Kena Rheumatoid Arthritis Saat Muda, Apakah Harus Menjalani Pengobatan Selamanya?

Rheumatoid arthritis adalah salah satu jenis penyakit rematik yang kerap ditandai dengan munculnya nyeri dan kaku pada jari serta pergelangan tangan. Kebanyakan kasus penyakit rheumatoid arthritis biasanya dialami oleh orang dewasa. Meski begitu, penyakit autoimun ini juga bisa dialami oleh remaja yang notabene masih berusia muda. Untuk lebih jelasnya, saya akan mengulas lebih dalam mengenai rheumatoid arthritis pada remaja.

Mungkinkah rheumatoid arthritis terjadi pada remaja?

Rheumatoid arthritis, atau disingkat RA, adalah penyakit rematik autoimun yang dapat menyebabkan peradangan pada sendi tubuh. Penyakit ini memang umumnya dialami oleh wanita, dengan gejala awal biasanya muncul di usia 30-40 tahun. 

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan rheumatoid arthritis juga bisa terjadi pada laki-laki, anak-anak, bahkan remaja. Sama halnya seperti rheumatoid arthritis pada orang dewasa, penyebab RA pada remaja juga belum diketahui secara pasti. 

Interaksi antara faktor genetik dan lingkungan diduga menjadi pencetus timbulnya rheumatoid arthritis ini. Secara rincinya, molekul HLA-DR 4 merupakan genetik yang turut andil sebagai penyebab rheumatoid arthritis, termasuk pada remaja. 

Sedangkan faktor lingkungan yang berperan dalam penyakit rheumatoid arthritis yakni merokok, hormon estrogen, infeksi bakteri, virus, dan mikrobakteria. 

Orang yang memiliki molekul HLA-DR 4 di dalam tubuhnya berisiko 4-5 kali lebih besar untuk terkena RA, dibandingkan orang yang tidak punya molekul genetik tersebut. 

Samakah gejala rheumatoid arthritis pada remaja dengan orang dewasa?

Pada dasarnya, gejala rheumatoid arthritis yang terjadi di usia muda, seperti pada anak-anak dan remaja, sama saja dengan orang dewasa. Anda biasanya akan mengeluhkan sendi yang terasa nyeri, kaku, bahkan bengkak, terutama di bagian jari dan pergelangan tangan. 

Gejala RA berupa rasa nyeri dan kaku pada tangan sebenarnya bisa muncul kapan pun. Namun, keluhannya biasanya paling sering terjadi pada pagi hari. Setelah melakukan berbagai aktivitas fisik, seperti menyapu, mencuci, dan lainnya, gejala RA tersebut bisa segera membaik. 

Lambat-laun, nyeri, kaku, dan bengkak tidak hanya menyerang tangan. Keluhan tersebut bisa berkembang sampai ke lutut, pergelangan kaki, bahu, siku, maupun leher. 

Apakah rheumatoid arthritis pada remaja bisa disembuhkan?

Rheumatoid arthritis pada remaja tidak bisa disembuhkan, sehingga akan terus terbawa sampai dewasa. Meski begitu, pengobatan sedini mungkin harus segera diberikan guna mencegah terjadinya cacat sendi yang lebih parah di kemudian hari. 

Selain itu, tujuan pengobatan rheumatoid arthritis sejak muda yaitu mengurangi peradangan sendi, mengatasi nyeri, serta mencegah kerusakan sendi permanen.

Dengan begitu, remaja tetap dapat beraktivitas normal seperti teman-teman seusianya, sekaligus mencegah munculnya komplikasi jangka panjang dari RA. Meliputi masalah kardiovaskular seperti stroke dan serangan jantung.

Apa saja pengobatan rheumatoid arthritis pada remaja?

Penyebab dan gejala rheumatoid arthritis pada remaja boleh sama dengan orang dewasa. Namun, pengobatan yang didapatkan remaja umumnya berbeda dengan orang dewasa. 

Baik itu dari segi pemilihan jenis obat, maupun dosis obat yang diberikan. Adanya perbedaan pengobatan pada masing-masing pasien RA ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti:

  • Tingkat keparahan penyakit.
  • Kondisi tubuh dan penyakit yang dimiliki.
  • Riwayat pengobatan sebelumnya. 
  • Respon pengobatan. Ada yang gejalanya bisa membaik hanya dengan minum satu jenis obat dengan dosis kecil, tapi ada juga yang butuh kombinasi beberapa jenis obat.
  • Efek samping pengobatan berbeda. Ada yang minum dosis maksimal tapi tidak mengalami efek samping, tapi ada juga yang mengalami efek samping meski hanya minum dosis kecil.

Secara khususnya, ada beberapa jenis obat yang bisa diberikan untuk pasien rheumatoid arthritis, termasuk pada remaja. Pertama yakni, DMARD (Disease-modifying antirheumatic drug), dan kedua yakni biologik agent. 

DMARD adalah golongan obat yang bertugas untuk memperlambat perkembangan penyakit, sekaligus mencegah sendi dari cacat dan kerusakan permanen. Contoh obat ini meliputi metotreksat, sulfasalasin , hidroksikloroquin, lefluonamid dll.

Sementara biologik agent adalah golongan obat yang disuntikkan atau diinfuskan ke dalam tubuh. Obat ini dapat memberikan efek pengobatan yang lebih cepat ketimbang DMARD. Contoh obat ini meliputi adalimumab, golimumab, toxilizumab, etanercept, infliximab, certolizumab, dll.

Di samping membantu meredakan nyeri pada sendi, kedua jenis obat tersebut juga dapat mencegah terjadi kerusakan atau cacat sendi. 

Apakah pengobatan rheumatoid arthritis harus dilakukan selamanya?

Ya, pengobatan rheumatoid arthritis, pada anak, remaja, maupun dewasa harus dilakukan seumur hidup. RA memang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tapi penyakit ini masih bisa dikendalikan. 

Cara utamanya yaitu dengan melakukan pengobatan secara rutin, sehingga pasien rheumatoid arthritis bisa masuk ke fase remisi. Fase remisi adalah suatu kondisi ketika gejala penyakit rheumatoid arthritis berada dalam keadaan stabil. 

Mudahnya, remaja yang sedang fase remisi pada rheumatoid arhtritis tidak mengalami nyeri sendi, bengkak, serta laju endap darahnya normal. Itu sebabnya, pengobatan RA sangat penting untuk diberikan sedini mungkin. 

Meski tidak dapat menyembuhkan penyakit autoimun ini sepenuhnya, tapi pengobatan yang tepat setidaknya dapat mengontrol perkembangan penyakit. Alhasil, kualitas hidup remaja yang memiliki rheumatoid arthritis pun bisa lebih baik. 

dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR Spesialis Penyakit Dalam, subspesialis Reumatologi

dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR, atau akrab disapa dengan dr. Sandra merupakan dokter spesialis penyakit dengan peminatan alias subspesialisasi reumatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sebagai konsultan reumatologi, sehari-harinya, dr. Sandra bekerja menangani kondisi reumatik autoimun, seperti rheumatoid arthritis (RA), lupus, sindrom Sjorgen, ankylosing spondylitis, dan vaskulitis.

 

Saat ini, dr. Sandra berpraktik di Siloam Hospital Lippo Village (RS Siloam Karawaci) setiap hari Senin sampai dengan Jumat. dr. Sandra juga telah menerbitkan bukunya yang berjudul A to Z Penyakit Rematik Autoimun.

Selengkapnya
Artikel Terbaru