Mengapa Ada Orang yang Suka Menyalahkan Diri Sendiri?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 8 September 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Hampir semua orang di dunia ini pernah menyalahkan diri sendiri ketika tidak berhasil mendapatkan sesuatu atau menghadapi sebuah masalah. Kondisi ini sebenarnya termasuk dalam kekerasan emosional yang bisa membuat Anda tidak termotivasi melakukan apa pun.

Lantas, mengapa perasaan ini bisa muncul dan bagaimana cara terbaik untuk mengatasinya?

Mengapa fenomena menyalahkan diri sendiri bisa terjadi?

Self-blame atau menyalahkan diri sendiri merupakan sebuah perasaan yang tidak puas dengan kegagalan, mengalami keputusasaan, dan kadang berakhir dengan depresi. Bagi beberapa orang, mengakui kesalahan diri sendiri merupakan salah satu bagian evaluasi, tetapi lain cerita jika dilakukan berlebihan. 

Perasaan ini muncul karena Anda tidak mampu menanamkan sisi kemanusiaan terhadap diri sendiri. Banyak yang bilang manusia adalah makhluk sempurna, tetapi bukan berarti Anda tidak dapat melakukan kesalahan.

Tidak dapat memenuhi keinginan

depresi pada pria

Manusia yang senang menyalahkan diri sendiri biasanya tidak dapat menyeimbangkan antara kenyataan dan ekspektasi mereka.

Selain itu, masalah ini biasanya juga muncul akibat Anda cenderung mengambil alih tanggung jawab yang sebenarnya tidak perlu Anda lakukan.

Misalnya, Anda adalah seorang ketua divisi acara yang menginginkan acara sukses tanpa ada satu kesalahan pun. Keinginan tersebut membuat Anda terjun langsung mengerjakan hal-hal detail yang seharusnya bukan bagian Anda. 

Tugas Anda pun keteteran dan lupa dengan tanggung jawab. Akibatnya, acaranya tidak sesuai ekspektasi sehingga Anda menyalahkan diri sendiri karena telah mengabaikan tanggung jawab Anda sendiri. 

Menyalahkan diri sendiri dapat meningkatkan risiko depresi

krisis identitas

Pada tahun 2015 terdapat sebuah penelitian seputar hubungan antara menuduh diri sendiri dan gangguan depresif mayor. Di dalam penelitian tersebut dilibatkan 132 pasien depresi yang diwawancarai untuk mengetahui gejala dan penyebab depresinya. 

Hasilnya, lebih dari 90% pasien merasa tertekan dan tidak mampu. Selain itu, 80% di antara mereka juga sering menyalahkan diri sendiri dan menggangap dirinya tidak kompeten dalam menghadapi masalah. 

Perasaan tersebut, seperti tidak mampu dan putus asa, sangat berkaitan erat dengan suasana hati yang tertekan saat menghadapi sebuah masalah. Akibatnya, emosi yang ditimbulkan tadi tidak jarang menyebabkan Anda menyalahkan diri sendiri dan berujung depresi.

Sayangi diri Anda mulai dari sekarang

meningkatkan rasa bahagia

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, entah itu berasal dari diri sendiri maupun faktor eksternal. Perasaan menyalahkan diri sendiri mungkin baik sebagai bahan evaluasi diri, tetapi melakukannya secara berlebihan dan berlarut-larut justru bisa membuat Anda depresi. 

Oleh karena itu, cobalah untuk lebih mengenal dan menyayangi diri sendiri agar mengetahui nilai diri yang Anda miliki. 

Walaupun terdengar mudah, ternyata mencintai diri sendiri adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Ini dia beberapa tips yang mungkin bisa membantu Anda berhenti menyalahkan diri sendiri. 

  • Mengenali tanggung jawab Anda untuk mengetahui apa yang menjadi kewajiban Anda. 
  • Mempertanggungjawabkan apa yang telah Anda perbuat. Ingat, kesalahan bukanlah sesuatu yang hina, melainkan keadaan yang Anda ciptakan ketika berbuat sesuatu. 

Sebenarnya, Anda berhak untuk berbuat salah karena dari kesalahan itulah Anda mempelajari sesuatu. Sibuk menyalahkan diri sendiri kebanyakan tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Malah, hal itu akan membuat Anda terpuruk dan tak mampu melangkah ke depan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Saja Risiko Kesehatan yang Dihadapi Seorang Psikolog?

Setiap pekerjaan memiliki risiko tersendiri bagi kesehatan, begitu pun tenaga mental profesional seperti psikolog. Apa saja risiko tersebut?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 7 Januari 2020 . Waktu baca 4 menit

3 Dampak Merugikan yang Muncul Saat Anda Benci Kepada Diri Sendiri

Perasaan benci kepada diri sendiri tentu akan menimbulkan berbagai dampak yang bisa merusak kualitas hidup Anda. Apa saja dampak tersebut?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 11 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Beberapa Gangguan Jiwa Bisa Muncul Sekaligus, Ini Sebabnya

Pasien masalah kejiwaan bisa memiliki banyak gangguan jiwa sekaligus bila kondisinya tidak ditangani dengan baik. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Hidup Sehat, Psikologi 3 Desember 2019 . Waktu baca 3 menit

Mengapa Ada Orang yang Membenci Dirinya Sendiri? Plus Cara Menghentikannya

Membenci diri sendiri adalah sebuah perasaan yang berpengaruh cukup besar terhadap hidup seseorang. Segera cari tahu penyebab dan cara atasinya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 30 November 2019 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bahaya cyber bullying

Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
perbedaan stres dan depresi, gangguan kecemasan

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 9 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit
kecerdasan emosional terlalu tinggi

5 Dampak Memiliki Kecerdasan Emosional yang Terlalu Tinggi

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 6 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit