home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mendengar Cerita Korban Trauma Juga Bisa Bikin Stres, Berikut Penjelasan Ilmiahnya

Mendengar Cerita Korban Trauma Juga Bisa Bikin Stres, Berikut Penjelasan Ilmiahnya

Trauma tidak hanya dapat menimpa seseorang yang menghadapi kejadian traumatis secara langsung. Anda pun bisa mengalami stres akibat mendengar pengalaman buruk yang dialami oleh orang lain. Dalam ranah psikologi, hal ini dikenal sebagai secondary traumatic stress (STS) atau stres traumatis sekunder. Secondary traumatic stress adalah kondisi yang kerap terjadi tapi jarang disadari. Bagaimana STS bisa terjadi?

Emosi negatif akibat trauma bisa ‘menular’ kepada orang lain

curhat masalah pernikahan pada teman dan keluarga

Seseorang dapat mengalami trauma akibat tindak kekerasan seksual, bullying, hubungan yang tidak sehat, bencana, dan sebagainya.

Semua pengalaman buruk ini bisa memicu gangguan emosional atau perilaku yang berdampak pada kehidupan korban trauma.

Dukungan teman, keluarga, serta tenaga profesional seperti psikolog sangatlah penting selama pemulihan trauma.

Keberadaan mereka berarti besar karena hanya kepada merekalah korban dapat menceritakan pengalaman traumatis yang dialaminya.

Namun, orang-orang di sekitar korban sebenarnya juga rentan mengalami emosi negatif dari mendengarkan pengalaman buruk tersebut.

Seiring munculnya empati, emosi negatif yang terus menumpuk adalah cikal-bakal dari secondary traumatic stress (STS).

Secondary traumatic stress adalah kondisi yang dapat terjadi dalam waktu cepat maupun secara perlahan. STS yang terjadi secara perlahan juga dikenal sebagai vicarious trauma.

Sebelum mengalami vicarious trauma, seseorang biasanya akan mengalami compassion fatigue dan burnout terlebih dahulu.

sedang bersedih

Compassion fatigue muncul saat Anda ingin membantu seseorang, tapi tidak mampu merawat kondisi emosional diri sendiri.

Akibatnya, semua hal terkait pengalaman korban membuat Anda merasa lelah secara fisik maupun emosional.

Sementara itu, burnout adalah kondisi yang muncul akibat terlalu lama berada dalam lingkungan yang tidak sehat secara emosional.

Jika tidak ditangani, compassion fatigue dan burnout lambat laun membuat Anda rentan mengalami secondary traumatic stress.

Siapa saja yang berisiko mengalami secondary traumatic stress?

Siapa pun bisa mengalami STS, tapi orang-orang terdekat korban biasanya memiliki risiko yang lebih besar.

Selain itu, risiko STS juga lebih tinggi pada orang yang bekerja sebagai terapis, konselor, paramedis, polisi, pekerja sosial, dokter, dan pengacara.

Pasalnya, mereka adalah orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan korban trauma sehingga rentan terkena secondary traumatic stress.

Mereka lebih mudah berempati kepada korban sehingga emosi negatif dan sakit yang dialami korban terasa jauh lebih kuat.

Gejala secondary traumatic stress yang perlu dikenali

depresi

Secondary traumatic stress adalah kondisi yang terjadi bukan karena kesalahan korban trauma.

Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam mendengarkan cerita traumatis secara terus-menerus, bahkan pada seorang psikolog yang profesional sekalipun.

Oleh sebab itu, Anda perlu mengetahui apa saja gejala yang muncul ketika seseorang mengalami STS. Melansir laman Good Therapy, berikut sejumlah gejala yang perlu dikenali:

  • Gejala emosional, terutama rasa sedih dan cemas yang berkepanjangan. Anda mungkin juga menjadi mudah marah, mengalami perubahan mood dan selera humor, atau merasa tidak aman.
  • Gejala fisik seperti sakit kepala, kulit ruam, dan asam lambung naik.
  • Gejala kognitif seperti sulit berkonsentrasi, mengingat, dan membuat keputusan.
  • Gejala perilaku, misalnya menarik diri dari pergaulan, mengonsumsi alkohol, sulit tidur, dan berubahnya pola makan.
  • Gejala spiritual yang mencakup perasaan kehilangan harapan dan tujuan, serta perasaan telah kehilangan hubungan dengan orang lain.

Dukungan orang terdekat amat berarti bagi korban trauma, tapi pastikan Anda juga merawat kondisi emosional diri guna menghalau secondary traumatic stress. Dengan begitu, Anda dapat membantu korban trauma secara efektif.

Jika Anda mengalami kumpulan gejala di atas, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga mental profesional seperti psikiater atau psikolog.

Langkah ini bertujuan untuk meminimalisasi dampak STS terhadap kesehatan mental Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Secondary Traumatic Stress. https://www.nctsn.org/trauma-informed-care/secondary-traumatic-stress Diakses pada 23 Oktober 2019.

The impact of secondary exposure to trauma on mental health professionals. https://www.psychology.org.au/inpsych/2015/february/diehm Diakses pada 23 Oktober 2019.

Vicarious Trauma. https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/vicarious-trauma Diakses pada 23 Oktober 2019.

Vicarious Trauma. https://www.counseling.org/docs/trauma-disaster/fact-sheet-9—vicarious-trauma.pdf Diakses pada 23 Oktober 2019.

Secondary Traumatic Stress. https://www.acf.hhs.gov/trauma-toolkit/secondary-traumatic-stress Diakses pada 23 Oktober 2019.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 04/12/2019
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x