home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pentingnya Sikap Asertif Saat Berkomunikasi, Ini Cara Melakukannya

Pentingnya Sikap Asertif Saat Berkomunikasi, Ini Cara Melakukannya

“Hari ini nonton apa, ya?” Ketika ditanya hal ini, Anda mungkin pernah atau malah sering menjawab, “Bingung nih, kalau kamu maunya nonton apa?” Setelahnya, Anda menyesal karena tidak ingin mengatakan keinginan dan membiarkan teman Anda yang memutuskan. Pernah mengalami hal demikian? Jika iya, ini adalah contoh kasus kecil dari sikap pasif yang berbanding terbalik dengan sikap asertif.

Sikap asertif disebut-sebut sebagai sikap dasar yang dibutuhkan agar komunikasi berjalan dengan baik. Lantas, seperti apa sikap asertif itu dan bagaimana tips menerapkannya? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Apa itu asertif ?

Asertif merupakan keterampilan dalam berkomunikasi, yang artinya adalah sikap mampu mengekspresikan diri tapi tetap menghormati dan menjaga perasaan orang lain.

Mengapa sikap ini disebut penting dalam berkomunikasi? Alasannya karena sikap ini memberi peluang bagi seseorang untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran dan perasaannya. Sikap ini juga membuat seseorang jadi lebih tegas, percaya diri, dan dihargai oleh orang lain.

Sikap asertif adalah sikap yang tidak pasif maupun agresif. Orang yang pasif cenderung pemalu, menghindari konflik, dan berpikir bahwa pikiran dan perasaannya tidak sepenting orang lain. Intinya, ketika Anda bersikap pasif, Anda memberi pintu bagi orang lain untuk mengabaikan keinginan atau kebutuhan Anda.

Sebagai contoh sederhana, Anda diminta atasan mengerjakan proyek baru, padahal tugas yang Anda pegang saat itu sudah sangat menumpuk. Anda tidak berani menolak, dan mau tidak mau harus bekerja lembur. Akibatnya, waktu Anda bersama keluarga maupun untuk diri sendiri jadi berkurang.

Jika dibiarkan, sikap pasif dapat menimbulkan konflik internal seperti perasaan tertekan dan marah, menimbulkan kebencian yang akhirnya mendorong Anda untuk melakukan balas dendam.

Sementara itu, jika Anda bersikap agresif, Anda akan mengabaikan perasaan, kebutuhan, dan pendapat orang lain. Orang dengan sikap agresif ini cenderung mengintimidasi dan dapat menyebabkan orang lain membenci Anda.

Perlu Anda ketahui juga bahwa sikap asertif adalah sikap yang tidak pasif-agresif. Orang yang pasif-agresif biasanya mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya, kemudian menyindir dan mengeluh tentang orang lain di belakang mereka. Mereka juga cenderung melampiaskan kemarahan melalui sikap negatif.

Seiring waktu, perilaku pasif-agresif merusak hubungan dan melemahkan rasa saling menghormati antara Anda dengan orang di sekeliling. Akibatnya, Anda akan semakin sulit untuk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan.

Apa saja manfaat bersikap asertif?

Sikap asertif dipandang sebagai gaya komunikasi yang sehat karena sikap ini memberikan banyak manfaat. Sikap ini mencegah Anda dimanfaatkan oleh orang lain atau melakukan tindakan yang menganggu orang lain.

Dilansir dari Mayo Clinic, berikut ini adalah beberapa manfaat sikap asertif dalam berkomunikasi:

  • Anda akan menjadi lebih percaya diri dan lebih menghargai diri sendiri.
  • Semakin memahami perasaan diri sendiri dan orang lain.
  • Lebih menghormati pendapat orang lain.
  • Komunikasi yang Anda lakukan berjalan lancar, mencapai tujuan, dan menciptakan suasana win-win solution, yakni menguntungkan semua pihak.
  • Lebih puas dalam melakukan pekerjaan.
  • Dapat mengatasi stres, terutama jika Anda mengalami stres karena mengambil terlalu banyak tanggung jawab dan sulit untuk menolaknya.

Tips melatih diri bersikap asertif

membagi waktu pacar dan teman
Sumber: Stocksy

Sikap asertif tidak hadir secara alami dalam diri seseorang. Beberapa di antaranya mungkin lebih pasif, agresif, atau pasif-agresif dalam berkomunikasi. Nah, ternyata semua itu juga dipengaruhi oleh kepribadian seseorang. Sebagai contoh, orang yang kurang percaya diri dan khawatir pendapat orang lain terhadap diri Anda, atau khawatir jika tindakannya tidak disukai orang lain lebih mungkin memiliki sikap pasif.

Sementara itu, orang yang terlalu percaya diri dan hanya fokus pada diri sendiri tanpa memikirkan kebutuhan orang lain cenderung memiliki sikap agresif. Lantas, bagaimana caranya supaya Anda menjadi sosok yang lebih asertif?

Berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa Anda terapkan untuk melatih diri jadi lebih asertif dalam berkomunikasi:

1. Cobalah menilai diri Anda sendiri

Langkah awal untuk belajar menjadi lebih asertif adalah dengan menilai diri sendiri. Apakah Anda termasuk orang yang agresif, pasif, atau keduanya. Memahami hal ini akan memudahkan Anda untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Coba amati hal-hal berikut ini untuk menjadi pertimbangan:

  • Apakah sudah cukup menyuarakan pendapat Anda atau lebih memilih diam?
  • Anda termasuk orang yang cepat menghakimi atau menyalahkan orang lain?
  • Apakah Anda malu membuka pembicaraan atau diajak berbicara oleh orang lain?

2. Berlatih berkata “tidak”

Jika Anda diminta melakukan sesuatu, tetapi Anda tidak bisa, coba katakan, “Tidak, saya tidak bisa melakukannya sekarang.” Jangan ragu dan cobalah untuk berterus terang. Kemudian, jelaskan juga alasan kenapa Anda menolak hal tersebut. Dengan begitu, orang lain akan memahami kondisi Anda.

3. Coba latihan berbicara

Menyatakan apa yang Anda pikirkan dan rasakan adalah langkah yang bagus untuk menjadi lebih asertif. Akan tetapi, saat berpendapat, Anda harus pandai dalam memilih kalimat.

Ketimbang, menyatakan “Wah, pendapatmu nggak benar” lebih baik menggunakan “Aku kurang setuju sama pendapatmu”. Kemudian, ketika Anda memerlukan bantuan, pilih kalimat ini “Aku minta tolong kamu untuk …” ketimbang “Kamu harusnya mengerjakan ini…”

Agar Anda semakin lihai dalam mengemukakan pendapat, latihan sangat diperlukan. Supaya orang lain dapat mengerti apa yang Anda ingin sampaikan, tulislah hal-hal yang Anda anggap penting terlebih dahulu. Catatan ini bisa membantu Anda mengemukakan pendapat jadi lebih lancar.

Selanjutnya, cobalah berlatih berbicara di depan cermin. Ini dilakukan untuk menumbulkan rasa percaya diri, sekaligus melatih bahasa tubuh dan ekspresi wajah.

4. Kendalikan emosi

Dalam berkomunikasi, tidak semua orang setuju akan pendapat yang Anda sampaikan. Jangan biarkan hal ini membuat Anda marah, kesal, dan malah mengambil tindakan yang nantinya malah memperkeruh suasana. Jadi, sangat penting bagi Anda untuk selalu mengendalikan emosi dan bersikap tenang.

Ingat, menjadi orang yang bersikap asertif tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anda mungkin butuh waktu dan proses yang cukup lama dan apabila Anda tipe orang yang agresif, maka Anda juga perlu belajar mengendalikan amarah.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Stressed out? Be assertive. (2020, May 29). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/assertive/art-20044644 [Accessed on February 2nd, 2021]

10 tips for being assertive. Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ten-tips/10-tips-for-being-assertive [Accessed on February 2nd, 2021]

Assertiveness. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/basics/assertiveness [Accessed on February 2nd, 2021]

Assertiveness. Nemours KidsHealth – the Web’s most visited site about children’s health. https://kidshealth.org/en/teens/assertive.html [Accessed on February 2nd, 2021]

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 01/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x