Pelaku pelecehan seksual selalu memiliki cara untuk memanipulasi calon korbannya. Baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi korban pelecehan seksual. Namun, perempuan paling banyak menjadi target pelecehan seksual dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, penting bagi perempuan untuk mengetahui apa saja trik yang biasanya dilakukan oleh para pelaku pelecehan seksual.

Apa yang dimaksud dengan pelecehan seksual?

Pelecehan seksual adalah perilaku atau perhatian yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan tidak dikehendaki yang akan mengganggu korban. Pelecehan seksual biasanya mencakup pemaksaan untuk melakukan kegiatan seksual, menunjukkan alat kelamin pelaku pada korban secara paksa, hingga ucapan atau perilaku yang berkonotasi seksual.

Jika dibiarkan, pelecehan seksual bisa mengarah pada hal yang lebih serius yakni kekerasan seksual seperti perkosaan.

Trik yang dilakukan pelaku pelecehan seksual untuk memanipulasi korban

1. Menjebak korban 

Hal pertama yang akan dilakukan oleh para penjahat seksual ialah mencari tempat sepi agar ia dan korban bisa berduaan untuk memudahkan aksinya. Di sinilah biasanya pelaku akan mengintimidasi dan menyudutkan korban. Hal tersebut dilakukan bisa dengan cara mengajak  ke tempat sepi, sengaja mengadakan pertemuan di kamar hotel, atau sekadar mampir ke rumah calon korbannya dengan dalih ada sesuatu yang tertinggal atau ingin dibicarakan.

Intinya hal ini bertujuan untuk membuat korban dalam kondisi sendirian. Serangan selanjutnya yaitu mulai mendekati korban dengan memegang bagian tubuhnya. Bisa juga pelaku menghalangi jalan korban dan menggunakan badannya untuk lebih menyudutkan korban.

Hati-hati jika ada orang yang menggiring Anda pada kondisi di atas. Usahakan menolak ajakannya, terlebih jika orang tersebut tidak Anda kenal. Pastikan Anda berada dalam situasi yang ramai agar pelaku tidak memiliki kesempatan untuk melancarkan serangan tertentu pada Anda yang mungkin mengarah pada pelecehan seksual. 

2. Meyakinkan korban kalau tindakannya itu wajar

Strategi manipulasi yang paling umum dilakukan oleh para pelaku pelecehan seksual ialah meyakinkan korban kalau hal-hal yang dilakukannya, misalnya menyentuh payudara atau bagian tubuh korban lainnya adalah hal yang wajar. Misalnya dengan berkata, “Di mana-mana pacaran itu, ya, begini!” atau, “Kok, kamu melawan? Semua orang yang bekerja dengan saya itu memang biasa melakukan hal ini dengan saya.” 

Hal ini akan mendorong korban untuk sulit menolak karena berpikir mungkin ini memang hal yang normal. Padahal kenyataannya, korban telah termakan oleh manipulasi sang pelaku.

Perlu diingat bahwa tubuh Anda sepenuhnya milik Anda. Tidak ada satupun orang yang berhak menyentuh tubuh Anda tanpa seizin Anda.

3. Membuat korban merasa bersalah

Pelaku pelecehan seksual biasanya senang membuat korbannya merasa bersalah. Misalnya pelaku dan korban pulang larut malam berdua. Hal ini bisa dimanfaatkan pelaku yang mengantarkan korban pulang sebagai imbalan dan justru menuduh korban yang berinisiatif dengan minta diantarkan pulang. Padahal, dalam situasi apa pun pelecehan seksual tidak bisa dibenarkan dan satu-satunya yang bersalah yaitu si pelaku, bukan korban. 

Selain itu, pelaku pelecehan seksual juga senang membuat korbannya merasa berhutang bantuan padanya. Contohnya karena dia mentornya atau orang yang memberi pekerjaan padanya. Dengan begitu, kesempatan untuk menuruti permintaan sang pelaku lebih besar.

4. Menolak jawaban “tidak”

Para pelaku pelecehan seksual biasanya memiliki kegigihan untuk membujuk korban untuk melakukan apa yang diinginkannya dengan cara yang halus dan terkesan sopan. Walaupun sudah ditolak berkali-kali, biasanya pelaku akan terus berusaha untuk mendapatkannya. Pelaku tidak akan cepat menyerah hanya karena beberapa penolakan, karena dalam kamus para pelaku tidak ada kata “tidak”. Mereka akan terus mencari cara agar korban mau dan mengiyakan permintaannya meski terpaksa.

Jika Anda ada dalam posisi ini, segera cari bantuan dan laporkan tindakan pelaku pada pihak yang berwenang. Baik itu manajer HRD, kepala sekolah, kepolisian, dan lainnya.

5. Ancaman atau godaan terselubung

Pelaku bisa menggunakan ancaman untuk membujuk calon korbannya. Misalnya mengancam akan menghancurkan karier atau reputasi korban jika menolak ajakannya. Bisa juga sebaliknya, pelaku menggunakan godaan demi mendapatkan wanita tersebut, misalnya menjanjikan kenaikan jabatan atau nilai ujian yang tinggi.

6. Minta korban untuk melakukan hal yang sepele dulu

Salah satu cara klasik untuk memanipulasi korban pelecehan seksual adalah dengan memintanya melakukan hal-hal yang terkesan sepele terlebih dahulu. Sebagai contoh, pelaku meminta korban untuk memijat bahunya. Bila korban bersedia, lama-lama pelaku akan meminta korban untuk memijat bagian tubuhnya yang lain, seperti di area kelamin. 

Karena tadinya korban sudah terlanjur menyetujui permintaan awal pelaku, akan sulit baginya untuk menolak permintaan selanjutnya dengan tegas. 

Perlu diingat bahwa pelaku pelecehan seksual bisa melakukan cara apapun agar tujuannya terpenuhi. Jadi, sebenarnya masih ada ratusan trik lain yang bisa dilakukan seorang pelaku pelecehan seksual untuk melancarkan aksinya. Karena itu, setiap kali Anda merasa tidak nyaman atau tidak aman, segera menyingkir dari situasi tersebut dan cari bantuan. 

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca