Jangan Membuang Obat Kedaluwarsa Sembarangan! Ini Cara yang Benar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24/01/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Obat memainkan peran penting dalam mengobati berbagai kondisi dan penyakit, namun saat Anda tidak lagi membutuhkan obat-obatan tersebut, penting untuk membuangnya dengan benar untuk membantu mencegah obat tercampur-baur dengan satu sama lain.

“Obat-obatan yang terlalu lama disimpan mungkin sudah melewati setengah dari batas waktu pemakaian mereka, menyebabkan mereka tidak lagi bekerja dengan efektif,” ujar Kimberly Cimarelli, manajer farmasi di Penn State Milton S. Hershey Medical Center, dilansir dari WebMD.

Selain itu, komposisi kimia dalam obat dapat berubah seiring waktu, membuatnya berbahaya jika dikonsumsi melewati masa pakainya.

Namun, bagaimana cara membuang obat kedaluwarsa yang benar? Mungkin tampak mudah untuk mengguyur obat-obatan bekas ke dalam toilet atau membuangnya di tempat sampah bersama sampah rumah tangga lainnya. Ini bukan ide yang baik.

Obat-obatan yang dibuang ke dalam toilet akan larut dalam air dan mencemari sungai, danau, dan persediaan air bersih. Membuang obat kedaluwarsa di tempat sampah juga dapat membahayakan lingkungan, dan masih dapat ditemukan oleh anak-anak, hewan peliharaan — dan bahkan orang dewasa yang sengaja ingin menyalahgunakan obat-obatan.

Di bawah ini, kami memberikan beberapa rekomendasi dan instruksi khusus untuk Anda pertimbangkan saat membuang sisa obat-obatan kedaluwarsa, bekas, atau yang tidak lagi digunakan.

1. Titipkan obat-obatan kedaluwarsa kepada instansi resmi

Kumpulkan obat-obatan yang sudah tak terpakai. Setelah agak banyak, bawa ke instansi resmi terdekat, seperti pabrik obat, apotik, rumah sakit, atau kantor polisi yang bertanggung jawab untuk menangani pembuangan obat secara resmi.

Pihak-pihak tersebut akan melakukan pemusnahan rutin terhadap stok obat yang sudah kedaluwarsa. Setelah dikumpulkan, obat-obatan kedaluwarsa ini akan dibakar untuk melindungi lingkungan sekitar dari pencemaran obat.

Mereka menerima obat-obatan resep dan non-resep, namun biasanya tidak akan menerima benda-benda tajam (seperti jarum suntik bekas), obat cair, krim dan salep, serta obat hirup.

Selain itu, Anda juga dapat menghubungi Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota atau kabupaten tempat tinggal Anda, atau otoritas pengelolaan sampah lokal untuk mendapatkan informasi mengenai pilihan cara membuang obat kedaluwarsa di daerah Anda.

2. Membuang sampah di rumah

Dilansir dari Food and Drugs Administration (FDA), jika tidak ada program penitipan obat-obatan bekas resmi yang tersedia di wilayah tempat tinggal Anda, Anda dapat mengikuti langkah-langkah sederhana di bawah ini untuk membuang beberapa obat-obatan di tempat sampah rumah tangga:

Pertama, campur obat-obatan (namun jangan menggerus tablet maupun membuka isi kapsul) dengan substansi menjijikan, misalnya sampah makanan, debu, kotoran hewan peliharaan, atau ampas kopi. Ini untuk membuat obat-obatan ini tidak sedap dipandang mata guna menghindari anak-anak dan hewan peliharaan Anda untuk mengobrak-abrik tempat sampah, juga menghalangi orang-orang asing yang mungkin sengaja mencari obat untuk mereka gunakan sendiri.

Kedua, masukkan campuran sampah tersebut ke dalam tempat khusus seperti wadah kedap udara atau zip-top (namun jangan gunakan kantung plastik kresek) untuk menghindari kebocoran, dan taruh wadah tersebut di tempat sampah Anda.

Ketiga, sebelum membuang botol obat atau kemasan obat kosong lainnya, selalu rusak tampilan fisiknya. Cabut atau coret stiker kemasan yang berisi data pribadi Anda, jika ada, dan gunting kemasan karton untuk membuatnya sulit dibaca. Hal ini bertujuan untuk mencegah pemalsuan kemasan atau isi ulang ilegal, karena bisa saja botol obat berstiker diambil oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dan selanjutnya diisi oleh obat palsu.

3. Membuang obat kedaluwarsa di toilet

Beberapa obat resep yang mengandung zat yang dikendalikan, seperti opiat (fentanyl, morfin, diazepam, oxycodone, buprenoprhine) tidak boleh dibuang langsung ke dalam tempat sampah, karena metode ini mungkin masih memberikan kesempatan bagi anak atau hewan peliharaan untuk secara tidak sengaja menelan obat-obatan tersebut.

Ada baiknya untuk teliti kembali sebelum benar-benar membuang Beberapa obat-obatan lainnya — seperti obat-obatan kemoterapi — dilengkapi dengan petunjuk pembuangan khusus beserta lokasi dimana Anda harus membuangnya.

Jika Anda tidak dapat menemukan tempat pembuangan resmi, direkomendasikan untuk membuang obat-obatan seperti di atas dengan mengguyurnya ke dalam toilet segera setelah mereka tidak lagi digunakan.

Misalnya, Anda menggunakan koyo fentanyl untuk meredakan nyeri kronis. Segera remas koyo bekas dan sisa koyo lainnya dalam kemasan yang sudah tidak lagi dibutuhkan, dan siram ke dalam toilet. Saat Anda membuang obat-obatan bersubstansi keras seperti ini, Anda akan membantu orang lain di sekitar Anda tetap aman dengan memastikan bahwa obat-obatan tersebut tidak bisa lagi digunakan atau tidak sengaja tertelan dan menyebabkan celaka.

Namun, beberapa tenaga pelayanan kesehatan dan ilmuwan tampak kurang setuju dengan metode ini atas alasan keamanan lingkungan. Namun, FDA berargumen bahwa obat-obatan seperti ini bisa berakibat sangat fatal hanya dengan satu dosis saja bagi orang awam yang tidak seharusnya mengonsumsinya.

“Kami percaya bahwa risiko ini jauh melebihi potensi risiko terhadap kesehatan manusia atau lingkungan yang mungkin berasal dari pembuangan obat-obatan kedaluwarsa di toilet,” ujar FDA, dikutip dari CNN.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Kandung Kemih bagi Pria dan Wanita?

    Hati-hati, tidak menjaga kesehatan kandung kemih membuat Anda rentan kena berbagai gangguan sistem kemih seperti infeksi saluran kencing hingga kanker.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Urologi, Kandung Kemih 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit

    5 Ramuan Alami Terbaik untuk Mengatasi Rambut Kering

    Rambut kering memang bikin penampilan terlihat kusam. Mari simak cara mengatasi rambut kering menggunakan 5 bahan alami pada penjelasan di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Perawatan Rambut & Rambut Rontok, Hidup Sehat 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

    Tips Menghadapi Kecemasan Kembali Beraktivitas di Era New Normal

    Wajar jika merasa khawatir terhadap ketidakpastian di tengah pandemi COVID-19. Yuk, cari tahu solusi menghadapi kecemasan di new normal di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Konten Bersponsor
    menghadapi kecemasan di new normal
    Hidup Sehat, Tips Sehat 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit

    Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

    Nutrisi memegang peranan yang besar untuk mencegah kemungkinan risiko COVID-19. Yuk, cari tahu nutrisi utama yang perlu ditambahkan dalam menu harian Anda.

    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara menghilangkan varises dengan skleroterapi

    Sering Menggoyang-goyangkan Kaki Saat Tidur? Ini Penyebabnya

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 3 menit
    sering kencing di malam hari

    7 Cara Mengatasi Sering Buang Air Kecil yang Mengganggu

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
    nokturia adalah

    Nokturia, Penyebab Sering Buang Air Kecil pada Malam Hari

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
    obat anyang-anyangan

    Ragam Obat dan Pengobatan untuk Mengatasi Anyang-anyangan

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 8 menit