Cabin Fever, Risiko yang Menghantui di Tengah Pandemi

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 09/05/2020
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Demi menekan angka kasus penularan COVID-19 di Indonesia, pemerintah pun memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah. Dengan adanya PSBB, masyarakat diharapkan tidak bepergian jika tidak mendesak sampai pandemi mereda.

Di sisi lain, terlalu lama tinggal di rumah ternyata juga dapat memberikan dampak negatif terhadap emosi seseorang. Istilah cabin fever baru-baru ini muncul untuk menggambarkan dampak tersebut.

Apa itu cabin fever?

cara mencegah stres kerja freelance

Cabin fever adalah serangkaian emosi negatif dan rasa sedih yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang terisolasi atau terpisah dari dunia luar.

Istilah ini sebenarnya sudah sering digunakan sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Awalnya, cabin fever ditujukan pada perasaan kesal dan gelisah dari orang-orang yang tinggal jauh dari keramaian dan harus terjebak di dalam rumah karena musim dingin dan salju yang menumpuk membuat akses jalanan jadi tertutup.

Belakangan ini, cabin fever ramai disebut lagi di tengah adanya pandemi COVID-19, termasuk di Indonesia. Banyak orang yang sudah mulai mengeluh jenuh atau bahkan merasa stres karena sudah terlalu lama tinggal di rumah.

Kondisi ini wajar terjadi, terutama jika seseorang tinggal sendirian dan mulai merasa kesepian karena tidak dapat bertemu dengan keluarga atau teman-teman.

Meski bukan termasuk ke dalam penyakit mental, bukan berarti Anda bisa mengabaikan keberadaaannya. Rasa sedih dan kesepian yang dialami selama berhari-hari tentunya dapat berpengaruh pada kehidupan Anda.

Kondisi ini juga dapat menimbulkan berbagai gejala yang akan bertambah buruk jika tidak diatasi dengan tepat.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

26,473

Terkonfirmasi

7,308

Sembuh

1,613

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Gejala-gejala yang dirasakan saat cabin fever melanda

Gejala yang dirasakan bisa berbeda-beda pada setiap orang, yang jelas keadaan ini bukanlah sekadar perasaan bosan di rumah saja. Berikut adalah beberapa tanda yang biasanya dirasakan oleh orang-orang yang mengalaminya.

  • Kegelisahan
  • Lesu
  • Menghilangnya kesabaran
  • Menghilangnya motivasi dalam banyak hal dan mudah putus asa
  • Durasi dan pola tidur yang tidak teratur
  • Sulit bangun tidur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kesedihan yang tak kunjung hilang atau bahkan depresi

Munculnya cabin fever juga dapat bergantung pada kepribadian seseorang. Ada sebagian yang bisa mengatasi perasaan jenuh dengan lebih mudah, ada juga yang merasa waktu yang dihabiskan di rumah setiap saat membuat mereka tersiksa.

Cabin fever mungkin akan memberikan efek yang lebih buruk bagi orang-orang yang memiliki kondisi tertentu. Bagi orang-orang yang sudah depresi, keberadaannya dapat memperparah apa yang mereka rasakan.

Orang-orang yang ekstrover dan senang bersosialisasi juga bisa saja menjadi pihak yang tak bahagia dan berisiko mengalami kondisi ini.

cara sehat karantina diri COVID-19

Jika terjadi, bagaimana cara mengatasi cabin fever?

Apabila Anda mulai merasakan beberapa gejalanya, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya.

1. Berjalan ke luar rumah

mengatasi cabin fever

Tentu yang dimaksud dengan ke luar rumah di sini bukanlah bepergian ke tempat lain. Anda masih akan berada di sekitaran rumah, hanya saja tidak berdiam di dalamnya.

Keluarlah ke halaman atau area yang terpapar sinar matahari langsung. Menghabiskan sedikit waktu di luar ruangan dapat membantu memperbaiki perasaan serta mengurangi stres.

Jika tidak memungkinkan, Anda bisa membuka jendela untuk membiarkan udara masuk dari luar. Menanam tanaman kecil di dekat balkon atau jendela juga merupakan ide yang baik.

2. Sibukkan diri dengan berbagai hal yang Anda senangi

Meski tetap bekerja dari rumah, Anda tentu masih punya banyak waktu yang tersisa untuk menghabiskan sisa hari itu. Agar gejala cabin fever tak semakin memburuk, cobalah untuk mulai melakukan kegiatan lainnya yang Anda senangi.

Mungkin Anda bisa mulai mencoba untuk mempelajari sebuah keterampilan yang tak pernah Anda lakukan sebelumnya.

Kegiatan lain seperti memasak, melukis, dan membuat kerajinan tangan juga dapat menjadi hal yang menyenangkan bila dilakukan bersama dengan keluarga.

3. Lakukan olahraga

olahraga atasi cabin fever
Sumber: Women’s Health Magazine

Berdiam diri di rumah bukan berarti Anda bisa mengesampingkan kegiatan ini. Olahraga tak melulu menjadi kegiatan yang harus dilakukan di luar ruangan. Beberapa olahraga seperti yoga, senam, atau latihan HIIT merupakan beberapa jenis yang bisa Anda pilih untuk mengisi waktu.

Olahraga dapat sangat membantu bagi Anda  yang sudah mulai merasa jenuh dan stres karena terus-terusan berada di rumah, terutama jika Anda telah merasakan gejala awal terkait cabin fever.

Telah banyak diketahui bahwa orang yang berolahraga secara teratur dapat mengurangi tingkat kecemasan daripada orang-orang yang tidak berolahraga.

Hal ini sebabkan oleh adanya penurunan hormon stres bernama kortisol yang terjadi ketika Anda sedang melakukan olahraga.

4. Jalani pola makan yang sehat

Terkadang, stres yang dirasakan saat harus berdiam di rumah juga berujung pada pelampiasan untuk memakan makanan yang instan dan penuh rasa seperti junk food. Meski bisa memberikan rasa nyaman untuk sementara, sayangnya makan makanan tak sehat malah akan berakibat buruk pada kesehatan.

Tubuh Anda tentunya tidak akan seaktif biasanya ketika berada di rumah. Oleh karena itu, Anda tetap harus menjaga pola makan dengan konsumsi makanan yang bergizi seimbang untuk menjaga nutrisi. Batasi camilan dengan gula dan lemak yang tinggi, minum lebih banyak air.

nutrisi COVID-19

5. Menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat melalui sarana komunikasi

Terutama bila Anda tinggal sendirian, menjaga agar komunikasi bersama orang-orang terkasih tetap terjalin sangatlah penting. Tak hanya membantu mengurangi rasa kesepian, bercerita tentang keluh kesah atau hal-hal yang Anda rasakan ketika mengalami cabin fever mungkin dapat mengurangi beban di hati Anda.

Masa-masa karantina di rumah dapat menjadi kesempatan untuk menjalin kembali tali silahturahmi yang sempat terputus, atau semakin mendekatkan Anda dengan orang-orang di sekitar.

Baik lewat media sosial atau melalui sambungan telepon, manfaatkan sarana yang bisa menghubungkan Anda dengan orang lain.

Anda juga bisa mengatur jadwal untuk grup obrolan bersama teman-teman melalui telepon video. Cobalah sesekali untuk melakukan kegiatan bersama secara virtual seperti mencoba resep masakan yang baru atau berlatih yoga.

Yoga Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan COVID-19

Jika Anda merupakan salah satu yang mengalami hal ini, ingatlah bahwa cepat atau lambat semua ini akan berlalu. Terkadang, Anda hanya butuh menerima keadaan yang sedang terjadi saat ini untuk merasa lebih tenang.

Tetaplah waspada dengan keadaan diri dan selalu menjaga kesehatan. Bila gejala cabin fever yang Anda rasakan semakin memburuk, segera hubungi profesional kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog untuk mendapatkan jalan keluarnya bersama.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hidup Berdampingan dengan COVID-19, Simak Panduan ‘New Normal’ dari BPOM Ini

Ajakan pemerintah yang meminta untuk berdamai dengan COVID-19 disertai dengan rilisnya panduan new normal dari BPOM. Simak isinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

WHO: COVID-19 Akan Jadi Penyakit Endemi, Apa Artinya?

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan COVID-19 kemungkinan tidak akan hilang dan akan berubah menjadi penyakit endemi. Apa maksudnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 27/05/2020

Gejala COVID-19 pada Anak Disebut Mirip dengan Penyakit Kawasaki

Beberapa gejala COVID-19 memang diketahui mirip dengan gejala penyakit lain, salah satunya penyakit Kawasaki pada anak. Apakah keduanya berhubungan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 24/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

herd immunity swedia covid-19

Bukan Lockdown, Swedia Andalkan Herd Immunity untuk Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
berat badan naik saat karantina

Berat Badan Naik Jadi Efek Serius Selama Karantina

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020
Bayi terinfeksi COVID-19

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020
antibodi sars untuk covid-19

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020