home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kenapa Beberapa Perempuan Tak Mau Punya Anak

Kenapa Beberapa Perempuan Tak Mau Punya Anak

Membangun keluarga adalah impian setiap orang. Setelah menikah, memiliki anak seakan menjadi suatu keharusan. Ada pasangan yang setelah menikah, siap segera memiliki anak, ada pula yang masih ingin menunda memiliki anak, karena berbagai alasan. Sebagai seorang perempuan, memiliki anak adalah sebuah anugerah, lengkap sudah rasanya jika sudah menjadi seorang ibu. Namun menjadi seorang ibu bukan hal mudah, atau bukan hal yang bisa dilakukan dengan asal-asalan. Itu juga yang menjadi salah satu perempuan melakukan program memiliki anak, agar mental untuk menjadi orang tua siap. Ada pula perempuan yang harus menunggu untuk memiliki anak. Namun, tak jarang juga perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali.

Apa yang menjadi alasan mereka?

Mengapa tak mau punya anak?

Ada banyak alasan mengapa pasangan suami istri belum mau memiliki anak:

Masih menikmati waktu berdua

Biasanya beberapa pasangan yang baru menikah masih ingin menikmati waktu berdua. Hal ini bisa juga disebabkan oleh rutinitas yang sama-sama padat, sehingga waktu untuk berdua pun masih ingin dirasakan lebih lama. Bukan hal yang buruk, untuk menyeimbangkan peran di keluarga, saling mengenal satu sama lain adalah hal yang penting untuk dilakukan. Tak sedikit perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, namun tak sedikit pula yang memutuskan untuk tetap bekerja. Menyeimbangkan peran baru setelah menikah adalah amat penting untuk perempuan. Maka dengan memiliki waktu berdua dengan pasangan, membuat perempuan menjadi lebih matang dalam mencapai visi misi berkeluarga.

Kestabilan finansial

Pasangan yang memilih untuk belum mau miliki anak bisa didasari faktor ekonomi. Mereka ingin membangun rumah tangga yang stabil dari segi finansial terlebih dahulu. Ini bisa menjadi keuntungan bagi perempuan bagi perempuan yang ingin mencapai karirnya terlebih dahulu. Memiliki anak berarti fokus seorang perempuan pun bertambah. Belum memiliki anak, perempuan dapat fokus pada impiannya dan membuat finansial keluarga stabil.

Secara emosi tidak siap

Menjadi ibu rumah tangga atau pekerja sama-sama memiliki tingkat stress tertentu. Berdasarkan data NICHD Study of Early Child Care and Youth Development (SECCYD), menjadi orangtua berarti kita harus memfokuskan pada aspek kesehatan mental, menangani konflik antara pekerjaan dan keluarga, terlibat dalam perkembangan anak di sekolah, dan sensitivitas lain mengenai parenting. Jika tingkat emosi seseorang belum siap, ini akan sangat berpengaruh pada perkembangan keluarga dan kognitif anak. Maka memilih untuk tidak memiliki anak mungkin adalah hal yang masuk akal.

Ingin memaksimalkan kehidupan sosial

Keintiman dan keharmonisan rumah tangga yang diiringi kehidupan sosial yang memuaskan, akan membuat kehidupan menjadi lebih bahagia. Setelah menikah, biasanya akan ada perubahan dalam kehidupan sosial. Memiliki tanggung jawab baru seperti punya anak bukanlah hal mudah, karena ini menimbulkan adanya batasan pada kehidupan sosial, seperti tidak bisa terlalu sering lagi berkumpul bersama teman.

Khawatir tak bisa jadi ibu yang baik

Anak-anak sekarang hidup di zaman kompetitif. Mereka diajarkan untuk selalu terdepan dan memiliki inovasi. Anggapan tentang ‘ibu yang baik’ bermunculan, ketika anak meraih prestasi. Orang-orang akan memuji orang uanya dalam hal mendidik. Begitu juga ketika anaknya nakal, maka orang-orang akan menyalahkan orang tuanya. Ketika memilih untuk tidak memiliki anak, maka perempuan tidak perlu takut dengan anggapan itu.

Apakah memiliki anak menakutkan?

Melihat sisi positif tidak memiliki anak memang membuat perempuan berpikir dua kali untuk memiliki anak. Namun, benarkah memiliki anak itu berarti memiliki tanggung jawab yang menakutkan?

Memiliki kehidupan baru

Memiliki anak adalah suatu perjalanan baru sebagai perempuan. Ada kehidupan baru dan berbeda dari sebelumnya. Perjalanan tersebut sayang jika dilewatkan, karena sebagai orangtua, kita akan masuk ke dalam dunia imajinasi anak-anak, melihat perkembangannya. Saat sebagai masih muda, kita masih memiliki tenaga untuk membagi fokus pada anak. Maka tanggung jawab baru tidak seburuk itu.

Terlibat pada setiap perkembangan

Memang terkadang perempuan dihantui dengan kegagalan sebagai ibu untuk mendidik anak lebih baik. Padahal mendidik anak adalah tugas dua belah pihak. Terlibat dalam perkembangan anak dari kecil hingga dewasa bisa menjadi hal yang menakjubkan. Seperti kita menanam bunga, lalu melihat perkembangannya hingga bunga itu tumbuh mekar. Pasti akan terasa menyenangkan.

Masa depan yang tak terduga

Rasanya memang membuat cemas ketika rencana menjadi tak terduga. Memiliki anak akan membawa ke arah yang tak terduga. Sebagai perempuan, kita tidak tahu apa yang akan kita dapatkan ketika membesarkan anak.

Stigma masyarakat

Ada stigma masyarakat yang menuntut perempuan harus memiliki keturunan. Memang tak masalah mematahkan stigma tersebut. Tetapi akan menjadi tekanan ketika teman-teman yang dekat dengan telah memiliki anak, atau kerabat terdekat memiliki anak-anak yang lucu. Hal tersebut akan menambah beban mental perempuan.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Buehler, Cheryl. O’Brien, Mario (2011). Mothers’ Part-Time Employment: Associations with Mother and Family Well-being. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3237952/ Accessed on September 13th 2016

Luthar, Suniya S. Ciciola, Lucia (2015). What It Feels Like To Be A Mother: Variations By Children’s Developmental Stages. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4695277/ Accessed September 13th 2016

Being A Mother Is Not The Most Important Job In The World. https://www.theguardian.com/commentisfree/2013/nov/18/sorry-but-being-a-mother-is-not-the-most-important-job-in-the-world Accessed September 13th 2016

Pros and Cons ff Being Mother. http://www.huffingtonpost.com/candace-davis/the-pros-and-cons-of-becoming-a-mother-from-someone-who-deoesnt-really-know_b_5377524.html Accessed September 13th 2016

For Young Women, Not Having Children Has Become the Rational Decision. https://mic.com/articles/114040/for-young-women-not-having-children-has-become-the-rational-decision#.d6kYpG5kg Accessed September 13th 2016

Advantages and Disadvantages of Marriage. https://pairedlife.com/relationships/Advantages-and-Disadvantages-of-Marriage Accessed September 13th 2016

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Rizki Pratiwi
Tanggal diperbarui 23/09/2016
x