Mengenal Vasodilator Periferal?

Oleh

Vasodilator periferal digunakan pada pengobatan hipertensi, infraksi miokardial akut, dan gagal jantung. Misalnya, penyakit arteri periferal dan fenomena Raynaud. Vasodilator periferal melegakan gejala-gejala kondisi ini dengan melebarkan pembuluh darah dan mencegah penyempitan pembuluh darah. Obat-obatan ini biasanya hanya diresepkan setelah upaya pertolongan diri sendiri telah dicoba dan gejala tidak membaik. Ada beberapa vasodilator periferal termasuk cilostazol, inositol nicotinate, moxisylyte, naftidrofuryl, pentoxifylline dan nifedipine.

Vasodilator periferal bekerja dengan cara yang sedikit berbeda dari satu dan lainnya.

Cilostazol dan inositol nicotinate

Cilostazol dan inositol nicotinate melebarkan arteri yang menyuplai darah ke kaki. Cilostazol juga memperbaiki sirkulasi dengan menjaga platelet dalam darah tidak menempel dan kemudian menyumbat.

Naftidrofuryl

Naftidrofuryl melebarkan pembuluh darah untuk memperbaiki aliran darah ke area-area ini dan memungkinkan tubuh untuk memakai oksigen dalam darah Anda.

Nifedipine

Nifedipine adalah sebuah jenis obat yang disebut calcium channel blocker. Obat ini terkadang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, namun obat ini juga merupakan vasodilator periferal. Obat ini bekerja dengan melebarkan pembuluh darah dan mencegahnya kejang atau menyempit.

Moxisylyte

Moxisylyte adalah sejenis obat yang disebut alpha blocker yang bekerja dengan melonggarkan pembuluh darah, yang kemudian menjaga suplai darah ke jari tangan, jari kaki, telinga, atau hidung.

Pentoxifylline

Pentoxifylline bekerja dengan mengurangi kekentalan darah. Darah kemudian dapat mengalir lebih mudah, khususnya pada pembuluh darah kecil pada tangan dan kaki.

Apa peranan vasodilator periferal pada pengobatan penyakit kardiovaskular?

Belum ada bukti yang menunjukkan vasodilator periferal menghasilkan kemajuan yang signifikan pada toleransi fisik pada pasien dengan penyakit vaskuler periferal, dan obat-obatan ini dapat menjadi berbahaya. Meskipun demikian, pada pengobatan sindrom Raynaud berat,  penggunaan thymoxamin, prazosin, atau nifedipine disarankan. Sebuah studi deskriptif dilakukan, pertama, untuk mengetahui mengapa obat-obatan ini diresepkan pada praktek umum, dan kedua, untuk menjelaskan beberapa pilihan obat apda pengobatan sindrom Raynaud dan penyakit vaskular periferal dalam sampel representatif dari 22 praktek di utara Irlandia.

Dari pasien-pasien tersebut yang diresepkan vasodilator periferal, 69.6 % didiagnosis sebagai penyakit vaskular periferal, claudication atau atherosclerosis. Lebih dari ¾ vasodilator periferal yang diresepkan berupa resep berkelanjutan. Pada penderita sindrom Raynaud, hanya setengah yang terobati dengan baik, dan kepastian diagnosis tidak menjamin pengobatan yang cocok. Vasodilator periferal merupakan sebagian besar (51.5%) dari obat yang diresepkan untuk penyakit vaskular periferal. Sebagian kecil dari pasien dengan penyakit vaskular periferal (20.3%) diresepkan aspirin, dan sebagian kecil lagi (4.4%) diamputasi. Vasodilator periferal diresepkan walaupun tidak diperlukan dan tidak cocok. Upaya untuk mendorong pengobatan berdasarkan bukti dari sindrom Raynaud dan penyakit vaskular periferal pada praktek umum harus dilakukan.

Selalu konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menggunakan vasodilator periferal. Beri tahu dokter apabila Anda sedang hamil, merencanakan kehamilan atau sedang menyusui.

Share now :

Direview tanggal: Januari 1, 1970 | Terakhir Diedit: Maret 5, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca