Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Popok Buat Anak Sulit Berjalan? Mitos atau Fakta?

Popok Buat Anak Sulit Berjalan? Mitos atau Fakta?

Popok menjadi barang yang selalu ada bersama bayi. Anda memakaikan popok pada si kecil dengan tujuan agar ia tidak buang air sembarangan. Penggunaan popok juga mempermudah pekerjaan Anda dalam merawat bayi. Namun, Anda mungkin menemukan pendapat bahwa popok buat anak sulit berjalan. Benarkah demikian?

Benarkah popok buat anak sulit berjalan?

meningkatkan imun anak

Mungkin Anda sering mendengar pendapat bahwa pakai popok membuat anak sulit berjalan. Ternyata hal ini benar adanya.

Bukan hanya menyebabkan ruam popok, ibu juga perlu tahu bahwa penggunaan popok dalam waktu lama dapat menyulitkan bayi untuk belajar berjalan. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh New York University.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 60 bayi usia 13 bulan sampai 19 bulan. Bayi-bayi tersebut kemudian diteliti cara berjalannya saat ia telanjang, memakai popok kain, dan memakai popok sekali pakai.

Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa popok menimbulkan gangguan di antara kaki sehingga membuat anak sulit berjalan. Popok dapat mempengaruhi pergerakan kaki, keseimbangan, dan posisi anak saat belajar berjalan.

Meskipun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang hal ini. Serta perlu diteliti pula bagaimana pengaruh penggunaan popok dalam jangka panjang.

Namun untuk berhati-hati, sangat disarankan agar ibu membatasi pemakaian popok jika bayi sudah memasuki usia 9 bulan, yaitu usia di mana ia sudah mulai belajar berjalan.

Hal ini untuk mengantisipasi agar popok tidak menghambat tumbuh kembangnya. Cukup pakaikan popok di saat tertentu saja misalnya saat bepergian.

Tips memilih popok untuk anak yang belajar berjalan

lergi susu sapi pada bayi

Jika harus memakaikan popok, Anda bisa mencoba tips-tips berikut agar mencegah popok membuat anak sulit berjalan.

1. Pakaikan ukuran popok yang tepat

Setiap popok baik popok sekali pakai maupun popok kain memiliki ukurannya masing-masing. Pilihlah ukuran yang pas buat anak agar ia merasa nyaman.

Popok yang terlalu sempit akan menyebabkan iritasi pada lipatan paha dan pinggang anak, menggores kulit si kecil, bahkan mengganggu peredaran darahnya.

Sementara popok yang terlalu longgar bisa bocor dan membuat ganjalan yang terlalu besar di antara kedua paha. Akibatnya, anak menjadi sulit berjalan dengan baik.

Saat memilih ukuran popok, sebaiknya Anda tidak terpaku pada usia atau berat badan bayi. Meskipun berat badan sama, bisa jadi ukuran lingkar pinggang atau lingkar paha anak berbeda. Agar ukurannya yang pas, sebaiknya ukurlah tubuh si kecil terlebih dahulu.

Selain itu, Anda juga sebaiknya tidak mengacu pada size yang tertera pada kemasan, seperti S, M, L, atau XL. Ini karena setiap merek popok biasanya memiliki standar ukuran yang berbeda-beda satu sama lain.

2. Pilihlah popok yang berdaya serap tinggi

Popok kain memang lebih ramah lingkungan tetapi belum tentu ramah untuk kulit si kecil. Ini karena daya serap popok kain cenderung lebih rendah daripada popok sekali pakai.

Faktor daya serap ini sebaiknya tidak Anda abaikan. Jika popok tidak menyerap dengan baik, area di sekitar bokong dan kemaluan si kecil akan lembab sehingga memicu pertumbuhan jamur dan bakteri.

Oleh karena itu, untuk mencegah agar popok tidak membuat anak sulit berjalan dan mengganggu kenyamanannya, sebaiknya Anda memilih popok berdaya serap tinggi.

3. Pertimbangkan kualitas bahan popok

Jika kualitas bahannya kurang baik, daya serap popok cenderung rendah. Akibatnya, popok menjadi cepat penuh dan membesar ukurannya saat menampung air pipis.

Popok yang terlalu mengembang akan mengganggu pergerakan kaki sehingga membuat anak sulit berjalan. Oleh karena itu, pilihlah popok dengan kualitas bahan yang baik.

Bukan hanya itu, bahan yang berkualitas juga lebih lembut sehingga tidak menyebabkan iritasi pada kulit bayi.

4. Pilihlah popok model celana

Saat belajar berjalan, bayi menjadi sangat aktif. Popok berperekat akan lebih mudah bergeser saat ia beraktivitas.

Selain menyebabkan bocor, gesekan pada perekat juga dapat melukai kulit si kecil. Hal ini juga berisiko alergi jika bahan lem yang digunakan tidak cocok untuk kulitnya. Oleh karena itu, lebih dianjurkan memakaikan popok model celana pada bayi yang aktif.

Selain itu, model popok celana juga cenderung lebih memudahkan pergerakan sehingga tidak membuat anak sulit berjalan.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cole, W., Lingeman, J., & Adolph, K. (2012). Go naked: diapers affect infant walking. Developmental Science, 15(6), 783-790. doi: 10.1111/j.1467-7687.2012.01169.x

Munjiati, M., Fitriyani, A., & Walin, W. (2017). The Effect of Disposable Water (Diaper) Usage Toward Toilet Training Behavior In Pre-School Children. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 13(2). doi: 10.15294/kemas.v13i2.7242

Diaper rash – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 15 June 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diaper-rash/symptoms-causes/syc-20371636

NEJM Journal Watch: Summaries of and commentary on original medical and scientific articles from key medical journals. (2015). Retrieved 16 June 2021, from https://www.jwatch.org/na36936/2015/02/19/tape-reactions

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 21/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x