Alergi pada anak sering kali baru menjadi perhatian ketika gejalanya sudah muncul, misalnya kulit gatal, ruam, gangguan pencernaan, atau keluhan lain yang membuat si Kecil tidak nyaman. Padahal, bila orangtua memiliki riwayat alergi, si Kecil juga bisa memiliki risiko yang perlu diperhatikan sejak dini.
Itulah mengapa mengenali risiko alergi dan sensitivitas sejak awal penting dilakukan. Dengan begitu, orangtua dapat lebih cepat mengambil langkah yang sesuai, mulai dari memantau gejala, berkonsultasi dengan dokter, hingga memilih nutrisi yang lebih tepat untuk si Kecil yang sensitif.
Salah satu pilihan nutrisi yang dapat dipertimbangkan adalah susu dengan Protein Terhidrolisa Parsial. Jenis protein ini diproses agar ukuran molekul proteinnya lebih kecil, sehingga lebih mudah dicerna oleh si Kecil yang sensitif.
Apa itu susu dengan protein terhidrolisa parsial?
Protein di dalam susu sapi merupakan sumber pemicu utama terjadinya alergi susu sapi. Terdapat dua jenis protein pada susu sapi, yaitu kasein dan whey.
Berdasarkan penjelasan dari World Nutrition Journal tahun 2021, Kasein memiliki molekul protein yang lebih rumit dan lebih sulit untuk dicerna. Sementara, whey memiliki molekul protein lebih sederhana, mudah dicerna, dan mengandung lebih sedikit protein alergen daripada kasein.
Molekul protein susu sapi memiliki ukuran yang lebih besar sehingga pada beberapa anak dapat lebih sulit dicerna dan memicu alergi. Hal ini yang menyebabkan munculnya protein terhidrolisa parsial.
Susu dengan protein terhidrolisa parsial adalah susu yang berasal dari protein susu sapi, baik kasein atau whey, yang telah diproses secara hidrolisis untuk memecah sebagian protein tersebut menjadi molekul yang lebih kecil.
Berbeda dengan protein pada susu biasa yang umumnya masih berbentuk utuh, Protein Terhidrolisa Parsial sudah melalui proses pemecahan menjadi molekul yang lebih kecil. Ukuran protein yang lebih kecil ini membuatnya lebih mudah dicerna, sehingga dapat menjadi pilihan nutrisi yang lebih sesuai untuk si Kecil yang sensitif atau memiliki risiko alergi.
Manfaat konsumsi susu dengan protein terhidrolisa parsial
Susu dengan protein terhidrolisa parsial memiliki banyak manfaat untuk Si Kecil, berikut adalah beberapa manfaatnya.
1. Menurunkan risiko alergi dan intoleransi laktosa
Susu dengan protein terhidrolisa sebagian memiliki berat dan ukuran molekul yang lebih kecil sehingga lebih mudah dicerna dan menurunkan risiko alergi.
Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia juga merekomendasikan susu dengan protein terhidrolisa parsial bagi anak yang memiliki risiko alergi susu sapi. Anak yang lahir dari orang tua yang memiliki riwayat alergi, maka ia juga berisiko alergi.
2. Mengurangi risiko eksim
Salah satu masalah kesehatan kulit yang sering terjadi pada anak adalah eksim. Susu sapi dapat memicu timbulnya eksim pada anak yang berisiko tinggi, misalnya anak dengan genetik eksim.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Hegar., et al tahun 2021, anak dengan riwayat keluarga eksim memiliki risiko lebih rendah terkena eksim setelah konsumsi susu dengan protein terhidrolisa.
Pada penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa risiko terkena eksim dapat diturunkan hingga 55 persen dengan penggunaan susu terhidrolisis parsial.
3. Mendukung proses belajar anak
Berdasarkan studi terbitan jurnal JAMA Dermatology, dermatitis atopik atau eksim memiliki hubungan dengan ketidakmampuan belajar pada anak. Dermatitis atopik diketahui berhubungan dengan gangguan tidur, perhatian dan memori pada anak. Semakin parah kondisi dermatitis atopik, semakin sulit anak untuk belajar hal baru.
Seperti pada pembahasan sebelumnya, kondisi dermatitis atopik dapat dipicu dari alergi susu sapi. Oleh sebab itu, penggunaan susu terhidrolisis parsial sebagai pencegahan alergi penting untuk dilakukan agar proses belajar anak semakin optimal.
4. Mengoptimalkan pertumbuhan anak
Anak dengan alergi makanan, termasuk susu sapi, memiliki risiko untuk mengalami keterlambatan pertumbuhan.
Berdasarkan studi Journal of Allergy and Clinical Immunology, anak dengan alergi susu memiliki berat badan dan indeks massa tubuh yang lebih rendah daripada anak tanpa alergi.