home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ini Dia Alasan Karakter Fiksi Terasa Nyata bagi Para Penikmatnya

Ini Dia Alasan Karakter Fiksi Terasa Nyata bagi Para Penikmatnya

Cerita fiksi yang menarik seringkali membuat penikmatnya tenggelam dalam alur cerita. Seperti pada film, karakter fiksi dalam cerita film tersebut bisa terasa begitu nyata dan memengaruhi psikologis penontonnya.

Penonton film bisa ikut menangis, kecewa, dan marah selama pertunjukan berlangsung. Bahkan terkadang, hal tersebut bisa melekat sampai beberapa saat setelahnya. Kenapa ini bisa terjadi?

Karakter fiksi dalam sebuah tayangan memengaruhi psikologis penonton

manfaat menonton tv

Para penikmat cerita fiksi kerap tenggelam dalam cerita dan ikut terbawa emosi, seperti rasa sedih dan marah hingga bikin menangis. Karakter dalam sebuah cerita fiksi bisa terasa begitu nyata hingga memengaruhi psikologis penonton untuk ikut merasa senang atau sedih.

Contohnya, drama Korea “The World of the Married” yang memperlihatkan kehidupan pernikahan ironis. Kehidupan Ji Sun-woo, karakter utama wanita dalam cerita tersebut, pada awalnya terlihat sempurna. Ia sukses dalam karier dan memiliki suami yang penuh kasih sayang. Namun, tiba-tiba konflik dan pengkhianatan yang rumit menghancurkan itu semua.

Ji Sun-woo dan Lee Tae-oh diceritakan sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai. Episode dua drama tersebut menyajikan momen kilas balik romantis pasangan ini, di mana Tae-oh (sang suami) mengucapkan janji cinta seumur hidup.

Lalu adegan kembali ke masa kini, memperlihatkan momen perselingkuhan Tae-oh dengan Da-kyung, perempuan muda yang dianggap sahabat oleh Sun-woo.

Drama yang juga ditayangkan di stasiun tv nasional ini mampu mengaduk emosi penonton Indonesia. Sampai-sampai, aktris yang memerankan karakter Da-kyung menjadi bahan perundungan oleh netizen Indonesia karena dianggap sebagai penghancur hubungan.

Selain itu, banyak contoh karakter dalam dalam cerita fiksi yang terasa begitu nyata dan mampu menimbulkan emosi penikmatnya. Salah satunya film “Joker” (2019) yang disebut mampu membuat banyak penonton ikut sesak napas dan cemas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penonton dapat terhubung dengan karakter fiksi secara psikologis atau emosional. Menariknya, emosi tersebut tidak berlaku untuk semua orang. Walaupun ada yang tersedu-sedan, ada juga penonton yang tidak merasakan emosi apa pun.

Kenapa karakter fiksi bisa terasa begitu nyata?

Psikologis karakter fiksi

Salah satu alasan penonton bisa merasakan secara nyata emosi dari karakter dalam film adalah karena perasaan empati dan simpati. Ada unsur keterkaitan antara tokoh dengan kehidupan penonton di dunia nyata.

“Pengalaman dengan karakter fiksi berkaitan dengan penonton, karena fakta bahwa setiap orang memiliki pengalaman mendalam sepanjang hidupnya,” jelas Howard Sklar, seorang peneliti filologi di University of Helsinki, Finlandia yang juga penulis buku The Art Sympathy of Fiction.

Empati dan simpati adalah fenomena yang kita alami hampir setiap hari. Pengalaman tersebut mempengaruhi bagaimana psikologis kita merespons karakter fiksi.

Mengutip artikel ilmiah Stanford Encyclopedia, empati memungkinkan kita untuk mengalami perasaan orang lain atau setidaknya membayangkan perasaan apa yang orang lain sedang alami.

Perasaan empati ini kemudian dapat menimbulkan simpati yakni kemampuan memahami bahwa orang lain sedang mengalami rasa sakit. Perasaan simpati seringkali mendorong seseorang ingin menolong atau mengurangi rasa sakit tersebut.

Sudut pandang dalam membangun setiap karakter dalam cerita fiksi memungkinkan psikologis penonton membayangkan rasa sakit dari tokoh. Penonton bisa merasakan rasa sakit tersebut dari kejauhan, seperti yang terjadi dalam drama Korea “The World of the Married”.

Emosi-emosi yang dirasakan oleh penonton untuk Sun-woo dipicu oleh akting aktor dan aktris yang luar biasa. Mungkin penonton tidak pernah mengalami diselingkuhi oleh kekasih seperti yang terjadi pada Sun-woo, tapi mereka tetap bisa merasakan emosi tersebut.

“Selama ada sudut pandang emosional, maka kemampuan psikologis kita dalam merasakan karakter fiksi akan melampaui semua detail dalam cerita,” ujar Sklar.

Fenomena narrative transportation saat menikmati cerita fiksi

Psikologis karakter fiksi

Perasaan empati pada karakter cerita fiksi baik itu dalam buku atau film juga disebut narrative transportation. Yakni sebuah keadaan di mana penonton merasa masuk dan terlibat dalam alur sebuah cerita sehingga dapat mempengaruhi sikap mereka dalam kehidupan nyata, bahkan setelah mereka selesai membaca atau menonton film tersebut.

Pada fenomena ini, perasaan empati penonton sampai pada tahap seolah-olah ia bisa menempatkan diri sebagai karakter tersebut. Karakter cerita fiksi yang mempengaruhi psikologis dan perasaan empati seseorang juga bisa berdampak baik.

“Kekuatan tokoh protagonis dari cerita dan film fiksi dapat menginspirasi penonton dan bahkan berfungsi sebagai panutan dan memberi inspirasi untuk mengejar impian,” tulis sebuah jurnal dalam Association Psychological American.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Maslej, M., Oatley, K., & Mar, R. (2017). Creating fictional characters: The role of experience, personality, and social processes. Psychology Of Aesthetics, Creativity, And The Arts, 11(4), 487-499. doi: 10.1037/aca0000094
  • Goldsmiths College. UK Research and Innovation. Understanding individual variation in empathy enhancement. Retrieved May 20 2020 from: https://gtr.ukri.org/projects?ref=ES%2FR007527%2F1
  • Stanford Encyclopedia of Philosophy. (2008). Empathy. Retrieved May 20 2020 from: https://plato.stanford.edu/entries/empathy/

Hall, A., & Bracken, C. (2011). “I Really Liked That Movie”. Journal Of Media Psychology, 23(2), 90-99. doi: 10.1027/1864-1105/a000036

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 07/06/2020
x