home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Sering Lupa Mau Ngomong Apa? Mungkin Ini Penyebabnya

Sering Lupa Mau Ngomong Apa? Mungkin Ini Penyebabnya

Ketika sedang asyik mengobrol dan terdistraksi oleh suatu hal, tiba-tiba Anda jadi buyar dan mendadak tak ingat ingin berbicara atau bahkan melakukan apa. Ya, hampir semua orang pernah mengalaminya. Namun, tahukah Anda apa yang menyebabkan Anda lupa ketika ingin membicarakan sesuatu?

Penyebab Anda tiba-tiba lupa ingin membicarakan apa

“Duh, tadi mau ngomong apa ya, lupa lagi….” Celotehan semacam ini tentu tak asing lagi bagi Anda. Walaupun sedikit membingungkan, kejadian ini sebenarnya adalah hal yang normal terjadi.

Salah satu studi yang dilakukan oleh University of Notre Dame dan dipimpin oleh Profesor Gabriel Radvansky menjelaskan fenomena sering lupa ingin membicarakan hal apa. Ia menyebutkan bahwa doorway effect adalah penyebabnya.

Disebut dengan istilah doorway effect karena fenomena lupa saat ingin berbicara cenderung terjadi ketika seseorang masuk atau keluar (berpindah ruangan) melewati pintu. Pintu digambarkan sebagai “batas acara”, sehingga bisa memisahkan antara aktivitas sebelum dan selanjutnya.

Ketika melewati batas tersebut, memori akan dikotak-kotakkan—ingatan satu dengan ingatan lainnya dibatasi. Itulah sebabnya, saat Anda berpindah, baik tempat atau mungkin “pindah” kegiatan, Anda cenderung kesulitan untuk mengingat apa yang ingin dibicarakan atau mungkin melakukan sesuatu.

Pada studi ini, Radvansky menguji mahasiswa dalam jam kuliahnya. Ia memerintahkan mahasiswanya untuk menyembunyikan benda yang mereka miliki ke dalam kotak sambil melewati ruangan berpintu. Kemudian, para mahasiswa diminta untuk kembali ke ruangan awal dan menemukan benda yang sebelumnya disembunyikan.

Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa lupa di mana mereka menyembunyikan barangnya. Radvansky menyimpulkan bahwa adanya pintu sebagai “batas acara” bisa menghambat kemampuan seseorang untuk mengingat sesuatu. Wajar jika hal ini bisa membuat seseorang lupa ingin membicarakan apa.

lupa bikin otak lebih pintar

Bisakah doorway effect dicegah?

Fenomena ini memang tak dapat dihindari. Pasalnya, ini merupakan efek lingkungan pada kinerja otak. Anda juga tentu tidak bisa menghindari melewati pintu agar tidak melupakan suatu hal yang ingin dibicarakan, bukan?

Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir. Fenomena doorway effect ternyata bisa diminimalisasi agar tak sering-sering lupa mau ngomong apa. Bagaimana caranya? Intip beberapa tipsnya berikut ini.

1. Buat catatan

Cara untuk meminimalisir lupa ingin membicarakan apa yang paling mudah adalah dengan membuat catatan. Misalnya, Anda berencana untuk menceritakan peristiwa penting yang terjadi di kantor pada orang di rumah. Buatlah catatan pengingat di ponsel Anda.

2. Minta tolong orang lain untuk mengingatkan

Cara lain agar lain Anda tak lupa apa yang mau dibicarakan adalah meminta tolong kepada orang lain untuk mengingatkan. Ini bisa dilakukan jika Anda memang akan bersama dengan orang itu sampai waktunya Anda bercerita.

Jika Anda merasa sering lupa mengingat sesuatu, diikuti gejala lainnya, jangan sungkan untuk periksa ke dokter. Terlebih jika sering lupa yang Anda alami juga diikuti gejala seperti sulit konsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan.

Segeralah memeriksakan diri jika gejala ini bahkan sering Anda alami. Dokter akan membantu Anda menemukan penyebab yang mendasarinya dan membantu Anda memilih pengobatan yang tepat.

Sumber foto: Pixabay

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Scientific American. Why Walking through a Doorway Makes You Forget. Accessed on July 24th, 2019.

Psychology Today. Doorways Cause Forgetting. Accessed on July 24th, 2019.

Notre Dame News. Walking through doorways causes forgetting, new research shows. Accessed on July 24th, 2019.

Women’s Health. These ​9 Techniques Will Help You Stop Forgetting Things All The Time. Accessed on July 24th, 2019.


Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 26/03/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus