Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bayi Sering Mengeluarkan Air Liur, Apakah Ini Normal?

Bayi Sering Mengeluarkan Air Liur, Apakah Ini Normal?

Selain mengompol, bayi juga sering mengeluarkan air liur. Kondisi ini ditandai dengan basahnya mulut bahkan hingga ke bagian leher dan baju si kecil. Sebagai orangtua baru, Anda mungkin merasa khawatir dan bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Kenapa bayi sering mengeluarkan air liur?

perkembangan bayi

Air liur (saliva) adalah hasil produksi dari kelenjar air liur yang mengandung 98% air dan zat penting seperti enzim, bakteri, dan elektrolit.

Meskipun sering dipandang sebelah mata, air liur ternyata memiliki peran yang penting bagi sistem pencernaan.

Air liur membantu Anda dalam menghaluskan serta mencerna makanan. Nah, kelenjar air liur ini sebenarnya sudah aktif ketika masih di dalam kandungan dan orangtua baru mengetahuinya ketika bayi dilahirkan.

Umumnya, bayi sering mengeluarkan air liur beberapa hari setelah dilahirkan hingga ia berusia 3 bulan.

Sebagian besar kondisi ini disebabkan oleh gastroesophageal reflux atau asam refluks pada bayi, yakni cairan di dalam perut yang kembali ke kerongkongan.

Asam refluks pada bayi ini terjadi akibat otot sfingter di kerongkongan bagian bawah belum sepenuhnya berkembang dan bekerja dengan baik.

Namun Anda tidak perlu khawatir, seiring waktu, otot tersebut akan beradaptasi dan tidak lagi membuat si kecil terus menerus ngiler.

Kemudian, saat ia mulai memasuki usia 6 bulan atau lebih, air liurnya akan kembali sering keluar dari mulut.

Ini terjadi akibat produksi air liur meningkat karena si bayi akan tumbuh gigi. Kondisi ini akan terus berlanjut hingga bayi berusia 12 bulan.

Apakah normal jika bayi terus mengeluarkan air liur?

bayi muntah setelah menyusui

Mengeluarkan air liur atau meludah berbeda dengan muntah.

Meludah hanya mengeluarkan air liur, sementara muntah akan mengeluarkan isi makanan. Meludah juga tidak melibatkan kontraksi otot yang kuat sehingga tidak membuat bayi merasa sakit atau tidak nyaman.

Perlu Anda ketahui bahwa meludah adalah hal yang normal dan tidak mengganggu kesehatan bayi.

Selama bayi tidak rewel, berat badannya tidak berkurang, dan tetap aktif bergerak, hal ini tidak perlu Anda khawatirkan.

Meskipun sering mengeluarkan air liur adalah hal yang normal pada bayi, Anda tetap harus mewaspadai beberapa hal.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, segera periksakan ke dokter, jika si kecil mengalami gejala berikut ini:

  • Cairan yang dikeluarkan bukan air liur, melainkan cairan berwarna hijau kekuningan atau berdarah.
  • Tumbuh kembang bayi tidak sesuai usia.
  • Berat badan menurun dan bayi tidak mau makan.
  • Pernah muntah darah atau ada darah di fesesnya.
  • Sering menangis lebih dari 3 jam sehari dan mengalami kesulitan bernapas.

Tips mengatasi bayi yang sering mengeluarkan air liur

ruam air liur

Air liur yang terus keluar terkadang bisa menimbulkan ruam kulit di area yang dibasahinya. Supaya si kecil tidak terus-menerus mengeluarkan air liur, Anda bisa mengakalinya dengan berbagai cara, seperti:

1. Pastikan bayi tidak makan berlebihan

Tidak memberi makan bayi secara berlebihan dapat mengurangi terjadinya kontraksi otot sfingter.

Ini akan mengurangi bayi meludah maupun muntah karena kekenyangan. Sebaiknya, berikan bayi makan dengan porsi sedikit tetapi lebih sering di saat ia lapar.

2. Batasi gerak tubuh bayi setelah makan

Setelah makan, jangan biarkan si kecil melakukan kegiatan yang membuatnya lebih mudah mengeluarkan air liur, seperti melompat-lompat.

Luangkan 20 menit setelah makan untuk menegakkan tubuh bayi, supaya otot sfingter tidak mendorong cairan perut kembali ke kerongkongan.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mayo Clinic. Spitting up in babies: What’s normal, what’s not. Accessed on October 26th, 2019.

Healthy Children. Why Babies Spit Up. Accessed on October 26th, 2019.

Healthy Children. Drooling and Your Baby Accessed on October 26th, 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 16/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x