Apa Benar Suara Alam Memicu Relaksasi Tubuh dan Pikiran?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Suara alam dan lingkungan  yang hijau telah lama dikaitkan berhubungan dengan relaksasi dan kesejahteraan manusia selama selama ratusan tahun yang lalu. Contohnya seperti suara ombak, kicau burung, serta hembusan angin ke pohon dipercaya bisa menenangkan pikiran manusia. Tapi, bagaimana bisa pengaruh suara alam bikin rileks tubuh dan pikiran?

Benarkah suara alam bikin rileks tubuh dan pikiran?

Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh Brighton and Sussex Medical School, meneliti serta meriset 17 orang dewasa menggunakan pemindai resonansi magnetik atau (fMRI). Mereka disuruh mendengar 5 serangkaian suara alam asli dan suara alam buatan manusia yang berbeda-beda selama 5 menit. Para peneliti juga menggunakan pemindai otak, monitor tingkat-jantung, serta tes eksperimen perilaku untuk menyimpulkan penyebab fisiologis dari efek suara alam tersebut.

Setiap rekaman suara alam yang berbeda, peserta ditugaskan untuk mengukur fokus pikiran dan reaksi mereka. Detak jantung mereka juga dilihat untuk membangun pada sistem saraf otonom. Tidak luput juga untuk memantau sistem organ yang terlibat dalam proses ini, seperti pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, metabolisme, dan pencernaan.

Suara alam cenderung menghasilkan dampak rileks dan tenang pada tubuh

Ketika periset mempelajari hasil fMRI peserta, mereka melihat bahwa ada aktivitas di jaringan mode bawaan otak, yaitu area yang terlibat dalam pikiran peserta untuk menenangkan diri.

Namun, aktivitas otak yang dihasilkan bervariasi, tergantung pada suara latar alam yang dimainkan dalam test tersebut. Secara khusus hasilnya ditemukan, kalau suara alam yang dibuat manusia berdampak pada pikiran peserta menjadi fokus ke alam. Sedangkan suara alam alami berdampak mendorong ke perhatian eksternal dari peserta menjadi lebih terfokus dengan dirinya sendiri.  

Perhatian yang dihasilkan dari suara alam alami, yaitu mencakup pada hal-hal yang lebih spesifik dan dikaitkan dengan kondisi yang melibatkan tekanan psikologis. Contohnya termasuk depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca trauma para peserta. Lalu, waktu bereaksi peserta juga dinilai lebih lambat saat mereka mendengarkan suara buatan dibandingkan dengan yang suara alam alami.

Selain itu, ditemukan juga perbedaan denyut jantung peserta yang terdeteksi. Mereka menunjukkan adanya respon sistem saraf otonom tubuh ketika mendengar suara alam asli. Dan secara keseluruhan, suara alam dikaitkan dengan penurunan respons simpatik tubuh ( perasaan tidak puas dan memberontak) serta adanya peningkatan respons parasimpatis yang membuat tubuh rileks dan berfungsi dalam keadaan normal, disebut sebagai rest-digest respon.

Tidak semua orang merasakan efek yang sama

Namun, hasil tersebut tidak sama untuk semua orang. Untuk beberapa orang dengan memiliki respon simpati yang tinggi saat penelitian, hasil tes ini mencatat adanya manfaat relaksasi besar dari alam untuk orang tersebut. Sedangkan orang yang memulai dengan respon simpatik rendah, mereka benar-benar mengalami sedikit peningkatan relaksasi tubuh saat mendengarkan suara alami dan buatan.

Suara alam, alam terbuka dengan suasana hijau memang menyegarkan bagi pikiran dan tubuh, Peneliti juga menyarankan, bahkan jalan-jalan beberapa menit saja di alam mampu memberi manfaat ketenangan di dalam tubuh. Kalau pun tak bisa jalan-jalan di alam terbuka, silakan mendengarkan rekaman suara alam untuk bikin rileks dan tenang pikiran Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit