Perhatikan, Begini Cara Menyimpan Kentang Agar Awet dan Tak Cepat Busuk

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 31/08/2018 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Kentang adalah salah satu sumber karbohidrat baik penyuplai energi tubuh. Kentang sering dijadikan sebagai lauk makan karena mudah diolah menjadi berbagai masakan. Untuk menghasilkan olahan kentang yang baik, tidak hanya proses masaknya yang harus Anda perhatikan, tapi juga penyimpanannya. Lantas, seperti apa cara menyimpan kentang yang tepat untuk menjaga daya simpannya?

Simpan di tempat kering dan jauh dari sinar matahari

Kentang sebaiknya disimpan di tempat yang tidak terlalu dingin, sejuk tapi kering, dan sirkulasi udaranya baik. Maka itu, hindari menyimpan kentang di kulkas. Sebagai gantinya Anda bisa meletakkan kentang dalam wadah khusus di dapur.

Tujuannya untuk menjaga agar rasa alami kentang tidak mudah berubah, sekaligus menunda pembentukkan kecambah pada kulit kentang sebagai tanda awal pembusukkan. Penyimpanan kentang di suhu yang lebih rendah juga membantu menjaga kandungan vitamin C di dalamnya.

Selain itu, cara menyimpan kentang lainnya yang harus Anda perhatikan adalah dengan menjauhkan kentang dari paparan sinar matahari. Sebuah penelitian yang dimuat dalam Critical Reviews in Food Science and Nutrition, menyatakan bahwa paparan sinar matahari langsung bisa menghasilkan zat kimia beracun yang disebut solanine.

Selain menimbulkan rasa pahit saat dimakan, solanine tergolong beracun bila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

manfaat kentang untuk kecantikan

Jangan ditaruh di wadah yang tertutup rapat

Sebisa mungkin, hindari menyatukan tempat penyimpanan kentang bersama dengan buah atau sayuran lainnya, seperti pisang, apel, bawang, serta tomat.

Pasalnya, buah dan sayuran yang telah matang ini akan menghasilkan gas etilena guna membantu melunakkan dan meningkatkan kadar gula dalam produk pangan tersebut. Jika disimpan dalam wadah yang sama, maka buah dan sayur matang bisa mempercepat proses pembusukkan kentang.

Di sisi lain, Anda bisa menyimpan kentang dalam paper bag atau wadah terbuka untuk memastikan kentang mendapat udara yang baik guna mencegah terjadinya pembusukan yang lebih cepat.

Maka, jangan menyimpan kentang dalam wadah tertutup, misalnya kantung plastik atau tempat penyimpanan makanan dengan tutup rapat. Kondisi ini bisa menghambat sirkulasi udara, yang kemudian akan memicu pertumbuhan jamur dan bakteri pada kentang.

alergi kentang

Cara menyimpan kentang yang sudah dikupas tidak sama dengan yang masih segar

Kentang segar yang masih diselimuti dengan kulitnya tidak boleh langsung Anda cuci. Mencuci kentang beserta kulitnya justru bisa menciptakan kondisi lembap yang mendorong tumbuhnya jamur dan bakteri.

Meski terlihat kotor dan penuh dengan tanah, biarkan kentang tetap dalam kondisi tersebut sampai siap untuk diolah dan dibersihkan.

Nah, lain lagi aturannya untuk menyimpan kentang yang telah dikupas dan dibersihkan dari kulitnya. Dalam kondisi ini, biasanya kentang akan lebih mudah menghitam saat terpapar dengan udara bebas.

Hal ini dipicu oleh kandungan polifenol oksidase dalam kentang yang akan bereaksi dengan oksigen, sehingga bisa mengubah daging kentang menjadi berwarna kecokelatan atau keabu-abuan. Untuk mencegahnya, Anda bisa merendam kentang dalam baskom berisi air.

Penting untuk diingat, teknik ini hanya dapat digunakan untuk kentang yang akan dimasak pada hari yang sama. Sebab jika dibiarkan berada dalam air selama lebih dari 24 jam, kentang akan menyerap air dalam jumlah banyak sehingga mengubah rasa alaminya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tak Hanya Mudah Diolah, Intip 7 Kebaikan Kentang Bagi Kesehatan

Ternyata, kentang memiliki segudang manfaat dalam tubuh, bukan hanya lezat. 7 manfaat kentang ini sangat penting bagi tubuh yang sayang untuk dilewatkan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Nutrisi, Hidup Sehat 27/06/2018 . Waktu baca 5 menit

Singkong vs Kentang: Mana Sumber Karbohidrat yang Lebih Sehat?

Singkong dan kentang adalah jenis umbi-umbian yang kaya karbohidrat. Bila ingin digunakan sebagai pengganti nasi, kira-kira mana yang lebih sehat, ya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Nutrisi, Hidup Sehat 01/06/2018 . Waktu baca 4 menit

3 Kreasi Menu Sahur dari Kentang yang Bikin Tubuh Bertenaga Seharian

Kentang merupakan salah satu bahan makanan yang bisa diolah menjadi beragam sajian melezatkan.Berikut berbagai resep olahan kentang untuk menu sahur Anda.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hari Raya, Ramadan 28/05/2018 . Waktu baca 5 menit

Kenapa Bisa Ada Orang yang Alergi Kentang?

Kacang, seafood, dan susu adalah makanan yang paling umum menyebabkan alergi. Namun ternyata, ada segelintir orang yang alergi kentang! Apa sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Alergi & Penyakit Autoimun, Alergi, Health Centers 20/12/2017 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

resep buka puasa dari kentang

5 Pilihan Resep Olahan Kentang untuk Sajian Berbuka Puasa

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020 . Waktu baca 6 menit
makan nasi dengan kentang

Makan Nasi dengan Kentang dalam Satu Piring, Apa Efeknya Bagi Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 29/01/2020 . Waktu baca 4 menit
pengganti nasi

Jagung Vs. Kentang: Mana yang Lebih Baik untuk Pengganti Nasi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 19/12/2018 . Waktu baca 3 menit
sayuran nightshade

Jenis Sayuran Ini Katanya Bisa Memicu Radang, Hoaks Atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 25/07/2018 . Waktu baca 4 menit