliki dampak buruk jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Pemanis buatan juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan gula pasir, di antaranya:

  • Tidak menyebabkan obesitas karena tidak mengandung kalori.
  • Tidak menyebabkan gigi berlubang.
  • Aman bagi penderita diabetes karena tidak meningkatkan kadar gula darah.

Adakah bahaya jangka panjang pemanis buatan bagi anak?

Pemanis buatan sering digunakan dalam produk-produk berlabel ‘diet’ atau ‘bebas-gula’. Mengingat kalorinya hanya nol, produk mengandung pemanis buatan juga diyakini dapat membantu menurunkan berat badan.

Namun, penelitian dalam jurnal Toxicological & Environmental Chemistry menunjukkan hasil sebaliknya. Anak-anak yang diberikan minuman mengandung pemanis buatan memiliki kadar plasma sukralosa darah yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Meski tidak memiliki bahaya langsung untuk kesehatan, plasma sukralosa yang tinggi akibat konsumsi pemanis buatan akan bertahan dalam tubuh anak. Hal ini disebabkan karena ginjal anak belum mampu membuang zat berlebih secara efektif.

Tingginya konsumsi pemanis buatan pada anak-anak lantas dapat memengaruhi selera makan mereka saat dewasa. Seiring masa pertumbuhan, anak yang sering terpapar makanan mengandung pemanis buatan biasanya akan terus mengonsumsinya.

Mereka cenderung lebih banyak makan manis ketika tumbuh besar. Selain karena indra pengecapannya telah terbiasa dengan rasa manis, mereka pun mengonsumsi makanan manis lain karena menganggap pemanis buatan tidak memicu kegemukan.

berat badan anak obesitas

Makanan manis yang tidak menggunakan pemanis buatan biasanya mengandung kalori berlebih. Seiring waktu, asupan kalori berlebih dari makanan manis dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, serta penyakit terkait gangguan metabolisme lainnya.

Bahaya pemanis buatan mungkin tidak langsung tampak pada anak. Padahal, konsumsi pemanis buatan dalam jumlah banyak bisa memengaruhi pola makan anak. Anak juga berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan di kemudian hari.

Untuk melindungi anak dari bahaya tersebut, orangtua dapat memberikan pemanis alternatif yang lebih aman. Misalnya, gula pasir, brown sugar, madu, atau sirup maple. Batasi pula asupannya agar anak terlatih untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

High-Intensity Sweeteners. https://www.fda.gov/food/food-additives-petitions/high-intensity-sweeteners Diakses pada 24 September 2019.

Are Artificial Sweeteners Safe for Kids? https://www.eatright.org/food/nutrition/nutrition-facts-and-food-labels/are-artificial-sweeteners-safe-for-kids Diakses pada 24 September 2019.

Children Consuming Lots More Artificial Sweeteners. https://www.healthline.com/health-news/children-consuming-more-artificial-sweeteners#1 Diakses pada 24 September 2019.

Artificial sweeteners and other sugar substitutes. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/artificial-sweeteners/art-20046936 Diakses pada 24 September 2019.

Artificial sweeteners: sugar-free, but at what cost? https://www.health.harvard.edu/blog/artificial-sweeteners-sugar-free-but-at-what-cost-201207165030 Diakses pada 24 September 2019.

Should Kids Have Artificial Sweeteners? https://www.parents.com/recipes/scoop-on-food/should-kids-have-artificial-sweeteners/ Diakses pada 24 September 2019.

What Are Artificial Sweeteners Doing to Our Kids? https://www.healthcorps.org/artificial-sweeteners-kids/ Diakses pada 24 September 2019.

Sylvetsky, A., Bauman, V., Blau, J., Garraffo, H., Walter, P. and Rother, K. (2016). Plasma concentrations of sucralose in children and adults. Toxicological & Environmental Chemistry, 99(3), pp.535-542.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Tanggal diperbarui 02/11/2019
x