backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

3

Tanya Dokter
Simpan

Kanker Serviks Terjadi pada Wanita Usia Berapa? Ini Penjelasannya

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Diva Mosaik Lintang · Tanggal diperbarui 27/06/2023

Kanker Serviks Terjadi pada Wanita Usia Berapa? Ini Penjelasannya

Kanker serviks menjadi salah satu penyakit mematikan yang paling banyak dialami oleh wanita. Hingga kini masih banyak simpang siur terkait risiko kanker serviks yang hanya menyerang usia di atas 45 tahun. Padahal kanker serviks pada remaja pun bisa terjadi. Lantas, kanker serviks terjadi pada usia berapa dan menyerang wanita dengan kondisi yang bagaimana? Berikut ulasannya.

Kanker serviks terjadi pada usia berapa?

Pada awal mula penyakit ini mulai banyak ditemukan, kanker serviks lebih jarang dialami oleh wanita usia 20-an ke bawah.

Namun, kini semakin banyak ditemukan kasus penyakit kanker serviks pada remaja perempuan usia 20-an. Bahkan, ada pula pengidap kanker serviks yang masih berusia belasan tahun. Hal ini tentu tidak terjadi tanpa ada alasan.

Sebab, pada dasarnya, usia bukan menjadi parameter utama dalam menentukan seseorang berisiko terkena kanker serviks.

Kanker serviks yang terjadi akibat infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV) ini dapat terjadi di dalam tubuh wanita yang telah melakukan kontak seksual.

Perlu dipahami, kontak seksual tidak semata-mata hanya merujuk pada hubungan seksual dengan lawan jenis, tapi juga bisa merujuk pada aktivitas lain yang melibatkan organ kelamin wanita.

Aktivitas yang dimaksudkan seperti, Anda melakukan masturbasi yang memasukkan benda apa pun ke dalam organ intim sehingga menyentuh area serviks.

Dengan kata lain, meski seseorang dikatakan masih berusia remaja dan belum menikah, berpotensi mengidap penyakit kanker serviks jika sering melakukan kontak seksual tersebut.

Selain faktor tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa wanita yang menggunakan obat-obatan immunosupresan yang biasanya ditujukan untuk penderita penyakit imunologi seperti HIV, berpotensi menderita kanker serviks lebih besar.

Sebab, perempuan dengan daya tahan tubuh yang lemah akan lebih mudah terinfeksi virus HPV.

Dengan menimbang berbagai faktor tersebut, penting bagi setiap wanita untuk melakukan pencegahan kanker serviks terlepas dari berapa pun usia Anda.

Perlunya pencegahan sejak dini

Risiko kematian akibat kanker serviks tergolong cukup tinggi karena penyakit ini cenderung tidak menunjukkan gejala yang spesifik.

Tak sedikit para pasien yang baru mulai mengalami gejala saat kanker serviks yang dideritanya semakin parah.

Namun, meski termasuk jenis penyakit mematikan, kanker serviks adalah jenis kanker yang bisa dicegah. Oleh karena itu, pencegahan kanker serviks perlu diketahui setiap wanita.

Pencegahan bisa dimulai dari yang paling sederhana seperti memperbaiki gaya hidup dan rutinitas kegiatan seksual agar terhindar dari risiko penularan virus HPV.

Selain itu, pencegahan dari segi medis juga bisa dilakukan seperti pap smear, vaksin HPV, serta skrining kanker serviks.

Hal ini dianggap penting karena jika pemeriksaan kesehatan dilakukan sejak dini dan hasil diagnosis menunjukkan gejala kanker serviks. Pengobatan dapat segera dilakukan guna membantu penyembuhannya.

Namun, jika diagnosis terlambat diketahui dan kanker serviks sudah berkembang lebih buruk, efektivitas pengobatannya juga semakin rendah dan risiko kematian meningkat.

Lakukan skrining kanker serviks

Dari sejumlah tindakan pencegahan kanker serviks, skrining kanker serviks menjadi salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan mudah guna mendeteksi dini penyakit tersebut.

Anda pun tak perlu bingung memilih layanan dalam melakukan skrining kanker serviks karena kini BPJS telah menyediakan program skrining kanker serviks.

Peserta JKN yang berjenis kelamin wanita dapat memperoleh pelayanan skrining kanker serviks di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) 1 kali setahun.

Skrining kanker serviks yang dilakukan dapat melalui pemeriksaan IVA atau Papsmear. Jika peserta yang telah melakukan IVA hasilnya positif, dapat langsung ditindaklanjuti melalui krioterapi.

Sementara itu, jika peserta yang telah melakukan papsmear terdeteksi risiko kanker serviks, dapat menjalani pemeriksaan lanjutan di FKTP atau rumah sakit jika diperlukan.

Pencegahan sangatlah penting untuk dilakukan sejak dini agar pengobatan dapat segera dilakukan bagi para pengidapnya, sehingga dapat membantu penyembuhan dan menekan risiko kematian.

Oleh karena itu, lakukan skrining kanker serviks untuk mengetahui risiko kanker serviks. Lebih baik mencegah sebelum terlambat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Diva Mosaik Lintang · Tanggal diperbarui 27/06/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan